[Oneshot] Little Sister

f5199e2eab0eb9a56e49ae12f7920ee2

by neo aurora

PTG’s Lee Hwitaek x OC | family | General

 

Siang itu langit tengah berbaik hati menunjukkan sisi cerahnya. Teriknya sang raja siang pun tak begitu terasa karena ia tengah bersembunyi di balik gumpalan awan putih. Jangan lupakan semilir angin yang kala itu berhembus lembut, menerbangkan tiap dedaunan yang rupanya tak cukup kuat untuk terus bertahan pada batang tempatnya singgah.

Lee Hwitaek, pemuda bersurai hitam yang kini tengah duduk di teras rumahnya, menyambi kegiatan tersebut dengan memandang hamparan luas yang bernaung di atasnya. Menikmati setiap inci warna biru yang kini merajai langit – berhubung ia memang menyukai cuaca cerah seperti hari ini. Netranya menangkap gumpalan putih yang kelihatan bergerak, dan imajinasinya pun bangkit. Membayangkan berbagai macam bentuk yang mungkin dimiliki awan-awan tersebut rupanya tak seburuk yang ia kira.

Namun, terlalu lama menatap langit rupanya membuat mata Hwitaek jenuh juga. Tungkainya lantas berjalan, mengarahkan dirinya untuk duduk di atas sofa ruang tamu. Ia memejamkan matanya, membukanya lagi, dan tanpa sengaja netranya bersirobok dengan sebuah pintu bercat mahogany. Pintu kamar milik adiknya, Lily Lee.

Hmm, sudah berapa hari ia tak mendengar suara gadis itu?

Siang bolong begini, biasanya Lily sudah duduk manis di depan komputer — menyaksikan para kekasih virtualnya bernyanyi dan menari sembari meneriakkan fan chant tidak jelas yang dibuatnya sendiri. Atau jika komputernya sedang rusak — seperti kejadian minggu lalu di mana CPU benda elektronik itu kemasukan tikus —, Lily akan mengadukan nasibnya yang ia sebut malang karena tidak bisa bertatap-muka dengan kekasih-kekasih virtualnya pada Antoinette — ikan mas kesayangannya. Atau bahkan Lily akan mengobrol dengan Hwitaek, membicarakan segala hal yang akan dilakukannya andai gadis itu berhasil dinikahi oleh salah satu kekasih virtualnya. Kala Hwitaek protes, Lily akan berargumen bahwa apa yang ia bicarakan itu disebut dengan menata masa depan. Argumen yang sungguh tak berdasar.

Namun, perangai Lily akhir-akhir ini cukup membuat kuriositas Hwitaek — yang biasanya cuek — muncul. Siapa, sih, yang tidak heran jika gadis yang sehari-harinya petakilan dan kelewat aneh itu tiba-tiba mengurung diri di kamar tanpa alasan yang jelas?

Yah, tidak bisa disebut mengurung diri sepenuhnya, sih, karena gadis itu tetap akan keluar pada jam makan. Dasar gembul.

Yang membuat Hwitaek kesal, adiknya itu bahkan tak mau membuka mulutnya sekali pun. Ketika Hwitaek mengumumkan kematian Anto — panggilan kesayangan Lily pada ikannya — pada Lily, reaksi gadis itu tak lebih dari menatapnya datar tanpa bersuara sedikit pun. Tiada jeritan sengsara maupun air mata kepedihan yang mengiringi kepergian ikan mas kesayangan adiknya itu. Hwitaek tercenung, heran. Haruskah ia umumkan perkara lain yang lebih heboh, seperti UFO yang menabrak rumah mereka atau berpulangnya ibu mereka ke pangkuan Yang Maha Kuasa — semoga tak benar-benar terjadi — agar Lily bereaksi lebih dari itu?

Hwitaek hanya bisa mengelus dada. Semoga roh Anto tenang di sisi-Nya, amin.

Kembali pada kasus — kalau ini pantas disebut kasus — di awal cerita. Bermacam spekulasi pun memenuhi benak Hwitaek, memikirkan mana yang kira-kira menjadi latar belakang perilaku tak wajar Lily. Mungkin sedang bertengkar dengan teman karibnya?  Atau habis dimarahi gurunya? Sedang resah? Atau . . .

Entahlah. Berpikir terlalu keras rupanya juga tak bagus untuk kesehatan Hwitaek. Nyatanya, pemuda itu langsung merasakan pening di kepalanya setelah memikirkan Lily — ehem — selama beberapa menit.

‘’Kalau begini, sih, lebih baik langsung kutanyakan saja padanya,’’ gerutu Hwitaek sembari memijit pelipisnya. Perlahan ia beranjak dari tempat duduknya, lantas menghampiri kamar Lily.

‘’Lily,’’ panggil Hwitaek sembari mengetuk pintu tiga kali.

.

Beberapa sekon berlalu dan tiada jawaban apapun.

‘’Kalau mau bertemu orang paling tampan sedunia, buka pintunya, dong,’’

–  eum, sedikit narsis tidak apa-apa, kan?

.

Hanya hening yang didapatnya. Hwitaek mendesah.

‘’Li, biarkan aku mas… eh?’’ Sejenak ia mematung ketika menyadari pintu itu tak terkunci. Ia menilik isi kamar itu, lalu memasukinya. Netranya berhenti berkedip kala melihat sosok adik perempuannya yang sedang duduk di ujung ranjang.

‘’Lily,’’

Si empunya nama menoleh.

‘’Kau kenapa, sih?’’ tanya Hwitaek sambil duduk di samping Lily. Pemuda itu tertegun ketika menyadari adanya jejak air mata di sudut mata adiknya.

‘’Kak . . .’’ menghembuskan nafas, gadis itu lantas menyandarkan kepalanya di bahu Hwitaek.

Bulu kuduk Hwitaek meremang. Sebenarnya tengah kerasukan apa adik perempuannya itu sampai memanggilnya dengan embel-embel ‘kak’?

‘’Aku diselingkuhi,’’

Setelah itu isakan tangis pun memenuhi rungu Hwitaek yang kini melongo.

‘’Tunggu sebentar, Li,’’ sahut Hwitaek. ‘’Siapa yang melakukannya? Dari mana kau tahu? Dan… sejak kapan kau punya pacar?’’

Pertanyaan terakhir sukses menghentikan isak tangis Lily. Gadis itu mengangkat kepalanya, lantas memandang Hwitaek. Oh, jangan lupakan eksistensi kerutan-kerutan yang tengah bersarang di dahi lebarnya.

‘’Begitu. Jadi selama ini kau anggap apa daftar rencana masa depanku?’’

Butuh beberapa sekon bagi otak lelaki di sebelahnya itu untuk memroses pertanyaan Lily sebelum akhirnya mampu menerbitkan sebuah konklusi.

Daftar rencana masa depan? Jangan bilang…

‘’Maksudmu pria-pria berwajah wanita yang sering kau klaim secara ilegal sebagai pacarmu itu?’’ tanya Hwitaek. Diam-diam ia berdoa supaya Lily tidak mengiyakannya.

‘’Salah satu dari mereka sudah punya kekasih dan aku merasa dikhianati. Aku harus bagaimana, kak?’’ keluh Lily, kembali menyandarkan kepalanya pada bahu lebar kakaknya.

Mengabaikan bulu kuduknya yang kembali meremang, Hwitaek mendengus keras, lantas bergeser sehingga kepala Lily terjatuh. Gadis itu menatapnya nanar, namun Hwitaek tidak peduli. Tanpa penegasan pun Hwitaek sudah tahu bahwa ‘iya’ adalah jawaban dari pertanyaannya.

‘’Demi cacing besar Alaska, jadi hanya karena perkara itulah kau lantas mengurung diri?’’

Lily terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya menganggukkan kepala.

Kembali Hwitaek mendengus. Sia-sia saja ia mengkhawatirkan adik satu-satunya itu. Ia berdiri, lantas berjalan dengan maksud mengeluarkan dirinya dari kamar tersebut. Namun suara Lily menghentikan pergerakannya.

”Kau belum menjawab pertanyaanku. Aku harus bagaimana?”

Pemuda itu menoleh. Menatap iris bening adiknya selama beberapa sekon, sebelum akhirnya berujar —

”Cari saja yang menurutmu lebih baik,”

 

Dan ruang tamu kembali menjadi tempat persinggahan Hwitaek. Ia merenung, mengingat konversasi singkat yang tadi sempat ia lakukan dengan Lily. Kalau sudah bersangkutan dengan idola adiknya, ia bisa apa? Bahkan membangkitkan Anto dari kematiannya saja mungkin lebih mudah daripada membujuk Lily agar bisa berpikir lebih logis. Nasib, nasib.

Ngomong-ngomong, sejak keluar dari kamar Lily beberapa menit yang lalu, Hwitaek tidak mendengar suara gadis itu lagi. Ada apa, ya?

 

‘’Astaga!’’

 

Kembali memasuki kamar Lily, Hwitaek disuguhi pemandangan tak wajar yang berhasil membuat rahangnya terbuka. Lily Lee kini terkapar tak berdaya di atas lantai dengan tangan memegang sachet cairan pewangi pakaian yang sudah terbuka. Muncullah dugaan dalam otaknya bahwa adiknya itu baru saja menelan cairan tak-layak-konsumsi tersebut.

Jangan kira Hwitaek akan berteriak panik lantas menelepon rumah sakit, karena satu-satunya yang muncul dalam benak pemuda tersebut adalah,

Bagaimana rasanya menelan cairan pewangi pakaian?

.

.

.

Duh Gusti, sebenarnya apa, sih, yang dulu diidamkan ibunya sampai memiliki putri se-absurd Lily?

~~~

 

NB : insiden tikus masuk CPU sebenernya terinspirasi dari cerita temen SD, hehehe~~

Advertisements

Author: neo aurora

scorpio廬

4 thoughts on “[Oneshot] Little Sister”

  1. Ini……… LILY AKU BANGET MASA DUH TOS SINI DEH ^v^)/

    Awalnya aku kira lily ini pacarnya hwitaek ternyata adeknya, untunglah karena aku mau debutin oc baru buat mashwi ‘-‘)/

    Eh tapi endingnya kok………syalan musnah mau mas hwi musnahhh (lempar bangku)(buang hwi jauh-jauh)

    Nice soraya! ‘-‘)/

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s