[Oneshot] The Boy Who Waits For Years

The Boy Who Waits For Years

Kino & Bening

(slight! Jinho & slight! Hyojong)

G – romance, angst, friendship.

related to ( x )

“Aku sungguh menyesal, noona,

**

“Kau yakin tidak kenal dia?” untuk kelima kalinya, Jinho berbisik.

Makan siang hari ini benar-benar menguras emosi Bening. Bukan hanya karena mashed potato yang ia pesan kelebihan lada sehingga rasanya sedikit aneh meskipun masih layak santap, tapi juga karena lelaki di hadapannya tidak berhenti bertanya. Gadis itu mendongak, menarik napas. “Sampai kapan kau akan bertanya seperti itu?”

“Sampai mendapatkan jawaban, kurasa?” Jinho menyuapkan sup krim ke dalam mulutnya.

Bening meletakkan sendok di samping mangkuk dengan kasar. Ia bukan tidak tahu siapa yang dimaksud oleh Jinho. ‘Dia’ adalah laki-laki yang berdiri di depan restauran, merundukkan kepala, menendang-nendang udara dengan ujung sneakers berwarna hitam dengan pola garis putih menyelimuti sol paling bawah, sudah hampir sejam lamanya ia menunggu—tentu saja cukup menyita perhatian pelanggan restauran yang lainnya. Jinho mencelupkan roti bagelnya ke dalam sup krim, “Aku tidak tahu kau punya penggemar juga.”

“Penggemar, my ass.” Dengusan Bening mengundang senyum kecil di bibir Jinho.

“Kalau begitu, mantan pacar?” kali ini Jinho iseng menebak.

Bening mengangkat kepalan tangannya. “Kau ingin kupukul ya?”

Jinho tertawa.

“Dia bukan orang yang ingin kutemui,” kata Bening melanjutkan, kemudian menyedot banyak-banyak es limun yang ada di gelasnya. Alis Jinho terangkat. “Apa salahnya? Mungkin dia perlu bicara sesuatu yang penting. Jangan membiarkan egomu setinggi itu.”

Netra Bening berotasi kesal karena Jinho tak berpihak padanya. Lawan bicaranya itu justru memberi isyarat supaya Bening segera menyelesaikan makan siangnya dan menghampiri lelaki di depan restauran, sementara ia akan menyusul nanti setelah semua makanan di atas meja habis terlahap. Bening awalnya menolak ide itu, tapi Jinho meneruskan, “Setidaknya, hargai kekukuhan dan pendiriannya menunggumu dari tadi. Tidak semua orang bisa melakukan hal seperti itu.”

Maka saat ini, Bening berjalan keluar restauran dan mendekati laki-laki yang melesakkan kedua tangannya di saku hoodie, masih menggoyang-goyangkan kakinya. Begitu melihat ujung wedges berada beberapa langkah di hadapan kakinya, lelaki itu mendongak dengan senyuman lebar—yang juga sedikit tampak khawatir. “Noona..”

“Ayo bicara di tempat yang teduh,” Bening berjalan mendahului.

Keduanya memilih duduk berhadapan di meja dekat jendela lebar di sebuah kedai minuman yang menyediakan olahan cokelat. Jemari Bening menari di cangkir warna dadu yang berisi lelehan cokelat hangat dengan parutan keju cheddar. Sementara lelaki yang duduk di depannya, terdiam, membungkam mulutnya yang baru saja menyesap minuman dingin dari campuran susu murni dengan cokelat putih cair.

“Kalau kau berencana untuk tetap diam, aku akan pergi sekarang juga, Hyunggu. Kupikir kau butuh bicara denganku,” ucap Bening tidak tahan dengan kesunyian di antara mereka.

Hyunggu cepat-cepat membuka mulutnya. “A-apa k-kabar?”

“Seperti yang bisa kau lihat,” jawab Bening malas. Matanya tak pernah berpadu pada menik gelap milik Hyunggu yang tampak gemetar karena gugup—mungkin juga bercampur bingung. Gadis itu memutar lengan cangkirnya.

Noona pasti membenciku,” seloroh Hyunggu, menundukkan kepala.

Bening tertawa, tawanya terdengar culas. Hyunggu mendongak, heran dengan reaksi tersebut, menatap Bening yang kini memaksakan diri untuk beradu pandang. “Benci? Jangan membuatku tertawa.”

Hyunggu menahan napas.

“Cinta dan benci itu sama saja, Hyunggu. Membelenggu. Saat kita cinta seseorang, maka orang itu akan berada di hati. Sebaliknya, kebencian membuat kita menyimpan orang itu di kepala kita. Dua-duanya mengikat, kita tidak bisa lepas. Tapi kau? Jangan konyol. Kau bahkan tidak layak berada di tempat-tempat itu,” kata Bening memutar lengan cangkir. Nadanya tegas, meski pada kata terakhir, suaranya sedikit bergetar.

“Benar. Aku memang tidak layak,” Hyunggu menanggapi. “Tapi aku sungguh menyesal, noona. Aku tidak pernah menginginkan hal itu terjadi, mana mungkin aku tega—”

Bening menyela cepat. “Sudah terlambat, Hyunggu.”

“Aku benar-benar—”

“—Sudahlah. Permintaan maafmu tidak akan mengubah situasi. Oke, permintaan maafmu kuterima. Jadi jangan muncul lagi di hadapanku. Aku tidak ingin melihatmu,” Bening mengepak slingbag-nya.

Hyunggu menghentikan gadis itu sebelum sempat beranjak. “Bagaimana.. dengan.. tanganmu?”

Bening tertawa samar. Ia menyembunyikan tangan kirinya yang gemetar di balik badan. Hyunggu menatapnya cemas, pupilnya melebar. Bening beringsut, menyandarkan punggung ke kursi yang dudukinya. “Sudah kubilang sebelumnya. Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi, Hyunggu. Aku tidak suka. Aku benci melihatmu. Wajahmu hanya akan mengingatkan aku pada luka. Kenapa kau tidak juga mengerti?”

“Aku sungguh menyesal, noona,” ucap Hyunggu sepenuh hati.

“Ya. Benar. Kau pasti menyesal selama ini. Dengan rasa sesalmu itu, tolong menghilanglah dari pandanganku,” pinta Bening sekali lagi. Hyunggu menatap Bening lekat-lekat, “Kalau saja waktu itu bukan aku, mungkin noona akan baik-baik saja.”

“Tentu. Tentu saja seperti itu. Bagus kalau kau mengerti,” Bening tidak tahan lagi, ia beranjak dari kursi, meninggalkan secangkir cokelat hangat yang tak tersentuh. Hyunggu untuk kedua kalinya, menahan lengan Bening. Gadis itu tak mengalihkan pandangan. Badannya tidak bergerak sesenti pun, bahkan tak menatap Hyunggu yang tengah bicara padanya. “Maafkan aku, noona.

“Jangan mencariku lagi, Hyunggu. Aku sudah tidak lagi ingin punya adik laki-laki,” Bening menghentak tangan Hyunggu dan meninggalkan kedai. Di luar, Jinho duduk mengamati jalanan, menoleh cepat begitu terdengar suara pintu berdecit. Melihat Bening dengan wajah keruh, Jinho hanya bisa menawarkan senyuman tipis.

Are you OK?”

Bening mendengus. “Do I look like I am?”

Jinho menggeleng. Ia menyadari bahwa tangan kiri Bening bergetar hebat. Sigap, Jinho meraup kelima jemari tersebut. Bening terbelalak kaget. “Kau kenapa sih?” ia hendak menarik kembali tangannya, tetapi Jinho menolak melepaskan. “Jadi dia orangnya?”

“Siapa?”

“Dia.”

“—Oh, dia. Ya.”

Jinho berjalan perlahan, disusul dengan langkah Bening di sampingnya. “Kau cukup pandai juga mencari adik.” Bening mencibir. “Adik, my ass. Pacarnya menyerangku habis-habisan begitu, apa aku masih berniat memanggilnya adik?”

“Dia kan tidak salah, kenapa kau marah, membenci dan melimpahkan kesalahan padanya? Bukan dia yang menyerangmu,” komentar Jinho. Bening berdecak, “Kau ini sebenarnya temanku atau teman Hyunggu, sih? Kau berada pada pihak siapa?”

Jinho tak langsung menjawab.

“Hyunggu juga salah. Dia kan waktu itu memacari perempuan yang salah,” Bening tetap tidak mau disudutkan. “Kalau dia punya pacar yang lebih pengertian sedikit saja, yang tidak cemburu pada hal-hal yang tidak perlu, mungkin insiden itu tidak akan terjadi. Dan aku tidak akan—”

Jinho menghentikan langkah, lalu menghadapkan badannya ke arah Bening. “Aku yang akan memainkan piano untukmu.”

Bening terkesiap.

“Kalau kau kesal karena kejadian itu membuatmu tidak bisa main piano lagi, biar aku yang memainkan piano untukmu. Tidak ada alasan untuk tidak memaafkan Hyunggu. Dia tidak salah apa-apa,” Jinho melanjutkan, suaranya lembut. “Tidakkah kau berpikir bahwa pacarnya waktu itu bersikap anarki karena menganggap keberadaanmu mengancam posisinya? Dia takut kau merebut Hyunggu darinya.”

Bening menggelengkan kepalanya tidak percaya. “Tapi Hyunggu kan—”

“Itu menurutmu,” potong Jinho.

Bening mengerang pendek. “Aku tidak percaya kau memihak Hyunggu.”

“Bayangkan berapa tahun Hyunggu dihantui rasa bersalahnya padamu. Apakah kau setega itu memperpanjang kesulitannya?” tanya Jinho, ia melangkah lagi. Bening mengangkat bahu. Jinho mengangkat tangannya yang menggenggam tangan kiri Bening. “Kalau kau masih ingin main piano, aku bisa jadi tangan kirimu.”

Bening menyeringai menanggapi ucapan Jinho. “Jadi, sampai kapan kau akan menggandengku seperti ini?”

Jinho cepat-cepat melepaskan tangannya. “Sorry.

Bening tersenyum. “Thank you, anyway. It feels better.

“Eh?”

Bening menolak menjawab.

**

—2011.

“Jadi bagaimana kejadian sebenarnya?” Ir. Juan Siregar menatap gadis yang terbaring di atas ranjang dengan mata basah dan hidung yang memerah. Tangan kirinya dibalut perban, seharian ia sudah menjalani banyak proses pemeriksaan. Operasi juga berjalan lancar, karena itulah ayahnya baru bertanya tentang kejadian yang membawa anak gadisnya ke rumah sakit.

Bening terdiam, ia tak mau menjawab.

Hyunggu duduk di samping ranjang Bening hendak berbicara, tapi Bening menahan anak laki-laki itu. Padahal, di ujung lidah Hyunggu, sudah banyak penjelasan yang akan ia tuturkan pada kedua orang tua Bening.

“Kau tidak apa-apa, sayang?” tanya ibu Bening. “Bagaimana perasaanmu?”

Si gadis mengangguk kecil, “Tidak apa-apa, Ma.”

Meskipun ia tidak bisa menutupi kesedihannya. Air mata belum mengering, bulir-bulir masih mengaliri pipinya. Apalagi setelah dokter yang bertugas memeriksanya memberi penjelasan. Akibat hantaman benda tumpul, dua jari tangan kirinya patah, beberapa sendi bergeser sehingga tidak memungkinkan bagi Bening untuk menggerakkan tangan kirinya selincah dulu. Pendeknya, Bening harus merelakan salah satu mimpinya; untuk menjadi pianis dan bekerja di bidang musik.

“Sayang, kami tinggal sebentar ya. Akan cepat kembali, jangan khawatir.” Kedua orang tuanya keluar ruangan untuk menyelesaikan urusan administrasi serta membeli beberapa perlengkapan dan keperluan untuk Bening. Hyunggu yang sedari tadi membisu, akhirnya buka mulut. “A-apa noona a-akan baik-baik s-saja?”

Bening menatap anak laki-laki yang tampak cemas tersebut. “Pulanglah, Hyunggu.”

“Tapi noona,” Hyunggu tidak mengerti kenapa Bening menyuruhnya demikian.

Bening melengos, mengalihkan pandangannya dari Hyunggu. “Mulai hari ini, aku tidak akan jadi noona-mu lagi. Aku juga tidak akan menemanimu membuat pekerjaan rumah.”

“Tapi noona bilang ingin punya adik dan aku juga ingin punya noona, bukankah kita sudah sepakat? Aku ingin terus jadi adik noona,” kata Hyunggu, raut wajahnya keruh, penuh kebimbangan, rasa cemas dan ketakutan yang melebur jadi satu.

Bening menggeleng. “Aku sudah tidak ingin punya adik. Kau boleh berhenti jadi adikku.”

Noona,” panggil Hyunggu.

Pintu berderit. “Oi, Bening! Kau baik-baik saja?” teriakan Hyojong berderu seiring dengan tubuhnya yang menyembul dari arah pintu. Hyunggu dan Bening menoleh bersamaan. Hyojong melirik Hyunggu, tajam seolah bisa menguliti tubuh Hyunggu. “Apa yang kau lakukan di sini? Pulang sana.”

Hyojong merogoh saku, “Kubawakan Snickers.

“O, terima kasih.”

Melihat Hyunggu yang bergeming, Hyojong mendengus lagi. “Kau tuli ya? Pulang sana.” Dengan begitu, akhirnya Hyunggu meninggalkan ruangan dengan langkah gontai. Bening menarik napas panjang. Ia harus berhenti menangis. Hyojong akan meledeknya habis-habisan kalau terus terisak.

Hyojong menatapnya kuatir. “Perempuan memang seram. Aku tidak bisa membayangkan pacar Hyunggu menyerangmu di gudang sekolah dan mendorongmu sampai terjatuh tertimpa besi dan meja-meja bekas.”

Bening nyengir.

“Sudah ah, jangan cengeng begitu. Tidak bisa main piano juga tidak apa-apa, kok.” Hyojong berusaha menghibur. Bening tersenyum, lalu menyuruh Hyojong untuk membuka bungkus Snickers untuknya. Kali ini, tanpa merengut, Hyojong menurutinya.

.

.

.

©2016


Catatan.

  • AKHIRNYA KETAHUAN JUGA SIAPA DEK HYUNGGU SEBENARNYA. tolong yang kemaren bilang kino mantannya bening mana sih, mana sini kuy berantem (eh)
  • di mana ada bening di situ ada jinho, dan… tentu saja hyojong. EHE. mereka kayak trio tuyul deh, gemes. triplet deh ya, kan tiga-tiganya pendeks! hidup smol pipel ;;
  • oke, ditunggu komen dan feedbacknya ya. mwah.
Advertisements

Author: asha

i write to express not to impress, to tell people the way how i become immortal, to find an endless happiness and how to travel the time. i was born to beat, indeed.

10 thoughts on “[Oneshot] The Boy Who Waits For Years”

  1. Wkwkwkkwk kirain mantan pacar ternyata mantan adek. Alhamdulillah bening ga pedo wkkwkwkwk /diguyur kuah indomi/

    Trs hyojongnya gt doang? Dateng, ngusir anak org, bukain bungkus snickers? Mending kerumahku sini yuk bantuin beberes wkwkwkkw

    Ciee misteri kino terungkap~ tinggal tunggu aku x wusok wkwk asik~

    Like

    1. SETAN KAMU ;; masa aku pedo????
      tida. (padahal hwanhee juga 98 bye)
      idih hyojong tuh kawan kesayangan bening taw gaaaa sahabat bagai kepompong taw gaaaa ;3 siapa coba yg mau disuruh bukain snickers???
      emang u kalo ku suruh, mau???? gak kan?????
      cie, tunggu ya giliran wooseok. cus bye. dibayar berapa nich,, nulis u x wooseok???

      Like

      1. KAMU JUGA WANITA PANGGILAN!
        DASAR SUNDAL. (gapake bolong ya karena bukan donat)
        hm. duit papa untuk foya foya dums,
        untuk mencari cowo gans lainnya (cikiciw)

        Like

  2. LEMPAR MEJA BANTING PINTU BUNUH KAKSHA /insert stiker kapak ala line/

    DEMI APA INI TERNYATA KINO ADALAH DD DD-AN NYA BENING HMM ASYEM BENING IH BEGITU AJA GAMAU DIMAAFIN, GABOLE GITU NING, BULAN PUASA INIMAH MUSTI SALING MEMAAFKAN. DENGERIN NOH KATA SMOLJI, UDAHAN DENDAMNYA MAAFAN LAGI JADIIN DD LAGI, AH BENING MUNA MOSOK YG EMESH KAYA KINO GAMAU DIJADIIN DD LAGI HUFT, MUSNAH SANA /Ga/

    DAN DAN ADA MAZ HYOJONG EHE EHE DD DAYOUNG KE MANA MAS? GADIAJAK SEKALIAN? DD DOYOUNG JUGA NOH SAMA KAK DONGHYUN HAHA HAHA /salah lapak oi/
    DAKU MENCINTAI HYOJONG <3<3<3

    Like

    1. Gila ay, kepsloknya keinjek gajah ya ;;-;;
      YA GIMANA MAU MAAFIN SIH, GEGARA KINO PUNYA CEWE GA BENER JADINYA TANGAN BENING PADA PATAH JADI GA BISA MAIN PIANO LAGI HUHUHU memupuskan impian bening gimana dia ga setres ga benci ga kesel liat kino meskipun dia ganteng (ea)
      yaaaaa kan uda dimaafin, tp uda bukan dede lagi, takut disamber lagi sama pacarnya, kino kalo cari pacar suka slengean, takut patah tangan kaki ntar wqwqwqwqwq.
      CIE KAMU GA LIAT TUH SMOLJI SOK SOK GANDENG BENING CIE CIE CIE ;3
      iyadums pasti ada hyojong kan bening x hyojong bagai kepompong ehe ehe ehe.

      Liked by 1 person

      1. Haha gajahnya ikutan tadi kak lupa ngandangin teroz nginjek kepslok ga ngirangira /plak/

        GAPAPA KINO EH PACARNYA KINO HANCURKAN SAJA TANGAN BENING LAGI HANCURKAN, KAKINYA LEHERNYA KEPALANYA SEMUANYAAAAA /seketika disantet kaksha/

        AAAK IYA DEMI APA AAAK SMOLJI DAH BISA GANDENG GANDENG KYAAA JADIAN JADIAN JADIAN HAHA JADIAN POKOKNYA GAMA TAU AH /insert stiker lempar meja ala line/

        KALO HYOJONG X BENING BAGAI KEPOMPONG BERARTI HYOJONG X AYLEE BAGAI ULAT BULU /ngawur/bodo/HAHA

        Like

      2. mashaallah, ay kejam banget itu bening ada salah apa sama kamu sampe dia harus menderita keak gitu huhu tolong jan siksa bening dia anaknya baik kok ;-; HUHU dia pantas disayang drpd dipatah-patahin ;;

        uwu jadiannya ntar dolo, smolji aja belon sadar sama perasaannya, bening nya juga malah out of nowhere gitu??? wqwqwq

        tenang cuy hyojong x bening murni hanya sahabat dari kecil, nda ada feelings yang involved. bening bukan tipe hyojong cikiciw ;3 jadi jangan kuatir.
        (menghindari serangan ciwi ciwi hyojong)

        Like

  3. OHHH JADI……..JADI…….

    SELAMA INI……..TIDAK………..TIDAK MUNGKIN……..

    tolong katakan kasha, semua ini bohong kan? dek hyunggu adeknya bening demi apa yha, aku udah suudzon duluan sama si permen itu wakss…terus….terus…..kenapa……..bening tetiba jadi antagonis begini waktu ketemu mas hyunggu, kenapa…..why….why….kenapa dunia seperti ini kasha tolong jelaskan………../insert emot meteor di line/
    jadi…kapan bening dan adeknya akan akur kembali? btw apakah mas hyojong hanya akan jadi cameo saja disini? aku curiga dia ada hubungan apa-apa sama bening hmm…..apa mungkin hyojong yang malah mantannya bening???? ENTAHLAH, AKU PASRAH DAN HANYA KASHA DAN TUHAN YANG TAU……………………………….

    Like

  4. DEMI APA AKU KETINGGALAN SERIES BENJIJONG /eh/ BENJINO /kek nama rapper sebelah eaa/ UH, BENJIJONG ft KINO :’3 (entah bagaimana selanjutnya kaksha menamai kapel ini)
    YAAMPUN MAAFKEUN DEDE SALAH TEMBAK YA MZ HYUNGGU ;;—;; DEDE KHILAFFF, LAV YUU /abaikan saja kakSha nana sedang super sehat :’3/
    CIEEEE BENJI CIEEE BENJI UDAH MULAI ADA SINYAL SINYAL MO KE ITU~~ JINO CIEEEE JINO Mulai ngegombal dia waks boleh deh boleh asal cepet kukuh deh si BenJi (HIDUP SMOL KAPEL) (HIDUP SMOL PIPEL)
    KAKSHA DEMI APAAN MAKIN UNYU MAKIN EMESH AJA MEREKAAA. Eh tapi darimana sih si Bening-Kino kaka-adekan kenal darimana mereka??? Nggak mungkin kan si Papih Siregar ngoleh2in Bening si Kino :3 JELASKAN KAKSHA JELASKAANNN!!! /ditendang
    BHAY

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s