[Today Playlist] Classic but Adore It

2caf888c8ab648c1301f3125847aa275

Angelina Triaf ©2016 Present

Classic but Adore It

Pentagon Member | Romance, Fluff, Comedy, Friendship | G | Drabble-Mix

Just ten different stories about those guys and their drama’s scripts.

0o0

I know that you’re pretty.

Kakinya selalu melangkah sesuai kehendak. Tak memedulikan tanggapan orang, pujian orang atau bahkan hinaan yang silih berganti terlontar dari mulut mereka semua. Tak ingin tahu juga, siapa peduli? Tipikal seorang Wooseok.

“Oh, maaf, aku terburu-buru.”

Tetapi, tak ingin tahu bukan berarti tak mengetahui, ‘kan?

Gadis cantik yang tadi … mustahil jika Wooseok tak langsung mengenalinya hanya dari tatapan mata sekilas.

Seseorang di masa lalunya.

0o0

Between the forest of buildings.

Langkah mereka beriring menjejaki trotoar, dengan jalanan yang cukup ramai di siang hari yang lumayan terik. Kino mengipasi wajahnya dengan amplop cokelat yang sedari tadi ia pegang.

“Melelahkan, melamar kerja itu ternyata sangat sulit.”

“Semangat, masih ada tiga perusahaan lagi!”

Untuk sejenak Kino terhipnotis oleh pancaran cahaya imajiner dari teman perempuannya, membuatnya lupa untuk berkedip. “Kurasa melamarmu akan jauh lebih mudah ketimbang melamar pekerjaan menyebalkan ini.”

“Kau mengatakan sesuatu?”

Kena kau, Kino.

“Oh, apa? Itu … gedung-gedung di sini tinggi sekali dan semuanya bagus, hehe.”

Ya, Kino bingung antara harus bersyukur atau tidak bahwa sang gadis tak mendengar gumamannya barusan.

0o0

What does that mean?

“Jangan lupa minum obatmu jam sepuluh. Ada rapat klub tenis juga jam satu.”

“Yanan, jangan lupa juga―”

Dengan kedua tangan menopang dagunya pada meja, Yanan iseng menatap sahabatnya itu. Sangat intens, tak lupa pula senyum manis yang membuat si jelita sampai berhenti bicara karenanya.

“Kenapa?” tanya sang sahabat, si gadis dengan kuncir dua rendah yang terlihat menggemaskan.

“Tidak,” balas Yanan tenang, “Hanya saja, yang tadi itu maksudnya apa?”

“Maksudmu?”

“Ayolah.” Yanan mengusap kepalanya―atau mengacak-acak poninya. “Tak ada persahabatan seaneh ini.”

Mencondongkan wajahnya mendekat, Yanan terlihat berkali lipat lebih tampan di matanya. “Jadi, adakah sesuatu yang mau kau utarakan padaku?”

0o0

Curiosity that passed over your face.

Membalik lembaran bukunya dengan tak tenang, Jinho akhirnya memberanikan diri untuk menoleh sejenak pada teman satu kelompoknya yang ia rasa sedari tadi tengah menatapnya.

“Kenapa? Kau pasti penasaran ya mengapa wajahku bisa sebegini tampan?”

Nyatanya, satu kedipan maut dari Jinho setelahnya sama sekali tak membuat sang gadis luluh, justru ia tertawa kecil melihat wajah lucu pemuda tampan itu.

“Tidak, Jinho. Hanya saja, kau keren sekali bisa membaca buku yang halamannya terbalik.”

Tuhan, ketahuan juga akhirnya bahwa Jinho sebenarnya sangat bosan berada di perpustakaan.

0o0

This place is my republic.

Kembali memijak tanah yang dirindukannya, dengan sapaan angin lembut yang menyisir pinggiran hutan membuat Yuto memejamkan matanya untuk sejenak.

“Tanah kelahiranku indah, ‘kan? Aku sangat mencintai tempat ini.”

Gadis di sampingnya hanya terdiam, tiba-tiba memeluknya dan untuk beberapa saat Yuto hanya mampu mengunci mulut sembari mengerutkan kening.

“Aku juga sangat mencintai tempat ini,” katanya sembari menunjuk dada Yuto, membuat pemuda itu malu setengah mati. “Terima kasih telah mengajakku ke sini, omong-omong.”

Sungguh, ternyata seperti ini rasanya malu akibat digombali oleh seorang perempuan.

0o0

I’ll do whatever you want.

“Aku akan lakukan apa pun untukmu.”

“Sungguh?”

Kesialan menggandeng tangan Shinwon untuk berlutut dan menuruti segala keinginan teman sekelasnya itu.

“Aku mau kau putus darinya.”

“Apa?!” teriak Shinwon tak terima. “Kau, dasar perempuan ular. Ia sahabatmu, apa kau lupa?!”

“Oh, Shinwon sayang.” Jemari lentiknya mengusap wajah tanpa cela milik Shinwon. “Ular tak pernah punya sahabat, ‘kan?”

Ternyata kalah taruhan dengan seorang perempuan yang penuh obsesi bisa jadi semengerikan ini.

0o0

You’re so lovely.

“Lihatlah, betapa lucunya dirimu!”

Entah karena ini Jumat malam atau memang Hui adalah tipe orang yang seperti itu.

Bayangkan saja, ia menolak ajakan kencan sang kekasih demi mengurusi anak anjing peliharaannya.

Bahkan … eum, jika anjing itu bisa bicara mungkin ia akan berteriak agar Hui tak memakaikannya baju-baju yang aneh bin ajaib lagi.

Tolong aku…

0o0

The victory is mine.

“Seungri ini milikku!”

“Tidak, dasar jalang! Seungri sudah bilang bahwa ia mencintaiku!”

Seungri pasrah saja ditarik-tarik oleh kedua gadis yang sampai saat ini masih saja saling melontarkan kalimat-kalimat hinaan.

“Permisi, nona-nona.”

Tak ada angin apalagi badai, Hongseok datang dan tiba-tiba saja menarik Seungri menjauh dari kedua gadis itu, merangkulnya dengan … cukup mesra?

“Ya ampun, Seungri my baby, kau hampir melupakan makan siangmu! Ayo kita ke kantin jurusan, ada banyak makanan baru hari ini.”

Walau dengan cara yang sedikit ekstrem, Seungri mengingatkan dirinya sendiri untuk berterima kasih pada Hongseok nanti karena telah menyelamatkannya dari gadis-gadis yang menyeramkan itu.

Seungri in Korean means victory.

0o0

I can’t handle it.

“Kak Changgu!”

Hal yang paling indah baginya adalah ketika gadis yang ia sukai memanggilnya dan berlari ke arahnya seperti yang sering ia lihat dalam drama di televisi.

“Kak, lihatlah!” Gadis manis berkepang dua itu menunjukkan sebuah tiket film padanya. “Jaehyun akhirnya menyatakan perasaanya padaku, dan kami akan nonton Jumat malam besok! Aku senang sekali, Kak!”

Demi Tuhan, Changgu tak bisa dibeginikan. Tidak bisa…

0o0

All of you is exactly my style.

“Wah, dia benar-benar tipeku!”

Matanya tak berkedip, seakan mengagumi sebuah keindahan mutlak yang tak ada tandingannya di dunia.

“Syukurlah kalau kau suka.” Pak tua di sampingnya hanya tersenyum, sampai ia kembali berbicara, “Untuk yang secantik itu, harganya agak lebih mahal dari yang lain. Apa tidak apa-apa?”

“Langsung saya bawa pulang, Pak!”

Baru saja Hyojong memberikan uang bayaran, ponselnya berdering. “Halo, Kak.”

“Lama sekali! Cepat pulang.”

“Tapi, Kak―”

“Kenapa?”

“Bagaimana caraku membawanya pulang?”

“Hanya beberapa rumah jaraknya kau sudah bingung. Tinggal gendong saja kemari.”

Panggilan terputus, bersamaan dengan Hyojong yang menghela napas. “Tega sekali ia menyuruhku menggendong manekin seberat ini sendirian…”

FIN

  • Based on Gorilla from Pentagon.
Advertisements

Author: Angelina Triaf

Usually be called Angel or Princess. Just an extraordinary girl who looks ordinary.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s