[Today Playlist] Like a Coffee

picsart_11-15-10-28-41

LIKE A COFFEE

by baenilla

[Pentagon] Lee Huitaek and [OC] a girl ; mentioned [Pentagon] Jo Jinho

AU!, Romance, Angst

Rated: T

Word Count / Story Length: 476 words / Drabble-Mix

Disclaimer

Cerita ini murni muncul dari ide-ide di otak saya.

Based on: Pentagon – Lukewarm (미지근해)

How did we come to this?

////

Once, the temperature between us was truly hot.

 

Hui duduk di sebuah kafe dengan perasaan gugup. Ia menengok ke arah jam dinding di kafe tersebut, jam 2.45, 15 menit sebelum jam yang dijanjikan. Hari ini adalah kencan pertamanya. Ia datang lebih awal karena tidak ingin kekasihnya menunggu. Hui menciumi bau badannya dan bajunya untuk memastikan bahwa ia tidak tercium aneh. Bunyi bel pintu kafe mengalihkan perhatiannya. Gadis yang ia tunggu akhirnya datang.

 

“Maaf, Hui-ya. Apa kau menunggu lama?” tanya sang gadis, Hui membalas dengan gelengan kepala.

 

“Tidak, lagipula sekarang belum jam dua pas. Erm… Aku sudah memesan secangkir kopi untukmu.”

 

Dua cangkir kopi panas disuguhkan untuk mereka berdua.

 

— — —

Now your heart next to me is not the same.

 

Hubungan Hui dan kekasihnya berjalan lancar selama sepuluh bulan. Sekarang, mereka berdua tengah duduk di sebuah kafe seperti biasa. Mereka selalu bertukar cerita tentang kehidupan mereka dan tawa terkadang keluar dari mulut mereka berdua di sela cerita, tapi tidak untuk hari ini.

 

Hui tengah bercerita tentang kehidupannya di kampus, tetapi sang gadis di depannya terpaku ke gadget di tangannya itu. Hui memberhentikan ceritanya dan menatap kekasihnya.

 

“Hei… apa kau mendengarkanku?” kekasihnya membalas dengan ‘hmm’ dan tetap terpaku pada benda persegi di tangannya. Hui membuka mulutnya untuk berbicara, tetapi mengurungkan niatnya dan mengaduk es kopi pesanannya.

 

Kopi panasnya mulai menghangat.

 

— — —

I don’t want this to end but I don’t want it to continue.

 

Hui merebahkan tubuhnya di kasurnya sambil menatap layar handphone miliknya. Ia tengah berusaha menghubungi kekasihnya, tetapi hasilnya nihil. Sejak sebulan kemarin, kekasihnya sangat susah dihubungi. Ia selalu membalas bahwa ia sedang sibuk dengan kegiatan kuliahnya dan Hui memakluminya, tetapi belakangan ini telepon dan pesan dari Hui tidak pernah di balasnya.

 

Teman sekamarnya, Jinho, mengatakan bahwa kekasihnya mungkin saja selingkuh dan ia bahkan pernah melihatnya jalan dengan laki-laki lain. Hui tidak mempercayai perkataan temannya pada awalnya. Ia mempercayai kekasihnya tidak akan melakukan hal seperti itu, tetapi hatinya mulai goyah.

 

Hui menatap layar ponselnya. Panggilannya lagi-lagi ditolak.

 

Kopi panasnya mulai menjadi dingin.

 

— — —

I think it’s better to be cold.

 

Hui menatap gelas kopinya dan gadis yang duduk di depannya secara bergantian. Suasana diantara mereka berdua menjadi canggung, padahal mereka sudah berhubungan selama satu setengah tahun. Jinho menyarankan Hui untuk memutuskannya, tapi tidak mudah untuk Hui untuk kata-kata tersebut. Ia masih menyayangi kekasihnya, tetapi Hui tidak ingin hubungan ini berlanjut.

 

“Ada apa, Hui-ya? Kau ingin berbicara apa. Aku sedang sangat sibuk saat ini.” ucap gadisnya, memecahkan keheningan di antara mereka. Hui menatap kekasihnya dan kembali menatap gelas kopinya. Hui sudah membulatkan keputusannya.

 

Es dalam kopinya sudah mencair dan kopinya sudah menjadi dingin.

 

Chagi-ya… Aku… mau putus.”

 

////

bae says;

ini ending sangat memaksa sekali ya

aneh? memang ^_____^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s