[Today Playlist] About Love, Life and Reality

img_8733

story by ayshry

All Pentagon Members

AU!, Sad, Angst, Fluff, Romance, Slice of Life/Drabble-Mix/G

***

“Just once please come back to me —Find Me”

Jo Jinho

.

Penyesalan itu memang selalu datang terlambat dan Jinho menyetujuinya. Jika saja saat itu ia tak langsung menyalahkan. Jika saja ia waktu itu mau mendengarkan tanpa mencoba untuk menunjukkan keegoisan. Jika saja …. Rasanya terlalu banyak kata ‘jika’ yang hendak ia lontarkan sebagai pembelaan diri.

Aku ingin kau kembali, aku ingin bersamamu lagi. Tolong maafkan aku dan kembalilah padaku.

Oh, lupakan. Jinho bahkan tahu, berlutut pun tak ada gunanya. Hubungannya sudah selesai ketika dengan bodohnya ia mementingkan amarah ketimbang penyelesaian. Persetan dengan segalanya, ia tahu ia bersalah. Tapi … dosakah jika ia masih tetap ingin memperbaiki keadaan dan berharap semua baik-baik saja?

.

“We’re young and wild, too young to die —Young”

Jung Wooseok

.

“Jangan bodoh. Hidup itu terlalu indah untuk di sia-siakan, tahu!”

“Kata siapa?”

“Kataku. Barusan.”

Desahan kasar menguar dari bibir Wooseok untuk kesekian kalinya. Sepertinya, pilihan untuk berkeluh kesah pada gadis di sampingnya kini adalah sebuah kesalahan. Lihat saja, bukannya memberikan semangat, ia malah menggodanya dengan hal-hal tak penting seperti itu. Mengesalkan.

“Berhenti bercanda. Aku sedang dalam mood bu—“

“Hei, Wooseok-a.”

“Hm?”

“Yang sampai ke gedung olahraga duluan, bisa meminta apa pun. Dalam hitungan ketiga, oke? Satu … dua … ti—AYO KEJAR AKU!”

Kesadarannya belum pulih namun sang gadis terlanjur berlari. O, jadi yang tadi … Wooseok baru dikerjai, huh?

.

“‘Lets break up,’ that kind of nonsense —Lukewarm”

Yan An

.

Yanan kira ada yang salah dengan pendengaran.

“Aku lelah. Jadi … kumohon biarkan aku pergi.”

Tubuhnya semakin membeku. Yanan benar-benar tak ingin mendengarkan kata-kata seperti itu. Tetapi … semakin gencar ia menepis segalanya, semakin kenyataan itu mempermainkan dan memporakporandakan dirinya.

Belum sempat seuntai kata menguar, sang gadis sudah terlebih dahulu mengayunkan tungkai menjauh. Yanan bergeming; hanya mampu menatap punggung sang gadis yang kian menjauh. Tanpa sadar, setitik cairan bening membasahi pipinya. Ia yang masih belum bisa mencerna keadaan terlihat semakin menyedihkan.

Sial, bagaimana mungkin gadis itu dengan mudahnya mengakhiri hubungan setelah apa yang telah Yanan korbankan demi kebahagiaannya? Dasar berengsek!

.

“I’m so furious —Pentagon”

Lee Hwitaek

.

Rasanya, ini bukan pertama kalinya Hwitaek mengingatkan hal tersebut kepada sang gadis. Namun, peringatan dihiraukan; membuatnya semakin menumpuk kebencian.

Menatap manik yang memandangnya dengan pandangan sendu, membuat Hwitaek benar-benar muak. Ia sudah hapal apa yang akan terjadi kemudian dan ia sudah berjanji pada diri sendiri perihal kesalahan dan mengakhiri segalanya.

Maka, setelah memangkas jarak dan mendekap tubuh mungil itu erat-erat, Hwitaek pun berbisik, “Ayo kita sudahi segalanya. Selamat tinggal, Babe.”

Satu tusukan di dada telah menembus jantung sang gadis bersamaan lolong kesakitan juga cucuran darah yang enggan terhenti. Senyuman terulas lantas tawa keras menguar mengiringi kematian si pendua.

.

“Stay by my side, smile even more sweety than candy —Smile”

Kang Hyunggu

.

Satu permen kapas sudah berpindah ke genggaman, Hyunggu kini berlari menuju sang gadis yang menunggunya di bangku taman.

“Berhenti cemberut!” Menyerahkan permen kapas tersebut, Hyunggu kini menjatuhkan bokong di sisi yang kosong. Tak ada respon dari si gadis, membuatnya menempelkan permen kapas dengan gemas ke pipi tembamnya.

“Kang Hyunggu!”

Bentakan itu nyatanya membuat tawa sang pemuda menguar keras. Membuat gigitan besar pada permen kapasnya, ia lantas berujar, “Kautahu? Ini sangat manis. Tapi sepertinya, senyumanmu lebih manis dari permen kapas atau apa pun itu. Dan asal kautahu, semua masalah akan lenyap ketika kau melawannya bahkan hanya dengan senyuman. Jadi … tersenyumlah, Sayang.”

.

“As time passes, I hope we’ll stay together —You Are”

Ko Shinwon

.

Jika saja ada yang bertanya tentang pengharapan Shinwon untuk kehidupannya, maka ia akan menjawab perihal hubungannya bersama si gadis tetangga. Jujur saja, Shinwon memang tak ingin membuat kejelasan, dalam arti ia harus meresmikan hubungan mereka layaknya pasangan kekasih pada umumnya. Tidak. Shinwon tak menginginkan hal tersebut karena di dalam kamus hidupnya, suatu hubungan yang terikat akan lebih mudah renggang dan menemui perpisahan secepat angin berhembus.

“Aku tak mau mengumbar-umbar kisah kita. Jadi, cukup memercayaiku dan jalani saja. Kuharap segalanya berjalan dengan baik hingga kita saat itu datang.”

Kalau sudah seperti itu, maka si gadis takkan bisa berkata-kata lagi.

.

“Baby oh girl, please close my ears, it’s too noisy in here that’s why —Organic Song”

Kim Hyojong

.

Hyojong tak ingat sejak kapan kepalanya selalu dipenuhi suara-suara asing yang berisik. Rasanya seperti ada sesuatu yang siap menghantam tubuhnya hingga bertaburan layaknya puzzle yang saling terlepas.

Menyudutkan diri di ruangan sunyi adalah apa yang Hyojong lakukan demi menenangkan diri, namun sepertinya kali ini keheningan pun tak mampu berbuat banyak. Suara-suara itu semakin gencar menyerang hingga kepalanya terasa akan meledak jika saja—

“Hei, hei … kau baik-baik saja. Tidak apa-apa, kau akan baik-baik saja, Hyojong-a.”

Hyojong membuka mata, sebuah senyuman menyambutnya. Oh, ada apa ini? Segalanya menjadi baik-baik saja ketika Hyojong melihat paras tersebut.

.

“I don’t know how to push and pull, but I know I like you —Gorilla”

Yang Hongseok

.

“Aku menyukaimu!”

Hongseok rasa tubuhnya bisa-bisa melebur saat ini juga ketika kata-kata itu meluncur dari bibirnya. Ia malu, sungguh. Jika saja bukan karena sang gadis hendak pergi, maka ia akan memilih untuk menyimpan perasaan sendiri.

“Kau bilang apa, Hongsok-a?”

“Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu. Jadi, sebelum kau pergi … aku ingin mengatakannya. Aku tak tahu sejak kapan perasaan gila ini menggerayangi tubuhku tapi, aku sungguh-sungguh menyukaimu. Jadilah milikku!”

Si gadis tersenyum lantas berbalik.

“HEI, AYO KITA BERKENCAN!”

Tanpa memberi jawaban, gadis itu lekas mengayunkan kaki lantas berujar, “Jadi kencannya tidak?”

Oh, hampir saja Hongseok menangis karena mengira ditolak.

.

“At this rate, will we be okay? —Lukewarm”

Yeo Changgu

.

Ada beberapa keraguan yang sempat menjalari pikiran seorang Yeo Changgu. Apakah pilihan yang ia buat sudah benar? Apakah mereka akan baik-baik saja meski menetang takdir yang tertulis dengan jelas? Entahlah. Untuk saat ini Changgu hanya bisa pasrah meski jelas-jelas semuanya memaksa untuk merelakan.

Cinta memang tak bisa dicegah, cinta memang tak mampu untuk dipungkiri. Tapi dalam kasus yang menimpa Changgu kini, cinta yang tumbuh adalah sebuah kesalahan yang harusnya ia lepaskan.

Karena cinta terlarang yang tumbuh antara ia dan sang adik adalah kesalahan terbesar yang tak pernah ingin diakhiri. Mereka masih bertahan; berharap segalanya akan baik-baik saja.

.

“Now, I’ll never let go of these hands —You Are”

Adachi Yuto

.

Pernah satu kali Yuto membuat kesalahan. Well, manusia memang tak luput dari dosa, tapi bagi Yuto itu adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan; meninggalkan gadisnya dan memilih untuk berpaling.

Tetapi, sepertinya Tuhan masih berpihak padanya.

Pertemuan itu menjadi awal dari segalanya. Ia yang sempat terpuruk akhirnya mendapatkan kembali semangat hidup ketika gadis yang pernah dikhianatinya memberikan kesempatan untuknya memperbaiki hubungan.

Tak apa. Semua pernah berbuat salah. Kau hanya perlu memperbaikinya dan jangan membuat kesalahan yang sama dilain hari.

Maka dari itu Yuto pun mengikrarkan janji tentang ia yang takkan penah menyakiti dan mengulang segalanya dari awal dengan penuh kebahagiaan.

-Fin.

Setelah terjebak webe serta kemalasan tingkat dewa, akhirnya ini drabble-mix kelar juga. HAMDALAH.

Advertisements

Author: megaton-bomb

Call Me Ay | A-Blood Type | Forever Maknae | Purple Addict.

One thought on “[Today Playlist] About Love, Life and Reality”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s