[Vignette] Anti-influenza Squad

fic - anti influenza squad

Anti-influenza Squad

Jinho & Bening

G – fluff, friendship, romance, sol.

“Kau tidak perlu sentimen seperti itu. Dasar kodok.”

**

O, for God’s sake.”

Bening mendengus. Ia tahu bahwa mengabari Jinho soal keadaannya hari ini adalah sebuah keputusan yang buruk. Sedikit banyak Bening merasa seperti orang bodoh, karena sempat berpikir bahwa Jinho akan muncul di kondominiumnya, membawa satu tas plastik berisi cemilan, makanan hangat buatannya sendiri—jujur saja, Bening sedang ingin makan bubur wortel masakan Jinho yang luar biasa lezat—dan menghiburnya sepanjang hari sampai ia merasa baikan. Tapi, tentu saja angan-angan itu harus lenyap saat Bening merasakan ponselnya di ranjang bergetar menandakan pesan masuk.

Susah payah ia menjangkau benda pipih itu dengan kakinya. Kendati kepalanya pening jika terkena terlalu banyak cahaya, ia menyipitkan mata untuk memastikan siapa pengirim kakao yang merusak rencananya untuk terlelap.

< dari: smol oppa

anti influenza squad HAHAHAHAHA >

 

Tentu saja, astaga. Ini jelas bukti balas dendam Jinho padanya karena lelucon teh hijau yang menurut Jinho—tentu saja—sama sekali tidak lucu. Ia sampai sakit perut. Tapi Bening tidak mau dibalas. Dia bukan tipikal orang yang suportif. Apalagi dia merasa tidak lagi bersalah karena sudah minta maaf.

Bening mencak-mencak. Ia melempar bantalnya. Jinho tahu kalau Bening diam-diam menaruh perhatian lebih pada Hongseok, jadi ia merasa bahwa balasan ini tidak setimpal. Ia kesal setengah mati. Apa sih, manfaatnya mengatakan pada Hongseok kalau dia sedang sakit? Apa sih maksudnya mengajak Hongseok untuk berfoto bersama dengan keterangan bahwa mereka tim anti flu? Sialan.

Bening menutup aplikasi kakao. Ia menggeser kontak untuk mencari nama Jinho. Cepat-cepat ia memutar sambungan.

Tak perlu menunggu lama, telepon itu terkait dan suara Jinho menyeruak dari seberang. “Apa? Kau mau protes?”

Bening berdecak kesal.

“Memangnya cuma kau yang bisa iseng?”

Bening mendesis. Hidungnya mampet, ia semakin kesal. “Kau tidak perlu sentimen seperti itu. Dasar kodok. Kau membuatku terbangun, tahu? Padahal aku sudah akan terlelap.”

Jinho tertawa kecil. “Jangan sebal begitu.”

Kalau saja Jinho ada di hadapannya, mungkin Bening akan melempar lelaki itu dengan bantal gudetama berukuran jumbo yang selama ini menemaninya tidur. Sayangnya, ia hanya mendengar suara Jinho. Padahal, mungkin laki-laki itu akan dengan senang hati menerima lemparan Bening. Lalu bertingkah seperti anak kecil yang diajak main perang-perangan, yang pada akhirnya, membuat Bening lupa soal kemarahannya.

“Suaramu parau sekali.” Jinho berkomentar. “Sudah ke rumah sakit?”

“Ini flu, aku hanya butuh istirahat lebih dan makan sesuatu yang enak dan hangat,” Bening berdeham, menekankan persuku kata. Jinho tergelak. Ia bukan tidak tahu apa yang Bening coba sampaikan padanya. “Dapat salam dari Hongseok.”

“Apa katanya?”

Jinho tertawa keras. “Kau langsung bersemangat begitu mendengar nama Hongseok.”

“Cerewet. Apa katanya?” ulang Bening. “Kau tidak bicara hal jelek tentangku kan, Jino?”

Lagi-lagi Jinho tak bisa mengatasi keinginannya untuk menertawakan Bening. Saat itu juga, Bening merasa bodoh karena sudah membiarkan Jinho tahu soal rahasianya mengenai Hongseok. “Berhentilah tertawa, dasar kodok.”

“Oke, oke.” Jinho meredakan tawa. “Dia bilang ‘dia pasti ingusan’ dan nyengir seperti kuda.”

“Brengsek kau, Jino. Mana mungkin Hongseok bicara begitu!” Bening menolak percaya. Menurutnya, kredibilitas ucapan Jinho saat ini lebih payah dari pada mulut ibu-ibu yang suka bergosip soal selebriti A berkencan dengan selebriti B atau kecurigaan terhadap grup idola C yang orientasi seksualnya dipertanyakan. Apalagi, Jinho bicara sambil terkikik-kikik seperti anak anjing yang ekornya terjepit pintu.

“Kenapa kau berpikir Hongseok tidak mungkin bicara seperti itu? Dia itu juga manusia, bisa bicara kotor, menjadi menyebalkan, menonton video porno, menggoda perempuan cantik, minum soju, pipis berdir—”

“—Hei, hei, hei.” Bening memotong.

Jinho tertawa.

“Aku akan mengergaji tenggorokanmu. Tunggu saja nanti kalau aku sudah sembuh. Supaya kau tidak bisa bernyanyi dan menggelandang karena tidak punya pekerjaan,” ancam Bening. Jinho mendesah, “Ah, kalau begitu sebaiknya aku berpikir ulang soal bubur wortel yang sedang kubawa ini.”

“Bubur wortel?”

“Yep.

“Kau di mana sekarang?”

Jinho menggumam. Seperti memberi celah agar Bening bingung. Lalu tak lama, ada suara bel yang menggaung di kedua sisi telepon. Baik dari sisi Jinho, maupun dari sisi Bening. Jinho tersenyum, “Di depan. Buka pintunya.”

Bening beringsut turun dari tempat tidur. Ia bergegas membuka pintu kondomiumnya, lalu senyumnya terangkat lebar seiring dengan manik bundarnya menangkap sosok Jinho dan tas kertas dalam genggaman.

“Asyik.”

Jinho melepas sepatu, tanpa disuruh langsung melangkah ke dapur. Bening mengekornya seperti anak kucing dan membiarkan Jinho menuang bubur wortel ke dua mangkuk. Bening sudah menjilat-jilat sendok yang ia pegang sejak dua menit lalu. Jinho menatapnya lekat-lekat.

“Hidungmu merah sekali,” ucap Jinho, memberi isyarat supaya Bening berjalan mendahuluinya ke ruang tengah. Bening hanya membenarkan. “Aku terus-terusan bersin. Hidungku gatal. Rasanya seperti ada ulat yang menggeliat di dalamnya. Lalu, ingusku juga berwarna hij—”

Bening menghentikan kalimatnya.

Jinho melotot. “Bisa-bisanya kau membicarakan ingus saat kita akan makan bubur.”

“Maaf.”

Jinho menyerahkan mangkuk besar pada Bening dan membawa mangkuk kecil untuk dirinya sendiri. Mereka duduk bersisian, hampir tak bersuara. Bening memang begitu, terlalu fokus pada makanannya sampai ia rela untuk menahan apa saja yang ingin ia ucapkan pada Jinho. Sementara pemuda yang mengunyah bubur wortel itu tersenyum tipis. “Pelan-pelan saja. Aku tidak akan meminta porsimu. Masih ada sisa di termos kalau kau ingin tambah.”

“Asyik.”

“Kau ini sebenarnya sakit atau hanya ingin makan bubur wortel buatanku, sih?” gerutu Jinho yang hanya disambut dengan cengiran lebar Bening. Gadis itu dengan lahap menghabiskan santapannya.

Jinho merogoh saku. “Nih, biar cepat sembuh.”

Bening tersenyum, berterima kasih. Obat yang dibawa Jinho adalah obat herbal racikan kakek Jinho yang pakar dalam bidangnya sehingga sangat mujarab dan langsung berefek bagi kesehatan. Bening menyandarkan kepala, mengelus perutnya yang penuh.

“Aku tidak memberi tahu apa-apa pada Hongseok. Dia tidak tahu kau pilek,” seloroh Jinho sebelum menyuapkan sendok terakhir buburnya. Bening menoleh cepat. “Lalu, kenapa kalian pakai masker? Apa dia pilek juga?”

“Dia sakit gigi.”

“Lalu kau?”

Jinho nyengir. “Kalau aku sih memang sengaja ingin menggodamu yang selalu ingusan setiap kali pilek. Lalu kau pasti akan merengek minta dibuatkan bubur wortel. Dasar marmut.”

Bening tidak marah, apalagi bereaksi anarki terhadap perkataan Jinho. Satu-satunya ekspresi yang tampak di wajah Bening hanyalah kedua ujung bibirnya tertarik ke atas, membentuk senyum bulan sabit.

.

.

.

©2016


catatannya asha.

  • lagi hujan deres banget petirnya gede-gede dan menyambar-nyambar, jadi kepikiran gimana rasanya dianterin bubur jam segini pas lagi laper pas lagi pilek sama uri smolji. HUHUHUHUHU bubur wortel :3 semoga suka ya, gurls. cao, much luv from asha.

 

 

Advertisements

Author: asha

i write to express not to impress, to tell people the way how i become immortal, to find an endless happiness and how to travel the time. i was born to beat, indeed.

13 thoughts on “[Vignette] Anti-influenza Squad”

  1. YHA KAN MEREKA ITU GEMESIN ><
    kak Jino tuh ngeselin sekaligus manis dalam satu waktu. Kalo begini mah gimana nggak jatuh hati heheuww KAN MAU DIJENGUK + DIBUATIN BUBUR SAMA KAKJIN ㅠㅠ

    Like

    1. Gemazhuuuuu dums. Smol couple kita, BenJi 6a6 nama otpnya unyuh banget benji 6a6 :3
      Tararararat ;;; emang ya jino tuh kadang oppa banget kadang dede banget aku suka tersesat ;;
      HUHU KAK JINONYA SAMA BENING MAAF YA NANA HEHE NANTI DEH MAIN KE RUMAH NANA :3

      Liked by 1 person

      1. Bagus kak bagus >< kedengarannya kaya ada jepun-jepunnya joah ♥♥
        NAH KHAN AKU JUGA GITU TAUK KAAKKKK ;A; Mana pas jaman SM The Ballad dulu dia kiyuuuutttt manis kaya magnae kesayangan gitu kan xD DAN KAKSHA AKU BELUM BILANG YA AKU SUKA NAMA SMOL JINO DEMI INGUSNYA BENING KAK. 😂😂🔫🔫🔫
        KAPAN KAPAN YHA MZ TAK TUNGGU LOH! (Jangan bilang2 mba bening ntar ga dibolehin)

        Like

      2. HAHAHA jepang-ish banget yaa ;;
        eh bener bangeeeeeet!!!! eh giliran di pentagon dia jadi hyung… agak gak sinkron hahaha. tapi gemashuuuuuu.
        HUHUHU YA TIDA APA APA KOK KARENA INGUS BENING WARNA IJO wkwkwkwkw ;; nanti OC nya nana sama Bening harus ketemu yaaa cikiwic.
        HM KALIAN MAU BERMAIN DI BELAKANG BENING YHA? HM…. MENCURIGAKAN

        Liked by 1 person

      3. Ya kak kaya nama snack juga ga sih? /plakk/ ah ngga kaya nama gangster sih yg main di zero 2007 apa itulah pokoknya
        Iyaaaaa aku juga agak nganga dulu pas jino muncul di pentagon maker dab jadi sesepuh :”3
        BAGUS SEKALI INGUS BENING WARNA IJO BUKAN BENING SEPERTI NAMANYA HAHAHAH /plakk
        AYO KAK AYO MEREKA MEET UP KAPAN KAPAN ><

        Like

      4. HAHAHA CROWS ZERO HHAAHA tapi Genjiiiii bukan Benji wqwqwqwq ;;;
        yhaaaaaa sesungguhnya ingus ijo tuh langka dan harus dilestarikan kata Bening mah..
        IYA IH AYO KOLABBBBBB ;;

        Liked by 1 person

      5. Nah iya itu maksud aku :’v jd keinget mz genji yg mukanya ga pernah ga bonyok HAHAHAH
        MBA BENING SENENG YHA KENA FLU??? (atau modus pengen diperhatiin mz jino)
        Habis tanggal 5 aku baru free kaksha. Eh mau tes di unej juga ntah kapan :”3

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s