[1st Staff Prompt] in Denial

fic - in denial

in Denial

Hui & Bening

Slight! E.Dawn; Shinwon; Yeo One.

G – teenager, AU!highschool, friendship, hurt.

Prompt – by Febby Fatma. 

“Itu adalah cara halus untuk mengingkari keberadaanmu.”

**

—2008

“Minggir!”

Gadis itu terkejut, tapi ia tidak punya pilihan selain menggeser tubuhnya sedikit ke kiri supaya tidak menutup akses untuk masuk ke dalam ruangan. Ia memang sedang berdiri di ambang pintu, berbicara dengan Hyojong yang datang untuk membawakan bekal makan malam dari rumah, yang kalau diusut, sebenarnya Hyojong tidak ingin repot dan ingin memakannya sendiri—toh itu buatan ibunya—di perjalanan ke akademi tempatnya dapat pelajaran tambahan. Namun, Hyojong terus teringat bahwa gadis itu jarang sekali makan masakan rumah karena orang tuanya terlalu sibuk, tidak terhitung berapa kali gadis itu mengonsumsi makanan cepat saji. Lagi pula, gadis itu cukup murah hati menyisihkan setiap hadiah yang ia terima dari ayahnya sepulang perjalanan bisnis untuk Hyojong. Tidak mungkin Hyojong setega itu menyantap habis bibimbab sosis dan puding vanila begitu saja.

“Siapa sih? Galak.” Hyojong berbisik.

Bening mengangkat bahu. “Dia sudah begitu sejak pertama kali aku masuk. Mungkin kepribadiannya memang begitu. Seperti anak orang kaya pada umumnya.”

Hyojong mencibir. “Kau juga anak orang kaya.”

Bening nyengir. Ia mengangkat dosirak di tangannya. “Omong-omong, terima kasih banyak. Sampaikan pada ibumu, oke?” Hyojong mengangguk. “Lain kali, kalau kau akan berangkat, lebih baik mampir ke rumahku dulu. Makan. Ibuku tidak akan keberatan. Supaya aku tidak perlu repot seperti ini.”

Bening mengiyakan supaya percakapan itu segera berakhir. Guru pianonya sudah datang. Ia harus cepat masuk. Hyojong yang cukup pandai untuk membaca sinyal tersebut, pamit. “Sudah ya, aku akan pergi ke hakwon. Kau tidak lupa bawa payung, kan? Malam ini akan turun hujan.”

Bening terdiam.

Hyojong mendengus. “Kau sungguh merepotkan, astaga.”

Gadis itu nyengir.

“Aku akan mampir nanti sepulang dari hakwon. Jangan pulang sebelum aku datang.” Hyojong mengacung-acungkan telunjuknya, separuh mengancam. Bening tertawa, lalu melambaikan tangan sebelum ia berlalu ke dalam ruangan.

Bening duduk di kursinya seraya membetulkan pergelangan blusnya yang tergulung tidak sengaja. Ia memang suka lupa mengecek ramalan cuaca setiap kali akan meninggalkan rumah, untunglah hari ini ia berpakaian sedikit tebal. Setidaknya dia tak akan kedinginan saat menunggu Hyojong nanti.

Pelajaran piano hari ini cukup rumit, saat melakukan latihan bersama-sama dengan enam murid lainnya, Bening berulang kali membuat kesalahan. Ia kerap mendapat lirikan tajam dari laki-laki yang duduk tepat di sampingnya. Laki-laki yang sama, yang ia sebut-sebut sebagai tipikal anak orang kaya yang sombong dan kurang tahu sopan santun. Bening tidak peduli. Meski ia memang salah dan tidak malu mengakui bahwa ia sedikit lamban menerima instruksi dari Pak guru Son, namun bukan berarti dia berhak mendapatkan cibiran macam itu. Tidak semuanya punya otak seencer dia, gerutu Bening dalam hati.

Kelas berakhir setelah sembilan puluh menit berlalu. Bening mengemasi barang-barangnya ke dalam tas. Ia keluar paling akhir dibandingkan dengan murid yang lainnya. Untuk apa bergegas cepat, toh ia akan duduk menunggu di anak tangga pintu depan gedung akademi musik ini sembari menunggu Hyojong datang menjemputnya dengan dua payung.

Bening melangkahkan tungkainya malas. Ia mendorong pintu kaca. Hujan benar-benar turun. Deras dan berangin. Sedikit kecemasan muncul di benak Bening. Kalau begini, Hyojong pasti akan kesusahan. Bening terlonjak kaget saat mendapati laki-laki duduk di anak tangga yang akan ia tempati.

“Belum dijemput?” tanya Bening. Tentu saja basa-basi.

Laki-laki itu menoleh. Setelah lima detik, ia—Hwitaek—menganggukkan kepalanya.

Bening menghela napas panjang. Ia melesakkan kedua tangannya di saku mantel yang ia kenakan, lalu mendaratkan pantatnya di anak tangga yang sama meski jarak antara mereka cukup jauh. Sekitar dua meter. Masing-masing duduk di tepi.

Hwitaek melirik Bening lewat ekor matanya.

Gadis itu mengeluarkan tangan dari saku, lantas menggosok-gosokkan telapaknya. Angin berembus sangat dingin, upaya untuk menghangatkan diri memang perlu. Hwitaek meremas kesepuluh jarinya yang bersarang di saku mantel. Kedua tangannya sedang menggenggam hotpack dan seingatnya, masih ada dua buah lagi di dalam ransel. Ibunya selalu menyiapkan lebih dari dua. Ia menjulurkan tangan kanan dan merogoh ranselnya. Berusaha mencari benda itu di sela-sela buku, partitur dan kotak dosirak yang ia bawa.

“O, Hyojong-a!” Bening berteriak, ia reflek berdiri.

Sesosok laki-laki dengan gerutuan panjang berlari-lari kecil, mencengkeram payung di tangan kirinya dan satu payung lain di sela ketiaknya. Wajahnya tertekuk-tekuk kesal. Sementara itu, Bening justru tersenyum lebar.

“Aku bersumpah, Bening. Kau amat merepotkan!” Hyojong melempar payung yang masih tertutup. Bening nyengir, berterima kasih. Lalu ia mengembangkan benda berwarna biru laut tersebut.

“Ayo pulang. Dingin!” Hyojong berbalik badan, berlari kecil.

Bening menoleh ke arah Hwitaek—yang masih merogoh tas ranselnya. “Kau tidak apa-apa sendirian?”

Hwitaek tersenyum kecut. Apakah itu sebuah pertanyaan yang pantas untuknya? Hwitaek menggumam dalam hati. Bening menggigit bibirnya, sangsi. “Kau yakin supirmu sudah dalam perjalanan ke sini?”

“Sudahlah, pergi sana. Memangnya aku ini anak kecil, ini masih pukul sepuluh, dan aku laki-laki. Untuk apa kau bersikap seperti ini?” balas Hwitaek gusar, separuh tersinggung.

Bening jadi merasa menyesal sudah bertanya.

“Oi, Bening! Ayo!” Hyojong yang sudah sampai seberang jalan, berteriak-teriak.

Bening menoleh ke arah Hwitaek lagi. “Sungguh tidak apa-apa?”

Hwitaek mendengus, ia mendorong pundak Bening sehingga gadis itu menuruni beberapa anak tangga dengan paksa. “Kubilang pergi ya pergi!” setelah sentuhan kasar tersebut, Bening tak lagi menoleh ke belakang. Ia menembus hujan dengan payungnya dan menyusul Hyojong yang sudah mengomel panjang di seberang. Setelah gadis itu menghilang dari pandangan, Hwitaek melempar hotpack yang akhirnya ia temukan di himpitan kotak pensil ke tanah. Ia menyumpah serapah.

**

—2011

“Gila. Jadi sebenarnya, kenapa kau bersikap sekasar itu pada perempuan yang berniat baik padamu, hyung?” Shinwon mendelik, ia mengabaikan secangkir macchiato yang menurutnya masih terlalu panas untuk dicicipi.

Pemuda yang duduk di samping Shinwon, tertawa. “Kau tidak ingat, waktu itu dia bahkan sengaja mencari-cari kesalahan Bening. Tidak bisa baca not balok, katanya. Memblokir pintu, katanya. Meletakkan sepatu tidak rapi, katanya. Nasi tercecer di meja, katanya. Padahal, semua itu hanya akal-akalan Hwitaek hyung saja.”

“Diam kau, Changgu.” Hwitaek yang menjadi topik pembicaran, berkelit dan meneguk minumannya sendiri. Tak bisa ia sangkal, bahwa apa yang dituturkan oleh Changgu memang benar. Changgu dan Shinwon adalah saksi mata hidup yang tak bisa ia hiraukan keberadaannya, mereka juga ada di sana, di akademi musik tempat mereka belajar piano bersama-sama. Benar, ia selalu mencari-cari kesalahan gadis itu. Sampai saat ini, ia tidak tahu kenapa.

Shinwon menarik napas panjang. “Dia kuliah di mana sekarang?”

“Ehwa.” Changgu menjawab cepat, menunggu reaksi Hwitaek. “Fakultas Seni dan Desain.”

Pemuda yang sedang ditatap oleh dua karibnya itu mendesis pendek. “Apa sih? Aku tidak tertarik dengan topik ini. Bisakah kalian bicara tentang hal lain? Aku malas membahas perempuan Indonesia itu.”

“Kau selalu membawa-bawa kewarganegaraannya, hyung. Seolah itu adalah hal buruk,” komentar Shinwon, disusul dengan pelototan dari mata Hwitaek yang memaksanya untuk mengatupkan bibir. Changgu menarik napas. “Setuju. Memangnya kenapa kalau dia orang Indonesia? Dia bisa berbahasa Korea dengan baik. Dia juga lahir dan dibesarkan di sini. Secara teknis, dia adalah orang Korea. Hanya saja kedua orang tuanya berdarah Indonesia. Lagi pula, dia wajahnya juga luma—”

“—Changgu,” potong Hwitaek.

“Kau ingin membayar semua tagihan makan malam ini atau bagaimana?” ancam Hwitaek, membungkam mulut Changgu juga pada akhirnya. Lelaki itu melirik Shinwon, kemudian keduanya terkekeh tanpa suara.

**

—2015 

Bening harus puas duduk di kursi yang tersisa, di dekat pintu masuk, yang artinya harus menghadapi banyak kegaduhan suara pintu dan genta yang berdenting setiap kali ada pelanggan yang masuk. Kedai kopi itu sangat ramai, hampir tidak tersisa kursi untuknya padahal, ia yang bertugas mencari tempat hari ini. Kesal juga rasanya, karena ini pukul empat sore dan kebanyakan pelanggan adalah siswa dan mahasiswa yang baru pulang, ingin meredakan dahaga. Bening memainkan ponselnya, frappuccino yang ia pesan masih utuh belum tersentuh. Begitu pula dengan sepotong tartlet yang sengaja ia beli, jaga-jaga jika masa penantiannya lebih lama dari yang ia duga.

Seorang pemuda duduk sendiri, tak jauh dari meja di ujung dekat pintu. Ia memesan secangkir affogato, membaca majalah tentang desain interior untuk kondominium dan apartemen berukuran mungil, serta ditemani beberapa potong biskuit jahe. Alih-alih menjuruskan seluruh pandangannya pada majalah yang ia pegang, netra pemuda itu justru tertumpu pada gadis yang duduk di meja dekat pintu.

“Oi!” suara genta bebarengan dengan sapaan Hyojong yang melambaikan tangan.

Bening tersenyum. “Maaf ya, hanya tersisa kursi ini.”

“Tidak apa-apa. Eh, ini enak?” tanpa menunggu apakah ia mendapat ijin dari si empunya, Hyojong langsung menyedor banyak-banyak frappuccino milik Bening. Ia tersenyum lebar. “Wah, enak. Aku akan pesan ini juga.”

“Coba rasa lain, supaya aku bisa mencicipi juga,” usul Bening yang kemudian, tentu saja, disetujui oleh Hyojong. Pemuda itu berdiri ke konter untuk memesan. Selagi mengantre, matanya menyapu seluruh ruangan. Matanya menyipit menyadari keberadaan seorang pemuda yang seolah pernah ia kenal. Hyojong mengikuti arah pandang si pemuda. Pupilnya melebar.

Setelah menerima pesanan, Hyojong kembali ke meja di mana Bening menunggu. “Kau tahu, sepertinya kau harus menemui pemuda yang duduk di meja arah jam sepuluh.” Bening sontak menoleh. Pemuda yang dimaksud Hyojong cepat-cepat mengalihkan pandangan.

Hyojong menambahkan, “Sejak tadi, dia memperhatikanmu. Mungkin kau harus menyapanya. Dia, temanmu, kan?”

Bening membenarkan. Ia berdiri, tetapi menarik lengan kaus Hyojong supaya laki-laki itu ikut bersamanya. Hyojong menampilkan raut wajah keheranan, mengapa ia harus ikut, meja mereka akan ditempati orang lain jika dibiarkan kosong. Maka Bening membiarkan Hyojong duduk sementara ia menghampiri pemuda tersebut.

“Hwit-taek?” sapa Bening dengan suara bergetar, ragu.

Pemuda itu mendongak. Ia tampak terkejut saat Bening berdiri hanya berjarak satu meter darinya, menawarkan senyum yang mengembang di pipi. Ia mengerjap, berdeham dan menyesap affogatonya, gugup.

“Apa kabar?” tanya Bening. Sama sekali tidak berharap untuk dipersilahkan duduk. Ia hanya datang untuk menyapa. “Baik.” Jawaban padat dan singkat itu harus diterima Bening apa adanya. Gadis itu manggut-manggut.

“Kau masih dengan laki-laki bersuara cempreng itu?” tanpa menunjuk dengan tangan, melainkan dengan ekor mata, Hwitaek mengisyaratkan Hyojong yang sedang sibuk menghabiskan tartlet milik Bening tiada ampun.

Bening nyengir. “Ya.”

“Kenapa?”

Kening Bening berkerut-kerut. “Kenapa? Apa yang kenapa?”

Hwitaek terdiam sejenak. “Lupakanlah pertanyaanku.”

“Apa kau sibuk? Mau ikut nonton film bersama kami? Hyojong—” tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh Hwitaek dengan suara datar. “Aku tidak nonton film dengan orang asing.”

Kali ini giliran Bening yang membisu. Ia meremas-remas ujung kuku ibu jarinya. Suasana menjadi sangat canggung. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. “Kalau begitu a—”

“Pergi sana.”

Bening menahan napas, mencegah emosinya membuncah ke puncak kepalanya. Ia tidak percaya kepribadian Hwitaek tidak berubah meski sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu. Padahal, ia berharap bisa mengobrol sedikit mengenai kesibukan sehari-hari, atau hal-hal yang berbau basa-basi tetapi tetap bermakna. For the sake of the old days, pikir Bening. Meski rupanya, Hwitaek justru berpikir sebaliknya.

Bening kembali ke mejanya. Hyojong menatap heran. “Kenapa dengan wajahmu?”

Tak memberi jawaban, Bening justru menyicipi frappuccino milik Hyojong yang menurutnya, memiliki cita rasa lebih legit. Hyojong mencibir. “Dia masih sombong dan semena-mena seperti dulu?”

Bening nyengir. “Jinho bilang dia harus mengantar kepala koki restauran ke tempat mereka biasa memasok sayur dan buah. Sepertinya kita harus nonton film berdua saja.” Hyojong mendengus. “Tsk. Kenapa sih dengan temanmu itu? Kita kan sudah janji pergi bertiga. Aku tidak mau kalau berdua saja denganmu. Genre filmnya romantis, suasananya akan aneh kalau kita pergi dua.”

Bening berdecak. “Benar juga. Kalau begitu tukar saja dengan film lain.”

“Kau kan tidak suka film horor,” seloroh Hyojong.

“Jual sajalah, tiketnya. Kita pergi main ke tempat lain, karaoke, misalnya. Urusan Jinho biar aku yang mengomelinya nanti,” usul Bening. Hyojong setuju, ia cepat-cepat mengeluarkan ponsel. Mengutak-atik benda pipih itu selama beberapa menit sampai akhirnya ia tersenyum lebar dan mengajak Bening untuk segera menghilang dari kedai kopi tersebut.

Di sisi lain, Hwitaek menghela napas panjang. Sangat panjang dan berat. Seolah berusaha melepaskan semua beban yang ada di pundaknya. Pemuda itu mengamati kepergian gadis itu dengan mata yang sayup. Sekali lagi ia menghela napas. Banyak yang ia sesali hari ini. Mengapa ia mengenakan kemeja hitam di saat hari sangat terik, mengapa ia memesan affogato padahal ia sebenarnya ingin minum americano, mengapa membaca majalah desain yang sama sekali tidak ia mengerti, mengapa ia memilih kedai kopi ini, dan terutama, mengapa ia bersikap kasar pada seorang gadis yang sudah lama tak ia jumpai, padahal ia bukan pribadi yang sombong—apalagi semena-mena. Hwitaek menyesali banyak hal. Terutama, ketika ia acuh tak acuh saat gadis itu menawarkan sebuah senyuman manis.

**

—2007 

“Hui, bukankah itu temanmu di tempat les piano?” suara ibunya membuat Hwitaek menegakkan pundak agar bisa melihat siapa yang dimaksud. Mobil berjalan perlahan, ia menangkap sosok Bening berdiri di bawah halte, menyipitkan mata akibat terik matahari yang tak bisa ia abaikan. Pepohonan di samping halte sama sekali tidak membantu. Gadis itu kepayahan.

“O, Bening.”

Ibunya berkomentar lagi. “Jadi itu gadis yang kau ceritakan?”

“Iya. Cantik, kan?”

Ibunya tersenyum. “Kau mau ibu memberhentikan mobil dan memberinya tumpangan? Kita bisa makan siang bersama juga kalau kau mau. Di restauran kesukaanmu.” Hwitaek berpikir untuk beberapa detik. Ketika ia akan menjawab ya dengan senyuman lebar, gadis itu berlari dengan melambai-lambaikan tangan—wajahnya riang. Di seberang jalan, ada lelaki yang merengutkan wajah. Ia membawa segelas jus yang terlihat segar. Gadis itu menyeberang dengan hati-hati, tapi juga tergesa-gesa.

Mobil yang ditumpangi Hwitaek melaju perlahan.

“Tidak usah. Biarkan saja dia kepanasan.” Hwitaek membuat keputusan dengan nada ketus.

Ibunya hendak bertanya mengapa, tetapi raut wajah Hwitaek merah padam. Ada emosi yang membuncah tapi tak tersalurkan. Matanya memerah, tapi Hwitaek terlalu kesal untuk menangis, ia sendiri tidak tahu mengapa ia harus marah. Pada siapa, terhadap apa, mengapa, dan sederet pertanyaan lain. Ia tidak bisa menjawabnya.

Kala itu, Hwitaek berharap waktu bisa memberinya keberanian, atau setidaknya kejelasan tentang emosi macam apa yang terus menerus menjeratnya setiap kali Bening ada di sekitarnya. Namun semakin lama Hwitaek menunggu, semakin samar pula jawaban yang ia cari, semakin sulit baginya untuk mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Hwitaek saat itu hanya berpikir tentang satu cara bagaimana menafikkan gadis itu. Namun cara halus untuk mengingkari keberadaan Bening adalah bersikap sebaliknya; memudarkan senyum gadis itu.

Kalau boleh jujur, Hwitaek sungguh menyesal.

.

.

.

©2016

Catatan:

  • HUHU febby maafkan aku yang mengubah prompt kecemu menjadi fanfic yang seperti ini adanya;; semoga kamu suka, semoga pembaca lain suka, semoga fanfic ini nda gagal HUHU. 
  • Maafkan aku mas hui kamu harus jadi karakter yang super ngeselin, percayalah, ini karena prompt saja huhu padahal kamu orangnya baik banget ya, tapi justru kujadikan berbanding terbalik kayak gini semoga kamu di sana nda bersin bersin sambil koprol huhu 
  • Jangan lupa tinggalin komen ya, trims! 
Advertisements

Author: asha

i write to express not to impress, to tell people the way how i become immortal, to find an endless happiness and how to travel the time. i was born to beat, indeed.

8 thoughts on “[1st Staff Prompt] in Denial”

  1. HUI MAH GITU OON BANGET JADI ORANG KALAU SUKA YA BILANG GOSAH SOKSOK GASUKA IH SEBEL SAMA HUI IH UNTUNG KAMU GANTENG MAS KYAAA

    ETAPI INI GAPAPA INI, TEROS ENTAR MAS HUI KETEMU MBA KALIN TERUS NGIRA ITU BENING EH TERNYATA BUKAN TERUS JATUH CINTA TERUS HIDUP BAHAGIA KYAAA
    KAKSHA, MBAAY MENDUKUNG HUI X KALIN KAK SEGERA REALISASIKAN KYAAA SAYANG MAS HUI /ditempeleng/

    Like

    1. waktu itu hui masih kecil masih belum tau apa itu cinta (ea) tapi pas uda gede, uda sadar, eh dianya malah kesel karena ga bisa cari cara gimana cara mengungkapkannya dengan baik, uda gitu kecampur cemburu sama hyojong yauda deh jadinya kayak gitu sok galak padahal dianya baper (haha)

      yasalam kalian ini ya memang terobsesi pada kalin????
      belum debut aja uda diomongin dan ditunggu-tunggu, predebutnya luar biasa;u;
      wkwkwk tbh aku belum tau mau ngepasangin kalin sama siapa hehe,
      binun too much cowo gans, pusing.
      tunggu ajaaaa!

      Like

  2. MAS HYOJONG SINI SINI SAMA AKU AJA NONTONYAAA AAAAA
    Maafkan daku kakshaa aku salpok ke mas Hyojong lagi yg uh, demi apa, perhatian banget ;AAA; kumau punya temen kaya dia sekali-kali kek /curhat macam apa ini/
    Eh si hui mah kalo suka mah bilang aja jangan tsundere gitu lah. Sakit kan jadinya :3
    ffnya Naisseu sekali btw joah ♥♥♥♥

    Like

    1. naaaaaaa aku kangen,,
      yampun emang ya kamu ini selalu baperin salah fokus ke hyojong lama-lama kamu kucomblangin sama dia loh wkwkwk (cie mak comblang)
      dia tu emang perhatian banget–antara balas budi ato emang perhatian, kita belum tau. soalnya bening tuh loyal bgt kalo sama hyojong dia minta apa ya dibeliin, inget yg di fic ‘ask him a favor’ ngga? itu bening beli mobil kesukaan hyojong supaya dia bisa minjem haha

      aw, maaci naaa.
      aku menunggu ficmu juga cikiciw ;u;
      iya getodeeee tsundere ala ala kebanyakan baca manga,

      Liked by 1 person

      1. Ku juga kangen kakshaa 😭😭😭
        Kayaknya karna udah shiper jadi ya fokus ke mereka doang /ditabok/ jangan kak jangan aku masih doyan yenan sama magnae titan :’3 btw tanpa dicomblanginpun aku udah nikung duluan /ditabok part dua/
        Iyaaa ingetlah. Aku bener2 salut sama relationship Bening-Hyojong btw. pertemanan mereka tuh bikin iri 😭
        jangan kak jangan. fic promptku kutulis sejam sebelum deadline karena sedang dilanda writers block akut x”3

        Like

  3. Yang terakhir kaksha…. Asli, asli bener asli tega bener hui aduh kasian kak anak orang kepanasan :”v

    Btw kaksha berulang kali aku berpikir dan berpikir, emang bening ini hidupnya damai banget yha. Selalu dikerumuni oleh pemuda tampan. Pasti bening ini bersyukur dalam hati :”v

    Like

    1. namanya juga terbakar api cemburu yang waktu itu belum ia kenali namanya cikiciw jadinya sok galak padahal dalam hati pengen bgt nyamber bening biar ga jalan sama hyojong ;u;

      bening banyak bersedekah ji,
      ke fakir miskin,
      dan anak yatim piatu,
      makanya ayo niru bening biar bisa dikelilingi banyak pemuda tampans (cie)

      Liked by 1 person

  4. oh jadi ini cerita hui sama bening huhuhu kamu bikin hatiku jadi berasa nano nano shaaaa, tapi nano-nanonya kadaluwarsa jadi banyak paitnya huhuhu
    Kasian banget sih hui, 2007 ke 2015 loh itu, 8 tahun, masih aja mengulang kesalahan yang sama. Padahal kalo ramah dikiiiiit aja, bisa jadi Hui Bening bersatu (lalu aku yang patah hati hm…) Hui disini jutek bangeeeet, nyebelin, padahal kan aslinya cerah ceria. Udah sih Hui nyerah aja, masih ada cewek lain loh. Jangan sampe keduluan shinwon eheh

    btw,
    jinho.. hongseok.. hyojong.. hui.. MBAK BENIIIING TUKERAN TEMPAT YUK MBAAAAKKKK

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s