[Vignette] Bedtime

Processed with VSCO with 10 preset

Bedtime

story by ayshry

[PTG’s] Ko Shinwon – [OC’s] Xu Jiao

AU!, Romance/Ficlet/G

Disclaimer : Cast belong to God and the plot is Mine!

***

Akhir pekan adalah saat yang tepat untuk bermalas-malasan. Kapan lagi seorang Xu Jiao diizinkan untuk tidur hingga matahari kembali tenggelam? Makanya, akhir pekan adalah jadwal wajib Jiao untuk berguling-guling di tempat tidur.

Memang, berbaring melepas penat itu menyenangkan, hanya saja kalau berbaring seharian penuh dikarenakan sakit; maka akan berbeda lagi ceritanya. Sejak sepulang sekolah semalam, Jiao merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Kerongkongannya sakit bila menelan, pun kepalanya bagai ditekan serta terhimpit batu besar. Ia pikir semuanya akan beres dengan tidur malam dan sebutir pil. Kenyataannya, pagi ini gadis Xu itu malah terbangun dengan penglihatan mengabur, kepala berputar-putar serta rasa dingin menjalar yang membuatnya mengigil hebat.

“Jiao-ya, kau tidak sarapan?”

Mendengar suara kakak lelakinya yang sudah berada di ambang pintu kamar membuat gadis itu terpaksa mengangkat kepalanya lantas menggeleng pelan.

“Aku tidak enak badan, Kak.”

Si tengah keluarga Xu lekas mendekat. Cemas, ia letakkan punggung tangannya ke kening sang adik demi memeriksa suhu tubuhnya.

“Sejak kapan kau demam, Ji?”

“Entahlah, sepulang sekolah semalam aku sudah merasa tak enak badan.”

“Aduh, bagaimana ini? Kak Joa sudah pergi menghadiri rapat darurat di kantornya pagi-pagi sekali dan aku harus menghadiri pertemuan dengan mahasiswa baru di kampus. Rencananya setelah mengajakmu sarapan, aku akan segera pergi. Tapi sepertinya—“

“Jangan bilang kau akan membatalkan acaramu itu, Kak. Aku baik-baik saja, tahu! Demam takkan membunuhku, obat dan istirahat sudah cukup untuk memulihkan tubuhku, kok.”

“Kau yakin?”

“Sudah sana pergi, nanti kau malah terlambat.”

Menimbang sejenak, Minghao sejatinya enggan untuk meninggalkan sang adik sendirian. Tapi kegiatan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari juga tak mungkin ia tinggalkan begitu saja.

“Baiklah, aku akan pergi, setelah menghubungi Kak Shinwon.”

“Ha? Kenapa Kak Ming harus menghubunginya?”

“Untuk memintanya menemanimu. Sudah jangan protes, seharusnya aku yang menjagamu di sini tapi kegiatannku benar-benar tak bisa ditinggalkan. Tunggu di sini dan jangan berbuat macam-macam, aku akan segera meminta Kak Shinwon ke sini.”

“Ta—“

Sstt, jangan banyak bicara nanti kau malah tambah sakit.“ Mengecup puncak kepala sang adik singkat, pemuda berambut cokelat itu melempar senyuman. “Maaf, aku tak bisa menemanimu, aku pergi dulu ya, Ji.”

Tanpa sempat melontarkan protes lagi, Jiao pasrah. Sebenarnya ia tak masalah jika Shinwon yang menjaganya, toh mereka sudah lama menjadi tetangga dan memang sering saling bantu satu sama lain. Masalahnya adalah … bagaimana Jiao mengendalikan perasaannya ketika hanya ada dia dan lelaki pujaannya di rumah nanti? Oh sial, sepertinya hari ini akan menjadi hari terpanjang seumur hidupnya.

***

Shinwon baru saja menjejakkan kakinya di ruang tamu keluarga Xu. Seperti biasa, pemuda itu memang sudah terlalu sering keluar-masuk rumah tanpa perlu menunggu dibukakan pintu—ia bahkan sudah hapal password pintunya. Berbekal sekotak bubur juga sebuah kantung kecil berisikan obat-obatan, lekas ia seret kakinya menuju lantai dua rumah dan berhenti di depan pintu kayu bercat hijau muda.

“Jiao-ya?” Perlahan, ia dorong pintu mahoni itu dan melongokkan kepala ke dalam sana; disambut dengan eksistensi seorang gadis yang terngah bergelung di dalam selimutnya.

Tiba-tiba gelak tawa menguar bersamaan dengan langkah panjangnya yang memasuki kamar. Meletakkan kotak bubur juga kantung obat ke atas nakas di sebelah kasur, pemuda itu kini menjatuhkan bokongnya di sudut kasur dengan tawa yang masih memenuhi ruangan sunyi itu.

“Jadi … kau bisa sakit juga, ya?”

Jiao berdecak sebal. Lihatlah, belum apa-apa pemuda itu sudah membuatnya sebal duluan. Harusnya tadi ia benar-benar menentang ide sang kakak tentang mengundang pemuda tinggi itu.

“Oi, sejak kapan seoang Xu Jiao berubah menjadi gadis pendiam begini, huh?”

Menarik selimut untuk menyembunyikan wajahnya, agaknya Jiao benar-benar dalam mood yang buruk untuk melayani guyonan Shinwon yang biasanya mampu membuatnya tergelak keras.

“Hei-hei, jangan merajuk. Ayo makan dulu, setelah itu baru minum obat. Joa dan Minghao sesibuk apa, sih sampai tak memiliki waktu untuk mengurus bayi besar ini, haha.”

“Berisik!”

Jiao bangkit dari tidurnya meski sakit di kepala semakin menyiksa yang ia dapat. Refleks, kedua tangannya kini memegangi kepala dan memasang raut wajah menahan sakit.

“Siapa yang menyuruhmu bangun, bodoh!” Shinwon mendekat, meletakkan tangannya di kedua pundak sang gadis lantas menuntunnya untuk kembali berbaring. “Aku menyuruhmu makan bukan bangun, tahu!”

Kini Shinwon sibuk mengatur posisi Jiao agar memudahkannya mencerna makanan. Selanjutnya, pemuda itu beranjak mengambil segelas air hangat dan membuka kotak bubur yang dibawanya tadi.

“Ayo buka mulutmu.” Shinwon mulai menyendokkan bubur dan mengarahkannya ke bibir pucat si gadis.

Sang gadis menurut; menerima suapan pertama bubur yang membuat keningnya tiba-tiba berkerut juga ekspresi wajah yang sulit diutarakan.

“Kenapa?” tanya Shinwon cemas.

“Pahit. Aku tak mau makan lagi, Kak.”

Decakan sebal yang diterima oleh Jiao. Jika saja Shinwon tak ingat bahwa gadis itu tengah sakit, mungkin kening mulusnya sudah menjadi merah padam karena jitakan.

“Bukan buburnya yang pahit, tahu! Lidahmu itu yang bermasalah. Ayo makan. Aku tak menerima penolakan, omong-omong.”

Tsk. Menyebalkan! Tahu begini, lebih baik aku sendirian saja di rumah.”

“Lihat, satu suapan saja sudah membuatmu kembali mejadi Jiao cerewet! Ayo makan lagi, hmm lima suapan saja, bagaimana?”

“Dua.”

“Tiga. Tiga suapan, deal?”

Mendesah kalah, terpaksa Jiao mengiyakannya. Tubuh lemahnya masih tak mampu untuk berdebat, makanya mengalah jalan satu-satunya agar ia terbebas dari pemuda menyebalkan itu—meski sejatinya Jiao malah berharap kebersamaannya dengan Shinwon berlangsung lebih lama lagi.

Shinwon tersenyum senang; kembali menyendok bubur dan menyuapkannya secara teratur. Meski suapan sudah memasuki angka keempat, Shinwon tak kehabisan akal untuk membuat Jiao menerima setiap suapan darinya hingga seluruh bubur di kotak tak bersisa.

“Anak pintar. Sekarang minum obatmu dulu.” Menyodorkan dua butir pil dan segelas air, pemuda itu juga membantu gadis Xu untuk menelan obatnya. “Oke, saatnya untuk tidur. Lekas pejamkan matamu.”

Untuk kali ini Jiao memilih untuk tak langsung mengikuti perkataan si pemuda. Ia malah membuka matanya lebar-lebar meski akibatnya putaran di kepala semakin menyiksanya.

“Kenapa?”

“Aku tidak mengantuk.”

“Bohong. Sudah sana tidur, kujamin ketika kau bangun nanti tubuhmu akan merasa baikan.”

Jiao menggeleng cepat. Diam-diam, gadis itu masih memikirkan cara agar si pemuda tinggal lebih lama dengannya.

“Ada apa lagi, anak manja? Tak ingin kutinggalkan, ya? Haha, tenang saja aku tak akan ke mana-mana, jadi tidurlah. Ketika kau bangun nanti, aku masih ada di sampingmu. Aku berjanji.”

“O-oh? Ya! Siapa bilang, huh? Aku hanya … hmm, tidak mengantuk, setidaknya belum mengantuk. Dasar Kakak sok tahu!”

Gelak tawa kembali memenuhi ruangan. Shinwon yang awalnya duduk di sudut kasur kini memilih untuk berbaring di ruang kosong sebelah si gadis.

“Ingin kuceritakan sesuatu?” Shinwon melempar senyum lantas menyelipkan tangan kanannya ke bawah leher si gadis. Tangan yang satunya ia gunakan untuk menarik kepala si gadis dan meletakkannya di dada; mendekapnya erat mencoba memberi kenyamanan. “Sakit itu tak enak, ‘kan, Jiao-ya?”

Jiao syok. Tindakan tiba-tiba itu sempat membuatnya lupa bagaimana caranya bernapas juga mengakibatkan jantungnya berdetak tak karuan.

“Makanya kubilang juga apa, jangan terlalu menyibukkan diri. Jika sudah seperti ini mau gimana lagi, huh?” Shinwon masih membiarkan bibirnya terus-terusan berbicara; mengabaikan detak jantung Jiao yang sejatinya terdengar juga olehnya. “Tapi … bukannya sakitmu ini membawa berkah? Maksudku … hei, kau jadi bisa berduaan denganku dan mendapatakan pelukan dariku! Kau senang, bukan?”

Semburat merah sudah sejak awal merambat di pipi Jiao. Memejamkan matanya erat-erat dengan tubuh yang menengang, ia mencoba mengabaikan segala ocehan Shinwon yang tak henti-henti memenuhi rungunya. Jiao salah tingkah. Tak tahu harus berbuat juga berkata apa. Diam adalah pilihannya sekarang, meski ia tahu, semakin lama ia terdiam semakin banyak ocehan yang menguar dari bibir pemuda itu.

Kak Shinwon menyebalkan!

“Hei, sudah tidur? Katanya tadi tidak mengantuk. Hmm, pelukanku membuatmu lekas jatuh tertidur, ya? Oh, kalau seperti itu bagaimana jika kau berjanji satu hal padaku?”

Masih diam, Jiao yang mulai merasakan kantuk mencoba untuk tetap tenang seolah ia benar-benar tertidur.

“Jika kau tak bisa tidur, silahkan panggil aku. Aku akan memberikanmu pelukan hingga kau terlelap.”

Shinwon tertawa jahil. Mengusak rambut Jiao sembarangan, ia kemudian memberikan tepukan  pelan beraturan di pundak sang gadis.

“Jangan membuatku khawatir. Jangan sampai jatuh sakit lagi. Mengerti?” Mengakhiri konversasi sepihakya, Shinwon kecup kening Jiao sekilas lantas kembali mengeratkan pelukan dan turut memejamkan mata. “Selamat terlelap, Jiao-ya.”

-Fin.

Selamat debut Shinwon-Jiao kya! ❤

Big thanks bust Gecee yang udah bantu mikirin plot ketjeh ini meski akhirnya jadi gaje dan mbuhlah, fic receh banget ini XD

So, mind to review?

-mbaay.

Advertisements

Author: megaton-bomb

Call Me Ay | A-Blood Type | Forever Maknae | Purple Addict.

8 thoughts on “[Vignette] Bedtime”

    1. Begini dibilang manis? Astaga kaaaak inimah receh banget wakaka😂😂

      Thanks yo kak, lain kali jangan mabok kalo tak todongin mikir plot lagi bahaha😂😂♥️

      Like

      1. Manis ini kaaakkk… Daku senyum senyum sendiri ini bacanya bnran…
        Woke kak dengan senang hati kumembantuu.. Asal kudu ditodong sm mooboard kece dlu sbg pemancing(?) ide XD mangats kaayyy 💕💕

        Like

  1. kaay berasa ji yang lagi di sayang shinwon habisnya manggilnya ji sih duhhhh baperlah :””)

    MANA ITU DIPELUK AWWWWWW KAKKKK JI LEBIH TERTARIK SAMA INI LAH BANDING MATKUL XD

    jiao x shinwon, aku ngestan kaliaaaan XD

    Like

  2. ALLAHUAKBAR INI PADAHAL AKU NGGAK TAU SHINWON YANG MANA TAPI KOK BAPERKU SELANGIT ….
    Cowonya cerewet siih tapi realisasinya itu lhooooo😂😂😂 duhhhhhhhh

    SYUKAAA LANJUTKAAN💕💕💕💕

    Like

  3. Bedaaa ya kalo baca ff castnya bias.. Suka jungkir balik sendiri wkwkwkwkwkkwwkwk ahhhhhh aku bacanya sambil nahan tawaaaaa nihh udah malemmm wkkwk jadilah muter2 dikasur wkwkwkwk uri shinwoniiii manis sekalii… Sok cheesyyy… Bikin tambah cuinntahhh hahahha lagi lagi lagiiiii….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s