[Oneshot] Alien

yuto3.jpg

by. ashaxchanx

Adachi Yuto & Izumi Chinatsu

G – fluffy ; romance.

“Apakah kau percaya alien?”

“Apakah kau percaya alien?”

Waktu itu, aku memberanikan diri untuk duduk di seberang mejanya. Gadis itu hari ini tidak memakai syal, atau topi krem seperti kemarin. Ia memakai kaus kuning terang dengan celana denim. Di punggung kursinya, tersampir mantel panjang yang tebal. Mendengar pertanyaanku, ia mendongak dan kedua ujung alisnya bertaut. Sepertinya, di dalam benak gadis itu muncul pertanyaan mengenaiku.

Aku nyengir. “Kau suka membaca. Mungkin kau tahu sesuatu tentang alien?”

Gadis itu masih tidak bersuara.

Aku jadi salah tingkah dan merasa sangat malu. Gadis itu kembali pada bacaannya. Ia mungkin menganggapku orang aneh waktu itu. Tangannya yang kecil, menggenggam pena dengan bulu-bulu di bagian ujung atasnya, mencatat. Parahnya, aku mungkin dianggap pengganggu. Dia sedang sibuk belajar dan aku bertanya hal-hal konyol.

Gadis itu menyobek kertas dari buku catatannya. “Ini daftar buku soal alien.”

Pupil mataku melebar.

“Raknya di bagian sana,” gadis itu tersenyum lembut, menunjuk dengan telunjuknya yang kecil. Aku balas tersenyum seraya mengulurkan tangan kanan. “Salam kenal. Aku Adachi Yuto.”

Sungguh, aku tidak tahu keberanian apa yang merasuki tubuhku sehingga aku bisa segamblang itu memperkenalkan diri. Gadis itu terlihat ragu sesaat. Ia mengamatiku cukup lama. “Percakapan soal alien tadi cuma basa-basi ya?”

Ekspresi wajahnya tampak kecewa.

Aku menggigit bibir bawahku.

“Sebenarnya tidak sungguh-sungguh ingin tahu soal alien, kan?” ia menohokku lagi. Netra hitamnya membulat, masih tertuju padaku. Aku menggaruk pelipisku yang tidak gatal. “Apa aku boleh jujur?”

Keningnya berkerut.

“Selamat datang di bumi,” kataku. “Apakah kau alien yang tersesat?”

Wajahnya semakin mengeruh. Aku mati-matian berusaha mencari cara agar tidak terdengar kasar atau aneh. Namun ekspresinya justru menjelaskan sebaliknya. Gadis itu mengepak barang-barangnya, lalu memasukkannya dalam tas dan meninggalkan meja. Aku terlonjak kaget sewaktu dia berlalu tanpa kata-kata. Aku mengejarnya.

“Hei, tunggu!”

Langkah kaki gadis itu semakin cepat. Ayolah, tiga kali langkah kakinya seukuran dengan satu langkah kakiku. Tentu saja aku bisa mengekornya dengan cepat. Aku berhenti tepat di hadapannya supaya ia tak lagi berlari.

“Mantelmu tertinggal,” kusodorkan pakaiannya yang memang tak terambil saat ia terburu-buru meninggalkan perpustakaan umum kota. Ia mengambil alih mantelnya dengan tangan kiri, tanpa menengadahkan wajahnya untuk melihatku.

Aku menarik napas. “Kenapa kabur?”

“Kau memanggilku alien.”

Oh. Dia lari karena aku menyebutnya alien.

“Maksudku, kau cantik.” Penjelasan singkat dariku itu tidak membuatnya menggerakkan kepalanya. Ia masih menunduk. Aku berdeham. “Kau cantik, tidak seperti manusia. Jadi, mungkin kau alien yang sedang melakukan perjalanan panjang dan berhenti di bumi.”

Tubuh gadis kecil itu berkelit dan melewatiku, melanjutkan langkah.

“Oke, oke, maaf kalau aku sedikit kasar dan ide tentang alien membuatmu kesal. Tapi bisakah kau memberitahuku namamu, paling tidak?” aku berjalan mendahului gadis itu dan mundur ke belakang supaya ia bisa tetap berjalan dan pandanganku tak lepas darinya.

Gadis itu berbelok ke kiri dan masuk ke toko bunga. Toko bunga tempatku membeli pot kaktus. Paman pemilik toko mengenaliku begitu aku masuk. Ibuku sering beli dan keluarga kami berlangganan membeli bunga potong karena ibu suka seni merangkai bunga. Paman di balik konter langsung menyapaku. “Oh, Adachi-kun? Beli kaktus lagi? Atau bunga potong pesanan ibumu seperti biasa?”

Aku menggeleng. Paman pemilik toko terlihat bingung. Tapi kemudian perhatiannya teralihkan karena gadis kecil itu berbicara padanya, meminta sebuket bunga matahari dibungkus dengan kertas cokelat dan kartu ucapan. Setelah buket bunganya selesai, ia membayar dan langsung meninggalkan toko sembari membungkukkan badan berterima kasih. Aku masih mengekornya.

“Namaku Adachi Yuto.” Ulangku.

Dia mengabaikan aku.

“Kalau kau benar-benar alien, aku akan merahasiakannya dari semua orang,” ujarku. Gadis kecil itu menuruni tangga menuju stasiun kereta bawah tanah. Aku bersikeras mengikutinya dari belakang.

“Namaku Adachi Yuto.” Sergahku lagi.

Gadis kecil itu menggesekkan kartu transportasinya dan lagi-lagi meninggalkan aku lebih awal. Energinya cukup besar juga. Aku sudah sedikit terengah dan keletihan mengimbangi langkahnya sementara gadis itu masih berjalan cepat tanpa jeda.

“Izumi-san?” sebuah panggilan membuat gadis kecil itu menoleh reaktif. Di sebelah tenggara dari posisinya berdiri, ada laki-laki yang menyapanya tersebut, melambaikan tangan. Senyum gadis kecil itu merekah. “Yamazaki-san!”

Kuhentikan langkahku.

Namanya Izumi Chinatsu, gumamku dalam hati. Berkat telingaku yang peka ini, aku ingat soal teman gadis kecil yang muncul di toko buku saat ia sedang menunggu dengan dua buah es krim dan baru saja, seseorang memanggil dengan nama belakang.

Gadis kecil itu mengangsurkan buket bunga. “Maaf aku tidak bisa menjenguk nenek. Aku akan datang lain hari.”

“Tidak apa-apa, Izumi-san. Bunganya cantik, nenek pasti suka. Terima kasih banyak,” pria yang dipanggil dengan sebutan Yamazaki tersebut kemudian berpamitan dan segera naik ke kereta yang akan berangkat lima menit lagi.

Izumi Chinatsu melambaikan tangan ramah.

“Namaku Adachi Yuto,” ini adalah pengulangan kesekian kali yang kulakukan padanya. Gadis kecil itu menoleh, terkaget karena aku belum juga pergi. “Izumi Chinatsu.”

Akhirnya gadis itu menatapku dan menyebutkan namanya. Aku tersenyum tipis, lega. “Maaf aku memanggilmu alien. Soalnya aku tidak pernah melihat gadis secant—”

“Aku harus pulang. Permisi.”

Dia berlari, kemudian memasuki kereta. Aku tidak sempat mengejarnya. Aku juga tidak punya tiket untuk naik kereta yang sama. Dari kaca kereta, aku bisa melihat gadis itu melempar pandangannya ke arahku. Cepat-cepat kulambaikan tanganku dan dia secepat itu juga membuang muka.

Wajahnya bersemu merah.

*

Rumah itu bercat kuning. Harus kuakui kalau aku tidak bisa berhenti memikirkan gadis bernama Izumi Chinatsu tersebut. Hari inipun, aku sampai mengikutinya. Aku sengaja menunggu di stasiun yang sama, bersembunyi di dekat loker umum dan membiarkannya lewat. Ia membawa ransel kuning. Selepas dari stasiun, ia berbelok ke kedai minuman dan membeli segelas susu cokelat—sepertinya?—atau susu kocok, atau mungkin juga teh susu karena warnanya cokelat keruh. Gadis itu berjalan dengan santai. Sangat pelan, dua kakinya sangat kecil. Sehingga setiap empat langkahnya, bisa kutempuh dengan satu kakiku.

Rumah itu bercat kuning. Dengan teralis putih gading dan salah satu kelambu berwarna serupa dinding. Izumi Chinatsu menekan bel, lalu menyandarkan punggungnya seraya menunggu. Seperti biasanya, ia mengetuk-ketukkan ujung sepatunya di ujung lainnya, mulutnya sibuk menyedot minuman.

“Chinatsu! Maaf menunggu lama.”

Seorang gadis muncul dari pintu dengan senyum lebar. Gadis yang sama, gadis yang ia tunggu sambil membawa es krim di toko buku kapan hari. Izumi Chinatsu tersenyum lebar. “Tidak apa-apa. Kak Akiko mau?” ia menyodorkan gelas teh susunya.

Yang dipanggil Akiko tersebut menggelengkan kepala. “Untukmu saja.”

Izumi Chinatsu tersenyum lagi. Ya Tuhan, dia terlihat sangat manis ketika pipinya terangkat naik. Keduanya berjalan beriringan dengan santai.

“Apa laki-laki itu masih mengikutimu? Siapa namanya?” tanya Akiko, ia menoleh ke kiri menghadap Izumi Chinatsu dan alisnya berkerut. Izumi Chinatsu mendongak, mengedikkan pundak. “Adachi Yuto? Entahlah.”

AKU?

DIA MEMBICARAKAN AKU?

DIA INGAT NAMAKU!

Pletak! BRAK!

“Awww!” kakiku terantuk batu besar yang diletakkan di pinggir trotoar untuk menutupi lubang yang ada agar tidak menimbulkan kecelakaan untuk pengendara sepeda.

Izumi Chinatsu dan Akiko menoleh reflektif mendengar teriakanku. Mereka terbelalak, terutama Izumi Chinatsu yang terlihat kaget. Keberadaanku tentu saja sangat mengejutkan baginya. Aku nyengir kuda, berharap mereka tidak berpikir macam-macam, meskipun memang benar kalau aku mengikutinya dari stasiun.

“A-adachi Y-yuto?” Izumi Chinatsu menatapku agak ragu.

Aku nyengir kuda—lagi. “Halo.” Kemudian menepuk-nepuk celanaku yang tertempel debu dari batu besar. Izumi Chinatsu merogoh saku ranselnya, lalu menyodorkan plester ke arahku.

Kuterima seraya berterima kasih.

“Ayo kita pergi Chinatsu. Kita hampir terlambat,” ajak Akiko, menarik lengan Izumi Chinatsu yang masih memperhatikan ujung kakiku. Aku meringis karena rasanya benar-benar ngilu.

“Chinatsu?”

“Kak Akiko duluan saja,” kata Izumi Chinatsu, terdengar sedikit ragu pada awalnya. Akiko keheranan. “Ini wawancara pekerjaan kita, Chinatsu. Kalau kau terlambat, bagaimana jika kuota untuk tim yang diberangkatkan ke Korea sudah penuh?”

Izumi Chinatsu mengangkat bahu. “Kak Akiko duluan saja. Setidaknya, kalau aku gagal masuk tim, Kak Akiko tetap harus masuk tim.”

“Chinatsu,” sergah Akiko.

“Tidak apa-apa,” Izumi Chinatsu mendorong Akiko agar segera pergi. Apalagi, tak lama kemudian ada bus yang melintas. “Cepat, cepat, cepat. Busnya sudah datang.”

Akiko mengalah. Ia berlari kecil dan menaiki bus tersebut. Dari dalam bus, Akiko melambaikan tangan. Izumi Chinatsu membalasnya dengan senyuman tipis. Kemudian ia berteriak, “Semoga berhasil!”

Bus menghilang di tikungan.

Izumi Chinatsu berdeham. Aku jadi salah tingkah. Sengaja aku mencari tempat lebih menepi, lalu melepas sepatuku. Aku meringis lagi. Pantas saja sangat ngilu. Ternyata ujung ibu jari kaki kananku terantuk batu sampai berdarah. Izumi Chinatsu mundur dua langkah. Aku mendongak melihat ekspresi wajahnya.

“Kau takut darah?”

Izumi Chinatsu tidak menyahut.

“Apa kau vampir? Drakula? Setiap kali melihat darah kau mendadak merasa haus dan mau tidak mau, menghindar supaya tidak membunuh manusia?” tanyaku. Kemudian kusadari lima detik setelahnya, kalimat itu terdengar sangat konyol.

Izumi Chinatsu mengulum bibirnya. “Kenapa mengikutiku?”

Aku tidak langsung menjawab.

“Aku bukan vampir atau drakula. Apalagi alien.”

Aku menyobek bungkus plester dan menempelkannya pada ujung ibu jari kakiku. “Bukan, ya?”

“Tapi aku tahu beberapa buku tentang vampir dan drakula. Kalau kau mau, aku bisa menuliskan pengarang dan tahun terbitnya,” Izumi Chinatsu menawarkan diri. Aku tertawa kecil. “Aku punya banyak komik tentang vampir dan drakula. Juga alien. Semua karakter utama, sangat cantik.”

“Aku tidak mengerti.”

Aku memasang sepatu. “Lalu ada manusia biasa, jatuh cinta pada alien. Pada vampir dan drakula. Tentu saja karena mereka sangat cantik. Dan diam-diam berbahaya. Dulu, kupikir itu hanya cerita saja. Supaya menarik dan mengundang pembaca. Tapi hari ini, aku membuktikannya sendiri.”

Kedua ujung alis Izumi Chinatsu bertautan.

“Kemarin aku bertemu alien yang cantik. Hari ini aku mengikutinya. Lalu aku terluka. Lihat, kau diam-diam berbahaya,” aku menunjuk kakiku dengan jari. Izumi Chinatsu mengerjap dengan pipi merona merah. “A-aku b-bukan alien.”

Aku tertawa tipis dan bangkit dari duduk. Kami berdua berjarak dua meter satu sama lain. Dia sangat kecil. Mungkin hanya sebatas sikuku. “Aku Adachi Yuto.”

“Aku ingat namamu.”

“Aku delapan belas tahun.”

Izumi Chinatsu terlonjak kaget. Kedua pupil matanya melebar. “D-delapan b-belas?”

“Iya. Kenapa?”

Izumi Chinatsu cepat-cepat menggelengkan kepala. Ia menarik tali ransel dan hendak berbalik badan. Kusela sesegera mungkin. “Boleh aku ikut?”

“Ke mana?”

“Mengantarmu? Ke tempat wawancara kerja?”

Izumi Chinatsu tampak ragu.

Aku tersenyum, “Hanya untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa kau harus naik bus, bukan menghilang dengan cara berteleportasi atau naik piringan serupa UFO untuk pergi ke suatu tempat.”

Izumi Chinatsu menghela napas. “Aku bukan alien.”

“Kalau begitu biarkan aku membuktikannya sendiri,” aku bersikeras.

Izumi Chinatsu akhirnya berjalan ke halte, dengan aku mengekornya dari belakang dan ia sama sekali tidak menahanku atau melarangku mengikutinya. Aku tersenyum simpul. Dari tempatku berdiri, ia masih saja terlihat kecil. Sangat kecil aku ingin meremasnya dalam dekapanku. [ ]

 .

.

.

© 2016


Advertisements

Author: asha

i write to express not to impress, to tell people the way how i become immortal, to find an endless happiness and how to travel the time. i was born to beat, indeed.

1 thought on “[Oneshot] Alien”

  1. Huaaaa aku serasa nonton doramaaaaaaa huhuhuhuh
    Baru kali ini ada cowok yang nyamain kecantikan cewek yang ditaksirnya sama… Alien + vampire??!! Ck ck ck, emang sesuatu banget ya ini Yuto Senpay… kalo chinatsu beneran mau diajak naracap, beruntung banget tuh yuto, dimana lagi ada cewek yang mau disamain sama alien LOL
    Aku paling suka scene yang Chinatsu seolah-olah cuek sama Yuto pas di perpus, taunya dia ngelist judul buku bertema alien huahuahauahuah (kalo aku jadi chinatsu udah aku cuekin beneran sih tapi LOL). Terus yang yuto ngikutin plus nguping chinatsu + akiko (AKIKO MUNCUL, YEAAAYY!) Aku suka dialog-dialognya Yuto sama chinatsu disitu <333333
    TERUS KALIMAT TERAKHIR ITU LOH “Sangat kecil aku ingin meremasnya dalam dekapanku” SEGERA REALISASIKAN! AKU MENDUKUNGMU YUTO SENPAY. DEKAP DARI BELAKANG YA?! OKE?! OKE!
    Tapi beneran, ini serinya Yuto Chinatsu ini ngegemesin bangeeeeeeeet, rasa2 first love gitu, polos.. bikin cengar cengir yang baca. GEMES!
    Ini lebih panjang dari cerita yang pertama tapi makin bikin nagih. Aku mau lagiiiiiiiii

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s