[Vignette] Go Away

go away

GO AWAY

thehunlulu ©2016

[PTG’s] Kino, [OC’s] Ginny & Eve

Sad, Romance, AU! | Vignette | PG-15

.

“Bisakah kau benar-benar pergi tanpa mencoba untuk kembali?” prompt by ayshry

 

Kino tak pernah sekalut ini dalam menjalani kehidupan. Otakknya terus saja berputar, ia berusaha menutup semua pintu kemungkinan atas spekulasi yang ia ciptakan sendiri. Nyatanya, pikirannya kalah telak dengan batinnya. Padahal empunya tak mengizinkan peluang buruk terjadi suatu saat; mengucapkan seuntai frasa demi menarik lagi mantan kekasihnya untuk menjalani hidup berdampingan bersamanya.

Merebahkan tubuhnya gelisah, Kino tak lantas memacu tungkai untuk meninggalkan ponselnya dalam kesendirian—dengan berpuluh-puluh pesan dari mantan kekasihnya. Demi bertarung dengan batinnya sendiri, Kino berani bertaruh jika ia akan menghapus deretan pesan itu dan tak akan pernah menyimpan nomor sang gadis—Ginny. Namun lain kata, Kino justru menghirup napas dalam-dalam, kemudian bangkit duduk ditemani oleh ketikkan lincah jemarinya untuk sekedar menyimpan nomor telepon Ginny, disusul dengan balasan sepatah kata demi menghentikan sang gadis agar bungkam sejenak dari semua bidikan pesannya.

“Demi Tuhan, apa yang kau lakukan, Ginny?”

Beberapa sekon menimang ponsel kesayangannya, Kino pun mengambil langkah seribu setelah menekan tombol kirim untuk Ginny. Persetan dengan sumpah serapah yang meluncur dari kotak pesannya kelak, Kino hanya ingin menenangkan pikirannya sejenak setelah beberapa bulan dirinya melupakan presensi Ginny dari pikiran, pun batin yang sudah terlanjur ia sapu bersih.

Nyatanya, Kino justru berjalan selangkah demi selangkah untuk menilik kembali ponselnya. Namun di luar itu, kedua telinganya menangkap bel rumahnya berbunyi, segera Kino mengalihkan atensi guna mengedarkan padang lalu menerawang keberadaan seseorang yang berdiri samar di balik tirai gorden.

Sejenak ia berdeham singkat, sebelum akhirnya melempar handuk yang sudah lebih dulu tergantung pada lehernya lalu berjalan membuka kenop pintu.

“Iya ada perlu ap—“

Sebuah kurva lengkung yang terlihat menyenangkan perlahan merosot dari wajah Kino, matanya membulat sempurna dalam hitungan detik. Jemarinya masih setia mencengkeram kenop pintu, namun kali ini lebih keras. Menenggak saliva-nya kewalahan, Kino lekas tersadar kala dirasa pikirannya kembali berjalan dengan baik—berusaha bersikap serasional mungkin.

“Mengapa tidak membalas semua pesanku?”

“Astaga! Bisakah kau benar-benar pergi tanpa mencoba untuk kembali, Ginny?”

Air muka Kino merautkan penyesalan secara mendalam. Kalau saja ia mengecek siapa tamu tak diundangnya itu dari balik tirai gorden, mungkin saja ia tidak akan merasakan jantungnya bekerja beberapa kali lipat dari biasanya.

Sang gadis tetap mempertahankan ekspresi datar namun menusuk—bagi Kino. “Jelaskan padaku.”

Kino mulai gelagapan, jemarinya terlepas dari pegangan eratnya pada kenop pintu karena keringat dingin yang membanjiri telapak tangannya. “A-aku bisa jelaskan. Tapi kumohon, jangan merajuk seperti itu, aku tak akan mampu mengucapkan sepatah kata pun.”

Beberapa saat keduanya dilanda keheningan. Untuk sementara, Kino mempersilahkan Ginny memasuki rumahnya yang kosong melompong akan kehadiran manusia—kecuali dua insan yang tengah dimabuk kenangan itu. Membantu sang gadis duduk pada salah satu sisi sofa, Kino merasakan secuil ngilu saat memandang wajah Ginny.

“Maaf jika kau keberatan, tapi aku sungguh jengah dengan perlakuanmu beberapa bulan lalu. Well, mungkin saat itu aku tidak sadar siapa tersangka dibalik semua ini, namun jika itu adalah ulahmu, akan sedikit kumaafkan,” tutur Ginny tepat pada poinnya, merangsang saraf Kino untuk memunculkan ketakutan pada pemuda itu akan peristiwa beberapa bulan lalu.

Ginny kembali memusatkan pandang pada gerak-gerik Kino yang tampak gelisah, kemudian menyentuh pelipisnya yang terlihat memar, membetulkan perban yang menghalangi penglihatan mata kirinya, serta mendekatkan kruk yang berguling di samping tubuhnya.

Gadis itu bergetar, meneteskan air mata untuk pertama kalinya di depan Kino. Sesekali ia merintih ngilu karena tarikan napasnya membuat lehernya yang terbalut penyangga sedikit berkontraksi. “Apakah sebegitu bencinya dirimu terhadapku, Kino? Kau rela nyaris membunuhku demi wanita selingkuhanmu yang gila harta itu? Katakan Kino! Jangan bungkam bak orang bodoh seperti itu!”

Kino berjengit sekilas saat Ginny menghardiknya secara terang-terangan. Semua rahasia yang telah lama terkubur dalam pikirannya kembali meronta-ronta ingin dikasihani. Itu semua Kino lalui secara tak sadar, tahu-tahu pikiran gilanya ingin sesegera mungkin menghabisi Ginny di ujung jalan karena Kino tertangkap basah berselingkuh beberapa bulan yang lalu. Oh sungguh, Kino sedang tak ingin membicarakan hal itu kembali. Namun apa daya, gadis yang terduduk di hadapannya kini telah mengetahui semua tabiatnya.

“Aku minta maaf.”

“Apa? Kau bicara apa, Kino?”

“Aku memohon maaf Gin, apa itu tidak cukup?”

Ginny mendengus kasar, menyeka air matanya kemudian. “Aku masih memiliki hati nurani, Kino. Aku bisa saja melaporkanmu pada polisi atas kasus pembunuhan tak berencana ini, namun aku—“

“Kino?”

Lagi, tak ada hujan tak ada petir, tahu-tahu seorang gadis lain sudah berdiri di ambang pintu. Sontak keduanya mengalihkan perhatian, menatap lekat-lekat gadis berbalut skinny jeans abu-abu serta kaus berwarna hitam yang sedang membawa sebuah kotak berwarna merah hati di tangan kanannya. Tercengang sudah pasti dirasakan keduanya, terutama Kino yang entah akan berbuat apa setelahnya.

“E-Eve—“

“Oh, gadis itu masih hidup ternyata,” ujar Eve itu sembari menunjuk Ginny. Ia mengulum seringai sarkatis sebelum akhirnya melangkah menembus ambang pintu lalu duduk di dekat satu-satunya pemuda yang ada di ruangan itu. “Aku kecewa padamu, Kino.”

Astaga, setan jenis apa lagi yang mengganggu kehidupannya? Tidak, Kino tidak sampai hati mengatakan bahwa Eve—selingkuhannya yang kata Ginny gila harta—adalah setan yang berani memporak-porandakan situasi saat itu juga. Terlebih lagi, ada keperluan apa Eve berkunjung ke rumahnya?

Kino masih tetap diam pada posisinya sambil memandang gadis itu satu per satu; Ginny maupun Eve yang notabenenya adalah—

“Omong-omong, selamat hari valentine, Kino.”

—mantan kekasih dan selingkuhannya.

Sialan!

Eve beranjak, memangkas jarak antara dirinya dan Kino kemudian menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang kepada sang kekasih yang masih dilanda kebingungan. Manik Kino menerawang jauh ke luar jendela, sebelum akhirnya menatap Ginny tanpa ekspresi lalu beralih pada Eve.

“Bukalah,” ucap Eve.

Kino sejenak memandang lamat-lamat wajah Eve yang berbalut lipstick merah marun itu, kemudian segera membuka kotak yang berada di atas pangkuannya. “Astaga!” Kino memekik lantaran menemukan sepasang cincin yang tersemat rapi pada kotak itu, kemudian segera meraihnya dan menemukan nama Eve beserta namanya terukir memanjang pada sisi dalam cincin.

“Kau suka?”

“Jangan katakan jika—“

“Iya, aku hendak melamarmu.”

What the hell.

Sungguh, kesurupan iblis dari dimensi keberapa kekasih Kino yang satu itu. Tidak mungkin, Kino bahkan tidak terlalu serius menjalin hubungan dengan Eve namun gadis itu sudah melamarnya dalam hitungan beberapa bulan saja. Dan satu lagi, Kino itu laki-laki, sejak kapan hukum alam berkata bahwa perempuan melakukan sesuatu yang normalnya—bahkan seharusnya—dilakukan oleh laki-laki?

Kino tidak sedang gila atau apapun, namun ia berani bersumpah jika rasa-rasanya berselingkuh dengan gadis lain yang ia temui di bar memanglah bukan langkah yang tepat. Terlebih, saat ini mantan kekasihnya—Ginny—tengah menjadi saksi atas acara pelamaran konyol yang didalangi oleh Eve. Kino bisa gila!

“Bagaimana? Apakah gadis itu akan berani berkunjung kemari saat tahu mantan kekasihnya sudah bertunangan dengan orang lain?” Eve tertawa kecil namun terdengar seperti orang kesetanan sebelum akhirnya pandangannya beralih menatap Ginny yang terpekur kaku.

“Oh ya, ada satu lagi.” Eve merogoh tas kecil yang sedari tadi tergantung pada salah satu pundaknya lalu mengambil sebuah benda berbentuk pipih yang terbungkus plastik. “Untung aku membawanya hari ini, kebetulan sekali ya, hehe.” Tangannya terulur untuk memberikan benda tajam itu pada Kino.

“U-untuk apa ini?” tanya Kino.

“Menghabisinya.”

Brengsek!

.

.

.

—fin—

FF debut di blog pentagon uhuk :”) Maafkan Don yang agak khilaf jadinya nistain Kino HAHAHAHAHAHAHAHAHA /ketawa jahat/ Sebenernya ini tangan gatel pengen bunuh si Eve aja itu bunuh!!! Tapi inget puasa juga, jangan ah jangan, tobat dulu sebulan ini dari zaiko-zaikoan ehe.

Salam hangat,

Don a.k.a kekasih Mas Hyunggu.

Advertisements

Author: thehunlulu

Donna ©2001 ✦ Just an amateur writer who loves fiction ✦ Let's be friend!

15 thoughts on “[Vignette] Go Away”

  1. HEEEEEIIIIIII, AKU TERSEDAK SALIVA WAKTU EVE MAU LAMAR MAS KINO……….
    Sebenernya, eve gak salah, eve cuma memperjuangkan emansipasi wanita yang sempat terkubur dalam2 ‘-‘)9 EH tapi aku di pihak GINNY. GO GINNY GOOOO (lah ada apa emang…)

    Kak don, nanggung amat itu ending :’3 khilaf dikit gapapa…….. Wkwkwk maju perzaikoan!(eh) maju ginny~ mangatz move on dari kino~ (eh)

    Liked by 1 person

    1. kakji aja tersedak apalagi aku yang nulisnya sambil ngumpat dalem hati hahaahaha serius XD iya kak, eve ga salah kok, eve selalu benar, dimana mana perempuan selalu benar! /dihajar/ asli kakji, endingnya kalo mau diterusin ntar eve nya mau kubikin nyekik ginny biar mampus, tapi rasa-rasanya kurang sip, mending digantungin aja wkwkwkwk. BTW GINNY GA BAKAL MOVE ON DARI KINO KAK GAK BAKAAAAALLLL /dihajar lagi/ makasih sudah mampir dimari kakji ❤

      Liked by 1 person

      1. Eh iya aku lupa ninggalin komentar pake justify aja kakdon biar rapih cam zaiko yang gak pernah ketangkep polisi /eh/
        sama-sama kakdon❤

        Liked by 1 person

  2. ya tuhan,
    abis ucok sekarang si permen?
    kenapa kalian suka banget yang kasar kasar T_T
    padahal yang lembut lembut lebih enak huhu
    contoh dong itu bening x jinho couple menggemaskan
    HAHAHAHA.
    ditunggu fic berikutnya ya don! mangat mangat mangat x

    Liked by 1 person

    1. Bentar kasha, katakan padaku sejak kapan wooseok berubah jadi ucok HAHAHAHAHA NGAKAAAKKK XD XD sekali kali anak pentagon harus dikasarin, karena sesungguhnya lebih menyenangkan mengasari mereka /eh/ btw kapan2 kupinjam bening x jino buat dijadiin korban zaiko /dicekik kasha/ uhuuu thanks kasha sudah mampir dimari ya i love you ❤ ❤

      Liked by 1 person

      1. Lah, wooseok kan bacanya usok.
        Yauda sekalian aja ucok. Hehe. asalkan ngga pake baba ya. Hehe.
        YA GUSTI KALIAN JAHAT BANGET YA ;-;
        padahal aku agak nggak bisa baca fic yang isinya kekerasan hikse hikse
        BENTAR WOI GA BOLEH PINJEM BENJI KALO DIBIKIN KASAR KASARAN HUHUHU mereka harus gemes gemesan!!
        anyway, my pleasure. luv u back!

        Liked by 2 people

  3. Don apa-apaan ini kok menjurus pada perzaikoan padahal katanya kemaren ngga :””3 DAN KENAPA SI SUB MAGNAE IMUT BIN SEKSI INI YANG KENA DON KENAPA
    uh endingnya nanggung sekali don. Kalo udah ada pisau ya diterusin aja sekalian biar tambah nikmat /eh/
    Naisseu~

    Liked by 1 person

    1. jangan kak jangan…..jangan sampe ginny dibunuh ehe ehe jangan sampe……….palingan abis ini juga digantung mati ehe /plak/ kenapa maz seksi ini yang kena? Bikos mukanya itu loh muka2 merana mengundang yang nulis buat nistain dia seperti orang bego HAHAHAHAHAHAHA /stop/ btw makasih kak nana sudah mampir ya ❤

      Liked by 1 person

      1. Digantungin mati cem pelaku kejahatan masa purba /eh/ wkwkwkwk
        PAAN SIH DON :”)))) orang dia itu ngundang banget diuyel-uyel gemay gitu sih dan berkat kamu aku ada niat ngerjain Kino padahal kan dia kesayangan nomor sekian :”3 /plakkk/ Yup Masama dona ^^

        Liked by 1 person

  4. AYO EVE HAJAR SAJA GINNY EVE BUNUH KELUARKAN ISI TUBUHNYA CINCANG CINCANG BUAT ISIAN RISOL KANG HANSOL /salah lapak/

    O O O JADI INI NISTAIN EVE BEGINI INI HMM LUAR BIASA KAMU YA DON E E TAPI GAKEBAYANG KINO MENDUA GITU MASA WONG BOCAH NE PETAKILAN NGONO KOK BISA BISANYA MENDUA /lempar donna/

    Udah mampir ya kak, udah ninggalin jejak gakaya kamu yg sering nyider BHAY

    Liked by 1 person

    1. MBAAY KELIATAN NAPSU SEKALI EH EH EH APA MBAAY MAU BUNUH EVE JUGA? EH EH EH HAHAHAHAHAHA KOK AKU GREGETAN SENDIRI YHA, CINCANG SAJA TUBUHNYA, JADIKAN MENU BUKA PUASA EHE EHE EHE

      KINO EMANG PETAKILAN KAK, TAPI MENURUTKU DIA ANAK PENTAGON YANG ROMAN-ROMANNYA DEMEN MENDUA DI ANTARA MEMBER LAIN /MUSNAH DON/

      EHEEEEEE MBAAY LOVE YOU YA SUDAH MENINGGALKAN JEJAK EHE KUMENCINTAIMU MUAH ❤

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s