[1st Staff Prompt] Unbelievable Emotions

Processed with VSCO with acg preset

story by ayshry

[PTG’s] Ko Shinwon

AU!, Psycho, Surrealism/Vignette

PG-17 (Untuk kekerasan dan kata-kata tidak pantas)

Disclaimer : Cast belong to God and the plot is Mine!

Prompt by Airly:

Bagaimana jika aku mencintaimu tanpa batas?

***

“Bagaimana jika aku mencintaimu tanpa batas?”

Shinwon mengernyit. Membiarkan setiap pertanyaan yang nyatanya sulit untuk ia jawab bergulir cepat bagaikan kelereng yang menuruni jalanan curam. Membiarkan si lawan bicara menghujaminya dengan berbagai kalimat yang sebenarnya enggan ia dengar.

“Bukannya kau yang mengajariku arti dari cinta?”

Masih memilih untuk bungkam, Shinwon kini tertunduk; menyembunyikan raut wajah kacaunya. Meremas rambutnya dengan kedua telapak tangan; Shinwon merintih. Membiarkan sang bayu menghadiahi hawa sejuk nan menusuk hingga ke tulang-belulangnya.

“Jadi kau masih akan diam? Sampai kapan?”

Mencoba menahan diri agar tak kehilangan kendali, kini Shinwon mengepal kedua telapak tangannya kuat hingga buku-buku jarinya memutih pucat. Menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan demi menjernihkan pikiran, Shinwon yang sekarang sudah berani menaikkan pandangan.

“Kautahu, semua ini salahmu, Ko Shinwon. Kau yang membuatku menjadi seperti ini. Kau yang menginginkanku dan kau pula yang membiarkanku terjebak hingga ke titik terjauh ini.”

Menggigit bibir bawahnya kelewat kuat, sang pemuda melayangkan tatapan tajam pada seseorang di hadapannya. Melengos sesaat sebelum akhirnya kembali menatap manik sang lawan.

“Apa? Kenapa kau masih memilih untuk bungkam? Tak bisakah kau membalas perkataanku? Atau kau terlalu takut untuk menerima kenyataan bahwa kau adalah seorang … pecundang?“

“Simpan saja semua omong kosongmu itu, aku tidak peduli.” Adalah kalimat pertama yang berhasil lolos dari bibir seorang Ko Shinwon. Nada suaranya datar namun terkesan gusar.

“Oh, akhirnya! Aku senang bisa mendengar suaramu lagi, Shinwon-ah.”

Shinwon mencebik sebal. Sudut bibirnya tiba-tiba tertarik ke atas; memamerkan sebuah senyuman miring. Sungguh bukan seperti Shinwon yang biasanya.

“Pergilah, aku sudah terlalu lama meladenimu dan seharusnya kau sudah cukup puas dengan membuang waktu berhargaku, bukan?”

Shinwon berbalik; bermaksud enyah dari si pengacau suasana hatinya, namun sebuah kalimat membuatnya mengurungkan niat.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, omong-omong.”

Gerakan Shinwon terhenti, namun si pemuda masih membelakangi.

“Bagaimana jika aku mencintaimu tanpa batas, Ko Shinwon?”

“Maka aku akan membuatmu benar-benar menghilang dari dunia ini.”

Kekehan sumbang menguar dari si lawan bicara, sedangkan Shinwon masih pada gerakan awal; mematung di tempat.

“Oh, sayangnya aku sudah mencintaimu tanpa batas!”

“Maka bersiap-siaplah untuk musnah.”

“Tidak. Kau tak bisa memusnahkanku. Percayalah.”

“Siapa bilang?” Kali ini Shinwon berbalik cepat. Melayangkan tatapan tajam lantas mengerang tertahan. “Sudahlah, tak perlu merecoki hidupku lagi. Aku sudah bahagia dan kau tak kubutuhkan lagi. Jadi, pergilah.”

“Tapi Shinwon-ah, apa kau tidak melupakan sesuatu?”

Mengerutkan keningnya gelisah, Shinwon bersiap-siap mendengar kalimat selanjutnya.

“Bukannya kau sudah bersumpah untuk mengubah dunia? Mengubah hidupmu bersamaku, bukan? Dan asal kautahu, itu adalah alasan kenapa aku bisa mencintaimu tanpa batas. Karena sumpahmu.”

“Jangan berbicara omong kosong. Aku tak ingat pernah melontarkan sumpah seperti itu.”

“Kau takut, ‘kan?”

“Apa?”

“Sudah menjadi rahasia umum jika Ko Shinwon adalah seorang pengecut ya—“

“JAGA UCAPANMU!” Terlampau keras Shinwon berteriak. Beruntung, si pemuda tak melayangkan benda-benda di sekitarnya, hanya tatapan bak pembunuh berdarah dingin yang dilayangkan olehnya.

Haha, oh, apa aku salah? Tidak, Ko Shinwon. Kau yang salah! Jadi, buang semua rasa takutmu itu!”

“DIAM!”

“Kautahu, dunia tak lagi melihat kebaikanmu. Mereka lebih suka mencebikmu. Mempermainkan hidupmu. Meluluhlantakkan apa yang telah susah-payah kau bangun. Mengataimu setan padahal mereka juga setan!”

Gemeratuk gigi dapat terdengar jelas. Kiranya, Shinwon benar-benar telah habis kesabarannya, namun ajaibnya sang pemuda masih berdiam di tempatnya berpijak.

“Kau bahkan tak pantas untuk hidup di dunia ini.”

Shinwon mengerang, bersiap untuk menyerang.

“Dunia tak membutuhkanmu, bahkan tubuhmu dengan amat jelas menolak keberadaanmu.”

“OMONG KOSONG!”

“Kau marah?”

Deru napas cepat beradu dengan tawa keras mendominasi ruangan.

“Kau juga kesal terhadap dirimu sendiri, ‘kan? Kau bahkan mengutuk dirimu juga, ‘kan, Ko Shinwon?”

Hening. Untuk beberapa saat keadaan menjadi amat hening. Menegangkan.

“Kau bisu atau bagaimana?”

“JAWAB AKU BERENG—“

Prang.

Melempar tinju ke cermin raksasa di hadapannya, kepalan Shinwon berakhir dengan bersimbah darah. Meringis perih namun dalam hati memekik girang; sebuah senyum kemenangan terukir jelas di wajahnya yang menawan.

Tawa kini berganti arah. Si lawan bicara terbungkam sedangkan Shinwon mulai terbahak. Amat keras hingga terdengar mengerikan. Bukan seperti tawa kesenangan, melainkan tawa penuh penderitaan.

“LIHAT? AKU BERHASIL MEMUSNAHKANMU!” Pekikkan kuat menguar keras di sela tawa membahana. Saking puasnya tertawa, Shinwon sampai memegangi perutnya yang mulai terasa kram.

Haha, aku berhasil! Semuanya sudah kembali seperti semula dan ka—“

“Halo, Ko Shinwon!”

Mendengar sapaan dari sebalik punggungnya, lekas Shinwon berbalik cemas. Matanya membelalak sempurna ketika mendapati si lawan bicara kini kembali berada di hadapannya. Tersenyum. Mengejek.

“Keparat!” Shinwon mengumpat. “Bagaimana bisa kau masih berada di sini?!” Terlalu kalut si pemuda tanpa sadar membawa tungkainya untuk menjauhi si lawan.

“Sudah kubilang, kau takkan bisa memusnahkanku,” ujar si lawan dengan penuh kebanggaan. “Bahkan setelah kau menghancurkan tempat tinggalku. Karena kautahu? Sesungguhnya cermin bukanlah tempat di mana aku hidup. Karena aku hi—“

“DIAM!”

Shinwon kalap. Maniknya berotasi; mengalihkan pandangan ke kanan-kiri; mencari sesuatu yang bisa dijadikan senjata untuk memberikan perlawanan.

“Hei, tenang. Tak ada gunanya kau gelisah seperti itu. Aku akan hidup. Selama kau hidup. Karena aku adalah kau, Ko Shinwon.”

Mencoba membuang segala omong kosong yang mengotori indera pendengarannya, Shinwon berusaha mengingat lebih banyak hal yang ingin diingatnya. Sejak kapan Ko Shinwon menjadi sangat menyedihkan seperti ini? Sejak kapan Ko Shinwon membiarkan kepribadian lain hidup di dalam dirinya? Sejak kapan Ko Shinwon memberikan ruang yang cukup sehingga si keparat itu tumbuh hingga kini dapat menyakitinya?

Shinwon sudah lupa kapan dan bagaimana ia berubah menjadi manusia menyedihkan seperti saat ini.

“Kau yang menciptakan aku, Shinwon-ah, itu artinya kau menginginkanku.”

“Tidak! Aku tak pernah menginginkanmu. Kau ya—“

“Tapi sayangnya, aku tidak demikian.” Berjalan mendekat, sosok serupa namun dengan perangai yang berbeda itu kini memandangi Shinwon lekat-lekat.

“Aku menginginkan diriku. Tanpa kau yang hanya bisa bersembunyi dibalik punggung kokohku dan berteriak memohon pertolongan setiap kali semua yang kau inginkan tak berjalan sesuai kehendakmu.”

“TIDAK!  A-AKU TAK SEPERTI ITU! BERHENTI MEMBUAL BERENGSEK!”

“Relakan saja semuanya, Shinwon-ah. Berikan semua milikmu kepadaku. Aku berjanji akan menjaganya dengan amat baik dan membuat hidupmu semakin indah.”

Tubuh Shinwon bergetar hebat. Tungkai panjangnya kini terasa amat lemah namun si pemuda masih mencoba sekuat tenaga untuk tetap bertahan.

“Karena kau sudah tahu bagaimana akhir hidupmu jika kau terlalu memaksakan diri.”

“DIAM KAU KEPARAT!”

Teriakan kembali menguar, namun kini sosok Shinwon tak lagi serapuh sebelumnya. Entah mendapatkan keberanian dari mana, si pemuda berhasil meraih pisau di atas meja lantas menodongkannya kepada si lawan.

“Pisau? Huh, kau kira bisa membunuhku dengan benda itu? Tidak akan, Shinwon-ah!”

Mengabaikan perkataan sang lawan, Shinwon mulai memain-mainkan senjata, namun—

“Dasar bodoh!”

—sialnya benda tajam itu tak dapat menyakiti sosok di hadapannya.

“Jika kau ingin aku mati, maka kau harus membunuh dirimu terlebih dahulu, bodoh!”

Mengernyitkan kening kebingungan, Shinwon benar-benar di batas kesadaran. Mencoba mencerna perkataan yang tak masuk akal tersebut, pada akhirnya sang pemuda mendapatkan titik terang.

“Oke baiklah, jika memang benar apa perkataanmu itu maka akan kulakukan demi memusnahkanmu.”

Shinwon melayangkan senyuman ketika menyelesaikan kalimatnya. Matanya yang mulai kehilangan fokus pandangan akibat cairang bening yang menggenang kini semakin samar. Setitik likuid tiba-tiba jatuh menggenang di pipi tirusnya bersamaan dengan sebuah tusukan yang ia arahkan tepat di dada kirinya. Shinwon menikam jantungnya.

Bayangan semu yang hanya terekam di penglihatannya kini mulai memudar dan semakin memudar ketika Shinwon memejamkan matanya. Mengabaikan rasa sakit dan perih yang menjalar di seluruh tubuhnya, sang pemuda kini tersenyum dalam perjalanan tidur panjangnya setelah sebelumnya sempat membisikkan sebuah kalimat indah namun terkesan menyedihkan:

“Selamat tinggal, keparat.”

-Fin.

  1. btw kakly, KYAAA PROMPT KECEMU BERUBAH JADI SAIKO BEGINI KYAAA /dibalang/
  2. Sebenarnya gatau ini nulis apaan dan gatau apa hubungannya sama promptnya dan AUK AH
  3. Masih dalam mode galauin mz Shinwon /nangis di ketek mzjung/
  4. Buat mbadit alias kakyeo alias kadut alias istri sahnya mzcheol /uhuk/ makasih idenya kyaaa meskipun di sini tak ubah lagi dan gatau ah ini jadinya apaan BODO AH BODO
  5. Wis, yang udah terdampar tolong tinggalkan jejak kya ❤

-mbaay.

Advertisements

Author: megaton-bomb

Call Me Ay | A-Blood Type | Forever Maknae | Purple Addict.

7 thoughts on “[1st Staff Prompt] Unbelievable Emotions”

  1. NJIR KAAY KUKIRA DIA NGOBROL SAMA CEWE TERNYATA SAMA KEPRIBADIANNYA DIA YANG LAIN SUNGGUH SANGAT TIDAK TERDUGA ;–;
    Kaay warbyazah kek baca percakapan sama Shinwon ;-; WQWQWQ

    Btw Kaay itu ada kelebihan huruf g di cairan kaay XD

    Aku udah tinggalin jejak ya kaay aku dapet apa nih dari kaay? Waks canda byeeeee

    Liked by 1 person

    1. Lah mbaay juga awalnya ngira dia ngobrol sama cewe /LAH KOK/ haha

      Bodo ah bodo itu typo biarin aja biar ceritanya ada yg di salpokin /plak/

      Dapet pelok ciyom dari mbaay kyaaa /dikeplak/ tengs sudah mampir kakzaikonim /uhuk ❤

      Like

  2. Ini kudu diawali dg salken tidak mngingat 1st komen d ptg huehehe ☺ yha eksekusinya dapat beud beeeeuudd wis lah ena rasane mba ay kalo nyumbang ide dn bisa dieksekusi seciamik ini wkwk (besok2 req fic ah uhuk) makasih loh mba ay

    Sek itu a/n no 4 tolong diedit gitu apa hapus sekalian aja ngapaen bawa2 mbadit itu … 😅😅😅 kalo kakyeo nya bole jd istri cheol tp mbadit no no no mbadit maunya yg ga fana phelis /eeeeee

    Wes lah pokoke keep it up yaw ditunggu eksekusi ide2 laennya ❤❤

    Like

  3. ITU SEHARUSNYA NAMA DONNA MUNCUL DI AUTHOR NOTE DONG YHA, INI KALO GADA DONNA GA AKAN ADA CERITA SHINWON NGOMONG SAMA CERMIN BHAY /DIKAMPLENG/

    ASLI MBAAY ANE KOK BAPER, UDAH PTG DEBUTNYA DITUNDA, SHINWON MUKA MELAS, SANGKING MELASNYA SAMPE DOI MEMILIH UNTUK MENGAKHIRI HIDUP.

    UGH SELAMAT TINGGAL YANQ, KUMENCINTAIMU TANPA BATAS :3

    Like

  4. ya allah shinwonie ku kenapa kamu jadi…..
    sinting?
    ya dari pada ngomong sama cermin trus ngamuk ngamuk sendiri trus kesel trus saling menyakiti kan mending duduk di kafe sama aku, ngobrolin perasaan kita, masa depan kita, hubungan kita,
    kan lebih enaks…

    (yha)

    Like

  5. Bentarrrr,,, tadi kukira dia gay wkwk bicara sama cowo tapi lake ngomong cinta… Ehhhh pas nyampe ngomong sama cermin baru ngehh hahha shinwon mukanya jenaka tapi boleh juga dibayangin saiko gini .. Suka sukaaaaa

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s