[Vignette] a Little Story about Kim Siblings

Processed with VSCO with a2 preset

a Little Story about Kim Siblings

story by ayshry

ft. Kim Siblings

[Actor’s] Kim Donghyun, [PTG’s] Kim Hyojong, [OC’s] Kim Dayoung, [NCT’s] Kim Doyoung

AU!, Family, Fluff/Ficlet/G

Disclaimer : Cast belong to God and the plot is Mine!

related to: Taman Bermain

***

Hyojong tengah meniti langkah sepulangnya ia dari kegiatan perkuliahan siang itu ketika maniknya tanpa sengaja menangkap eksistensi gerai kue yang terletak di seberang jalan tempat ia berpijak kini. Ingatan si pemuda tiba-tiba melayang kepada Dayoung—si saudara perempuan satu-satunya keluarga Kim—yang sudah beberapa hari ini hanya mengurung diri di kamar meratapi nasib. Sejatinya, Dayoung adalah gadis yang kuat namun akan menjadi rapuh bak dedaunan kering ketika ia harus dihadapkan pada masalah yang berhubungan dengan lawan jenis dan persoalan kali ini adalah; kandasnya kisah percintaan yang bahkan baru ia rajut sekitar dua minggu lantaran sang kekasih ternyata mendua. Hyojong tak habis pikir dengan masalah musiman yang selalu menimpa sang adik.

Si pemuda tersenyum penuh arti, berbelok dari niatan awal—yang akan segera pulang demi mengistirahatkan diri—lantas memasuki gerai kue tersebut. Hyojong tahu betul, si perempuan satu-satunya itu sangat menyukai kue, terutama yang berhubungan dengan cokelat. Maka, ia memutuskan untuk membeli sebuah kue cokelat dengan whiped cream yang berlimpah sebagai oleh-oleh untuk Dayoung—dengan harapan kue tersebut bisa dijadikannya umpan untuk membujuk si gadis agar tak terus-terusan menangis.

Setelah kue cokelat berpindah ke tangannya, lantas ia menghubungi Doyoung—si bungsu sekaligus kembaran Dayoung—berhubung ia yakin jika si gadis takkan sudi menjawab telepon darinya pun dari orang lain; ia berani bertaruh kalau soal itu. Hei, gadis mana yang akan menjawab telepon dari seseorang ketika ia telah mengurung diri berhari-hari di kamarnya? Dan tentu saja hal tersebut juga berlaku kepada Hyojong—meski ia bukanlah orang lain melainkan saudara sendiri.

“Doyoung-a, kau di rumah? Bagaimana dengan Dayoung? Apa dia masih mengurung diri di kamarnya?” Percakapan dimulai ketika panggilan telah tersambung. Hyojong sembari menyeret tungkainya, masih menunggu respon dari seberang sana. Pikirannya pun melayang; berharap ia segera tiba di rumah dan melakukan misi pembujukan bersama Kim bersaudara yang lain.

“Oh, Kak Hyo, aku sedang dalam perjalanan menuju taman bermain, omong-omong dan Dayoung bersamaku, lebih tepatnya sih aku memaksanya agar bersedia ikut denganku. Kau tahu? Ini sudah hari kelima dan aku—“

“Ya, ya, ya, aku tahu, bukan hanya kau yang kesal melihatnya, Do, aku dan Kak Donghyun pun sudah amat muak dengan kebiasaan anehnya itu, dasar perempuan, huh.” Tanpa sadar, Hyojong malah berkeluh-kesah kepada sang adik.

Di seberang sana tawa menguar menyambung kalimat Hyojong. “Eh Kak, tapi ada apa kau meneleponku?” tanya Doyoung kemudian.

“Oh, astaga! Hampir saja aku lupa, hehe. Aku baru pulang dari kampus dan melihat gerai kue, jadi aku membelikan kue cokelat kesukaan Dayoung. Hmm, kukira Dayoung masih setia bersarang di kamarnya.”

“Kalau tidak kuculik, mungkin dia akan mati membusuk di kamarnya, Kak, haha. Oh, bagaimana kalau kau menyusul kami saja ke sini? Sudah lama sejak terakhir kali kita menghabiskan waktu bersama, ‘kan? Ajak Kak Donghyun juga, Kak.”

Langkah Hyojong seketika terhenti, mendengar ajakan menggiurkan tersebut membuat sudut bibirnya terangkat. “Oke! Kebetulan aku sudah tak ada perkuliahan lagi, tapi kalau Kak Donghyun aku tak tahu apa dia bisa ikut bergabung dengan kita, hmm aku akan mencoba menghubunginya dulu.”

“Dia ada di rumah kok, Kak, sepertinya tak ada kegiatan hari ini karena ketika membawa Dayoung pergi, ia masih bergelung di dalam selimut.”

“Dasar tukang tidur. Ya sudah, aku akan pulang dan segera menyusul kalian ke sana bersama Kak Donghyun. Hati-hati menyetirnya, mengerti? Dan sampaikan salamku kepada gadis menyebalkan di sebelahmu itu, haha.”

Tawa Doyoung kembali meledak. “Oke, Kak, akan kusampaikan. Kalian jangan lama-lama ya, nanti keburu sore.”

“Baiklah.”

Bip.

Sambungan telepon terputus. Hyojong lantas menambah laju tungkainya agar bisa segera tiba di rumah demi menjemput si sulung keluarga Kim. Sepertinya pemuda itu terlihat amat bersemangat hari ini.

***

Sekitar satu setengah jam kemudian, Hyojong dan Donghyun telah menjejakkan kaki di parkiran taman bermain—setelah sebelumnya Hyojong mati-matian membujuk sang kakak yang sejatinya hanya ingin bermalas-malasan saja hari ini. Hyojong segera menguhubungi Doyoung untuk menanyakan keberadaan mereka, namun ini sudah panggilan kelima yang ia buat dan tak ada tanda-tanda si bungsu akan menjawab telepon darinya.

“Mungkin dia sedang mabuk, Hyo. Kau tahu ‘kan, hal pertama yang akan Dayoung lakukan ketika tiba di sini? Matanya hanya akan tertuju pada—“

Roller Coaster,” potong Hyojong kemudian lantas ia tertawa lebar. “Astaga, aku tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi si bungsu saat ini.”

“Telepon Dayoung saja. Kurasa mood-nya sudah membaik sekarang.”

Lekas Hyojong mengganti nomor tujuannya dan benar saja, tanpa menunggu lama suara di seberang sana sudah menyambutnya girang. Setelah mendapatkan lokasi, Hyojong bersama Donghyun segera memasuki arena taman bermain lantas menuju tempat yang di sebutkan Dayoung tadi.

“Oi, Kak!”

Lambaian tangan serta senyum sumringah dari Dayoung menyambut kedatangan Hyojong dan Donghyun. Sedangkan seorang pemuda yang teronggok lemah di kursi sebelah hanya bisa melemparkan senyum kecut tak bergairah. Doyoung seperti orang yang telah kehilangan nyawa, omong-omong.

“Kenapa lama sekali, sih?” Dayoung merengut.

“Kau apakan Doyoung?” tanya Donghyun sembari menahan tawa. Sejatinya ia sudah mengetahui jawabannya, namun si pemuda tak mampu menahan diri untuk tak melemparkan pertanyaan menggoda seperti itu.

“Hanya mengajaknya menaiki Roller Coaster, Kak,” jawab Dayoung menahan geli. “Sebagai ucapan terimakasih karena sudah membawaku ke sini, hehe.”

“Ucapan terimakasih macam apa ini?!” Doyoung mendesis; masih terkulai lemah dengan tangan yang tak berhenti memijit kepalanya yang terasa berputar-putar.

“Sudah tahu Doyoung itu phobia ketinggian, tapi masih saja kau menjahilinya, ya Dayoung-a,” kali ini Hyojong yang membuka suara. “Oh iya, ini aku membelikan kue cokelat untukmu.”

Kotak kue diletakkannya di tengah meja lantas membukanya hati-hati. Seketika, Dayoung terpekik senang ketika maniknya menangkap tampilan kue yang tiba-tiba membuat perutnya berbunyi. Lantas dengan rakusnya si gadis menyantap kue bahkan tanpa menawari saudaranya yang lain.

“Kau sudah berapa hari tak makan, omong-omong?” tanya Donghyun yang hanya dijawab dengan kikikan oleh Dayoung. “Kau yakin akan mengisi perut kosongmu dengan kue ini saja? Apa tak sebaiknya kita—“

“Nanti saja,” potong Dayoung dengan mulut yang masih penuh. “Setelah kue ini lenyap, giliran kau lagi yang mentraktirku—ah tidak, maksudku mentraktir kita makan malam, Kak Hyun.”

“Kenapa harus aku?” protes Donghyun.

“Karena Doyoung sudah membawaku ke sini dan bersedia menaiki wahana yang paling ditakutinya meski ia harus berakhir menyedihkan seperti ini dan Kak Hyo sudah membawakanku kue ini, hehe. Jadi tinggal kau saja yang belum melakukan apa-apa untukku.”

Donghyun berdecak kesal. Rasanya tak adil karena yang lain hanya menyenangkan satu kepala saja sedangkan ia harus mengeyangkan tiga perut yang kelaparan—Hyojong, Dayoung dan Doyoung.

“Hei, tapi—“

“Aku setuju!” pekik Hyojong. “Setelah menghabiskan kue, kita bermain sebentar di sini dan ketika hari menjelang malam kita baru pergi makan, bagaimana?”

“SETUJU!” seru Dayoung dan Doyoung bersamaan. Sepertinya Doyoung sudah kembali pulih ketika mendengar kata-kata ‘makan malam’.

“Jadi, ayo cepat habiskan kuemu, Dayoung-a!”

“Tentu saja, Kak Hyo. Eh setelah ini kita naik wahana Gyro Swing* yuk. Semuanya harus ikut ya, kau juga, Doyoung-a.”

“APA? OH TIDAK, TERIMAKASIH KIM DAYOUNG.” Doyoung terpekik. “Aku sudah hampir kehilangan nyawa di wahana tadi dan sekarang kau menyuruhku menaiki wahana lainnya? Oh, tidak akan!”

“Kalau Doyoung tak mau ikut, maka aku tak jadi mentraktir kalian makan malam!” Pernyataan Donghyun barusan berhasil menarik atensi ketiga saudaranya yang lain. Kebetulan sekali Donghyun memiliki celah agar tak harus menguras tabungannya karena ia tahu bahwa Doyoung tidak akan—

“Demi makan malam gratis Doyoung-a!” seru Hyojong mencoba membujuk si bungsu.

“Kapan lagi kita bisa menguras uang Kak Donghyun?” sambung Dayoung.

“Oh, astaga! Kalian ingin membunuh Doyoung atau—“

“Baiklah, aku ikut,” potong Doyoung.

“APA?”

YES!”

“Ayo kita pergi, Kak.” Ajakan Doyoung barusan nyatanya bukanlah bualan belaka lantaran ia langsung beranjak dari duduknya dan berjalan menuju wanaha tersebut.

Hyojong dan Dayoung sempat bertukar pandang dan tertawa lepas sebelum akhirnya mengikuti langkah si bungsu dan meninggalkan Donghyun yang masih bertengkar dengan akal sehatnya.

Sepertinya kau harus merelakan jatah bulanmu habis lebih awal, Kim Donghyun, batinnya.

Lantas pada akhirnya mau tak mau, Donghyun menyeret langkahnya mengikuti yang lain. Meski berat, tapi ia tak memiliki pilihan lain selain pasrah pada keadaan yang tengah menyudutkannya.

“Oi, tunggu aku!”

-Fin.

Happy debut Kim Sibling’s ~

(*) salah satu wahana ayunan kincir yang terkenal di Korea.

-mbaay.

Advertisements

Author: megaton-bomb

Call Me Ay | A-Blood Type | Forever Maknae | Purple Addict.

7 thoughts on “[Vignette] a Little Story about Kim Siblings”

  1. KYAAAAAAAAAAAAAAA MBA DAYOUNG CEWE SENDIRI BHAK ENAK DONG IDUPNYA DILINDUNGI SAMA 3 SAUDARAMU MBA, JANGAN MERASA KESEPIAN LAGI /dikeplak/

    Tolong ini ucul banget seucul-uculnya :’) dd don bingung mo ngomong apa, dan demi apa tolong salah satu dari mereka adopsikan ke rumah don buat jadi kakak ehe ehe ehe /lirik duyung/ /salah lapak/

    OKE FIX MAZ EDAWN SYUDAH MERUSUH DI KEPALAKU DAN SEJATINYA DD GATAU HARUS NGOMOMG APA

    POKOKNYA UCUL.

    SEKIAN.

    Liked by 1 person

    1. IYAIN AJA DEH IYA TERSERAH KAMU DD UCUL MAU NGOMONG APA YANG PENTING KAMU BAHAGIA KYAAA

      ASLI AKU JUGA GEMES BANGET SAMA INI SIBLING DAN KENAPA KENAPA KENAPA BISA DAPET BANGET FEELNYA DAN AH ENTAHLAH, MUNGKIN SEBENARNYA HYOJONG EMANG MEMILIKI HUBUNGAN DARAH DENGAN GONGMYUNG DAN DOYOUNG /GA/

      Sudah ya kadon, mbaay lelah. BHAY

      Liked by 1 person

  2. Mbaay ji baru baca masa padahal udah spot dari tadi (dibaca; di like dulu)

    IH PAAN INI KOK GEMES XD aku mau dong jadi di antara mereka nyempil jadi upil gapapa deh (eh) jadi kotak kue coklat juga gapapa mbaay, atau jadi figuran orang yang mabok naik roller coaster juga gapapa (…….)

    LAV DEH ❤

    Liked by 1 person

  3. Bocah-bocah mengunjungi taman bermain…
    GEMAS YA ENAK SEKALI JADI ANAK-ANAK HAHAHAHA.
    btw Kim Siblings nggak usah di kasih petik atas, karena bukan menyatakan kepemilikan ehe.
    Hyojong kapan-kapan Bening juga diajak ya, biar Dayoung nggak keki jadi cewek sendirian.
    Cie.

    Liked by 1 person

    1. Ucul kan ya kak? Kaya mbaay? Iyakan? Mbaay imut kan? Kiyowo kan? /plak

      Ooh oh sip nek, bakal tak ubah entar btw tengs koreksinya ehe ehe

      Yuk ah mainan dayoung ga keki tapi bahagia kyaaa kyaaa /ditampar

      Cie-in balik.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s