[Vignette] Injured Knee

Processed with VSCO with j6 preset

INJURED KNEE

.

Family, Slice-of-life, (slight! Romance) || Vignette || G

.

Starring PTG’s Yuto and OC’s Adachi Yuri
(slight! mentioned) NCT’s Yuta & TWICE’s Momo

.

Bagi Yuto, mendengar bahwa saudara kembarnya terluka adalah sebuah mimpi buruk

.

© 2016 by Gxchoxpie

.

I only own the plot and the OC

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

“Yuto-kun! Adikmu berdarah!”

Bagi Yuto, mendengar kabar bahwa kembarannya, Adachi Yuri, terluka adalah bagai mendapat mimpi buruk. Untuk sepersekian detik dadanya seperti dihantam jutaan godam, kemudian semua oksigen di sekelilingnya terhisap hingga ia merasa sesak, sebelum tahu-tahu kekuatan ekstra muncul pada tungkainya, membuat pemuda itu akan kuat berlari sejauh apa pun sampai akhirnya ia menemukan Yuri.

Itulah mengapa ketika Kazuto memberi kabar yang serupa, tak segan-segan Yuto langsung meninggalkan aktivitasnya membuat program di pelajaran robotik, mengabaikan seruan gurunya.

Tergesa, tungkai jenjang itu melangkah dari belakang hingga depan sekolah, turun dari lantai empat hingga lantai satu, sambil pupil yang terus mengedar ke sekeliling, memindai keberadaan kembarannya. Oh, jangan lupakan rasa gelisah yang sudah menggerogotinya sejak keluar dari ruang komputer tadi.

Kakak kelasnya, Nakamoto Yuta, lewat beberapa meter di depannya. Spontan Yuto membungkukkan badan hampir sembilan puluh derajat, lalu hendak bergegas beranjak sebelum akhirnya ia menangkap sesuatu.

Lengan kecil yang melingkar di leher Yuta, rambut lurus hitam yang tergerai, dan lutut yang memancarkan darah segar – bahkan kalau diperhatikan aliran darahnya sudah seperti sungai kecil yang mengalir menuruni tulang kering pemiliknya. Menatap beberapa sekon, Yuto mendapat suatu feeling mengenai sosok yang ada dalam gendongan Yuta.

Tak lain dan tak bukan adalah Yuri, kembarannya.

“Yuri-chan!” seru Yuto, kemudian setengah berlari menghampiri kakak kelasnya.

Yuta menoleh untuk beberapa saat. Ketika menyadari keberadaan Yuto, serta-merta diturunkannya gadis dalam gendongannya tersebut. “Ah, Yuto-kun. Aku baru saja hendak mencari dirimu.”

Gadis rambut sebahu itu menatap Yuto dengan mata bulatnya. “Sedang apa kau di sini?”

Yuto bagai mengabaikan ucapan dua lawan bicaranya. Netranya hanya terfokus pada luka di lutut Yuri yang sejak tadi tak berhenti memancarkan darah. “Kau terluka? HUH?!

“Ah, maafkan aku, Yuto-kun.” Kali ini Yuta yang berbicara. “Tadi aku sedang bermain basket, lalu tak melihat ada Yuri di sekitar situ. Entah bagaimana lemparan bolaku mengenai kembaranmu, lalu ia terjatuh, dan lututnya rupanya menggores ke paku yang ada di sekitar tempatnya berdiri.”

Manik Yuto seketika membulat mendengarnya. “MENGGORES?! Maksudmu, benar lututnya terkena benda tajam?!”

Eyy, aku baik-baik saja, Yuto!” balas Yuri. “Ini bukan apa-apa. Sama sekali tak terasa sakit, kok.”

“TIDAK APA-APA BAGAIMANA?!” Yuto tambah emosi mendengar kembarannya. “Kau tahu sendiri, kan, sekalinya kau berdarah, darahmu akan sukar berhenti? Kenapa kau tampak seperti orang bodoh sekarang?! Kenapa tak langsung menghubungiku?!”

Yuri hanya menundukkan kepala, sementara Yuta terlihat keheranan. “Darahnya sukar berhenti? Apa maksudmu?”

Yuto tidak menjawab. Ia takut kalau ia berusaha menjelaskan, yang ada malah berakhir dengan sebuah atau dua buah bogem melayang ke dagu runcing Yuta. Kalau ingin mengikuti kata hatinya, rasanya Yuto sudah ingin memberi hadiah berupa tinju kepada orang yang sudah berani mencelakakan adiknya, walau dengan alasan tak sengaja sekalipun.

Lagi, yang Yuto sesali adalah mengapa nampaknya Yuri seperti orang bodoh yang tetap memasang cengiran tolol di depan kakak kelasnya? Berani taruhan, Yuri tidak panik ketika lututnya mulai mengeluarkan darah. Justru perasaan berbunga gadis itu yang lebih dulu bekerja, menyadari ketika kakak kelas yang selama ini ia taksir akhirnya menyadari eksistensinya, lalu menghabiskan waktu dalam gendongan lelaki sialan itu. Bukannya berpikir secepatnya mendapatkan pertolongan, yang diinginkan gadis itu justru selama mungkin bertahan dalam posisinya sekarang. Fakta akan kelainan darahnya seolah terlupakan.

“Naik,” ujar Yuto akhirnya.

Yuri mengernyitkan dahi. “Huh?”

“Naik,” ulang Yuto. “Naik ke punggungku. Biar aku bawa kau ke ruang kesehatan.”

“Aku tidak apa-apa serius!” Yuri masih tidak mau mengalah. “Aku hanya – “

“Diam saja.”

Dalam satu gerakan, Yuto meraih kedua belakang lutut Yuri, dan tahu-tahu gadis itu sudah ada dalam gendongan belakang Yuto. Yuri hanya menatap ke bawah, nampak tak berani membalas tatapan yang diberikan kakak kelasnya. Sementara Yuto memberi tatapan tajam yang menyiratkan aku tak akan membiarkanmu pada pemuda Nakamoto itu sebelum akhirnya beranjak ke ruang kesehatan, dengan Yuri dalam gendongannya.

***

Auu! Sakit!”

Ringisan demi ringisan terus keluar dari bibir kecil Yuri. Sesekali jemarinya mencengkram erat bahu Yuto atau bahkan menjambak rambut hitam kembarannya. Matanya berulang kali terpejam-terbuka. Jelas sekali ia sedang berusaha melawan rasa perih di lutut yang menjalar ke sekujur tubuhnya.

“Diam sajalah,” ujar Yuto masih dengan sebuah kapas ber-betadine di tangan kanannya. Sejak tadi ia dengan sabar tapi cekatan mengoleskan obat merah di sekitar luka di lutut Yuri. “Aku tahu ini perih, tetapi tahanlah sedikit. Bagaimanapun lukamu harus disterilkan terlebih dahulu agar tidak menjadi infeksi.”

“Baiklah,” ucap Yuri mencoba menurut. Lalu, “Arght! Kau apakan lututku, Yuto? Perih sekali!”

Yuto mendengus, sebelum memberi kembarannya sebuah tatapan kesal. “Hei! Kenapa di depanku kau baru berteriak sakit dan semacamnya? Kenapa tak ada satu pun seruanmu atau setidaknya ringisanmu keluar di depan pria Nakamoto itu, huh?

“Entahlah,” sahut Yuri. “Jujur saja, di depan Nakamoto senpai rasa sakitku sama sekali tak terasa. Aku bahkan lupa kalau aku sedang terluka. Tapi ketika kau datang, tiba-tiba rasa sakit ini menyerang semua sarafku hingga aku hampir gila rasanya!”

Gadis itu berceloteh dengan nada yang jelas dibuat berlebihan, membuat Yuto harus bangkit dari jongkoknya sejenak hanya untuk memberi sebuah jitakan pelan pada dahi gadis itu yang tertutup poni. “Astaga ….”

Setelah obat merah yang ia oleskan dirasa cukup, Yuto menggunakan kain kasa yang digulung berulang kali untuk menutupi daerah lutut yang terluka. Tak sekedar menutupi, Yuto memastikan kain kasa itu menekan kulit Yuri dengan sempurna untuk mengurangi darah yang kerap mengalir. Yuto bahkan menggunakan telapak tangannya untuk menekan luka gadis itu, mengabaikan ringisan yang kerap terlontar dari bibir Yuri.

Semua prosedur yang harus ia lakukan sudah selesai. Kalau sudah begini, tinggal menunggu paling cepat setengah jam hingga luka Yuri tertutup dan darahnya mengalir.

“Masih sakit?” tanya Yuto, kali ini dengan nada yang lebih lembut.

Yuri hanya memberi anggukan pelan.

“Lain kali berhati-hati. Kau harus bisa menjaga dirimu sendiri, Yuri. Aku tidak selamanya bisa menolongmu, karena itu berhati-hatilah.” Yuto menatap kembarannya dalam-dalam. “Berjanjilah padaku kau tak akan membuatku khawatir lagi.”

Yuri hanya menundukkan kepala, membiarkan surai hitamnya tergerai menutupi wajah. Yuto mengartikan kebisuan itu sebagai ya.

“Omong-omong, Yuto-kun,” ucap Yuri tiba-tiba, “kau sedang pelajaran apa, sekarang? Tidakkah guru kelasmu nanti akan mencarimu?”

“Ah, ya.” Sebelah tangan Yuto menggapai ponsel yang ada di kantong celana, lalu menyerahkannya pada Yuri. “Bisa tolong kirimkan pesan singkat untuk Kazuto? Bilang aku sedang berada di ruang kesehatan, dan kemungkinan baru akan masuk jam pelajaran berikutnya.”

“Baiklah.”

Jemari Yuri pun berkutat mengetik di layar ponsel beberapa kali. Satu menit kemudian, gadis itu mengembalikan ponsel pada si empunya.

“Tapi tak apa kau menemaniku di sini?” tanya Yuri lagi. “Maksudku, kalau kau kembali – “

“Kalau aku kembali, memangnya ada yang mau menemanimu lagi?” balas Yuto. “Kalau pun ada, apakah ia mengerti apa yang harus dilakukan jika tahu-tahu situasi lukamu makin memburuk?”

Yuri hanya dapat bungkam.

“Jadi, biarkan aku di sini. Aku tahu kau bosan jika harus kutinggalkan sendirian, dan bukan tidak mungkin lukamu belum mengering tapi kau sudah berjalan mondar-mandir keliling sekolah karena bosan. Jadi lebih baik aku menemanimu.”

Ck. Baiklah.”

Keduanya terdiam untuk beberapa saat, sementara Yuri mendengungkan lagu original sound track dari drama Jepang yang sedang ia tonton akhir-akhir ini.

“Omong-omong, Yuri,” panggil Yuto, berusaha membuka percakapan kembali.

“Hmm?”

“Sebenarnya apa, sih, yang kau suka dari Yuta senpai?”

Entah mengapa setiap nama itu disebutkan, pipi Yuri akan memerah dan memanas, jantung gadis itu akan berdegup tak keruan, dan senyumnya tak dapat ia tahan. “Kenapa kau bertanya tiba-tiba?” Yuri balas bertanya.

“Aku hanya penasaran saja.”

“Hmm … sebentar.” Yuri menerawang, mencoba menilik hatinya mengenai alasannya menyatakan suka pada sosok Nakamoto Yuta. Berusaha mengingat apa sebabnya hingga ia tertarik dan jatuh hati pada Nakamoto Yuta.

“Semuanya,” celetuk Yuri. “Semua yang ada pada dirinya. Ia ramah terhadap semua orang, ia tampak keren ketika sedang bermain basket atau dance, senyumnya manis, suaranya yang terdengar penuh charisma. Begitulah,” jawabnya diiringi dengan kurva manis di bibir.

Yuto hanya geleng-geleng kepala. “Ck. Itu yang dikatakan semua orang yang sedang jatuh cinta.”

“Itu juga yang akan kau katakan apabila aku bertanya apa alasanmu menyukai Momo senpai, kan?” balas Yuri, membuat Yuto ikut menyunggingkan senyum.

“Jangan sebut namanya!” pinta Yuto. “Nanti aku tak bisa berhenti tersenyum!”

Bersamaan dengan itu tawa Yuri meledak, sementara Yuto tak berhenti menghujaninya dengan tepukan pelan di lengan.

“Tapi, Yuto,” ucap Yuri setelah tawanya meledak.

Huh?”

“Kalau aku menemukan pemuda yang seperti dirimu, yang peka, baik, tampan, dan cekatan sepertimu, mungkin aku mau mengencaninya. Lebih dari aku ingin mengencani Yuta senpai.”

“Berarti aku ini tampan?” Wajah Yuto berseri-seri.

Ck. Bukan itu poinnya!” Yuri menepuk pundak Yuto cukup keras, membuat pemuda itu mengaduh.

Yuto menyunggingkan senyum jenakanya. “Kau tahu? Kau terdengar seperti orang yang memiliki sindrom sister complex sekarang.”

“Adachi Yuto!”

***

Tanpa terasa 45 menit telah dilalui oleh kembar Adachi tersebut. Membahas banyak hal, dari mulai siapa orang yang mereka sukai, pelajaran di sekolah, hingga kedua orang tua mereka. Bahkan keduanya sampai tertidur bersama karena terlalu bosan.

Gadis Adachi itulah yang pertama bangun. Masih dengan penglihatan yang buram ia mencoba melihat waktu yang tertera di jam digital di ruang kesehatan. Lima menit menuju bel istirahat. Kemudian kepalanya menoleh, lalu mendapati Yuto yang sedang tertidur dengan kepala bersandar di tepi sofa. Matanya yang terpejam dan napasnya yang damai, membuat besar hasrat Yuri untuk menggambar kumis di bagian atas bibir pemuda itu dengan spidol.

Sayangnya – dan beruntungnya – di dekat situ tidak ada spidol.

Sempat bergejolak batin harus membangunkan Yuto atau tidak, namun keputusan akhirnya adalah membangunkan kembarannya tersebut. Yuri tidak tahu Yuto sudah makan siang atau belum, tetapi takutnya bila Yuto harus melewatkan jam istirahat kali ini, perutnya akan kosong hingga jam pulang tiba.

“Yuto, bangun.” Yuri mencoba menggoyangkan pundak lebar Yuto. “Sudah mau jam istirahat. Kau mau makan, tidak?”

Hanya sebuah gumaman tidak jelas, tetapi pemuda itu tidak membuka kelopak matanya. Pun posisinya sama sekali tak berubah.

“Hei, Yuto-kun! Bangun!” Kali ini Yuri mencoba dengan sedikit seruan. “Kau makan siang atau tidak? Sudah mau jam istirahat, nih!”

Tampaknya taktik itu berhasil, karena kini sebelah mata Yuto mulai terbuka, diikuti sebelahnya. “Lukamu bagaimana?”

“Sudah membaik,” jawab Yuri. “Sepertinya darahnya sudah berhenti mengalir.”

Yuto meregangkan tangannya ke atas untuk beberapa detik, lalu menguap, lalu bangkit berdiri. “Kau bisa berjalan?” tanyanya pada sang kembaran. “Lututmu masih sakit kalau dipakai berjalan?”

“Hmm, entahlah. Kurasa tidak,” ujar Yuri sambil perlahan turun dari tempat tidur. Telapaknya berhasil memijak tanah dengan baik, tetapi ketika mencoba melangkah, rasa ngilu langsung menjalar.

“Agak sedikit sakit, tapi – “

Gadis itu tak tahu apa yang terjadi sampai tahu-tahu ia sudah berada di gendongan Yuto. Manik Yuri seketika membulat.

“Hei! Turunkan aku!” pintanya.

Yuto mengabaikan perkataan Yuri. Ia malah mengambil langkah lebar, dengan senyuman yang terukir di wajahnya. “Kau bilang lututmu masih sakit, kan? Aku tidak mau mengambil resiko kau terluka lagi lalu harus mengambil 45 menitku berikutnya, jadi lebih baik aku menggendongmu.”

“Astaga ….”

Sementara Yuri meronta ingin turun, Yuto terlihat bersenang-senang dengan gerutuan saudaranya. Bahan sesekali tawa kecil terlontar dari mulutnya.

“Yuri-chan ….“

“Apa?”

Yuto menghentikan langkah sejenak. Masih dengan Yuri dalam gendongannya, ditatapnya kembarannya itu dalam-dalam.

“Berjanjilah padaku kalau kau tak akan membuatku khawatir lagi.”

-fin-

A/N

capture

  1. Meet Adachi Yuri! 😀 98-line, Yuto’s fraternal twin.
  2. Akhirnya diriku berhasil mendebutkan Adachi Twins ini hahahaha setelah sekian lama ide hanya muncul di otak tanpa sempat dieksekusi XD
  3. Anyway, a review won’t be hard, right? 🙂
Advertisements

Author: Gxchoxpie

Writer | Dreamer | Life-time learner

7 thoughts on “[Vignette] Injured Knee”

  1. Ini kyuut sekali:”) Aku tidak bisa berhenti tersenyum:”D

    Dan plis, aku ngakak yang bagian ‘Yuri baru merasa sakit pas Yuto datang’ itu serius mirip banget sama pengalaman temenku😂😂 Terus aku juga senyum-senyum pas baca bagian Yuto suka Momo-senpai😆 Lucu sekalii:3

    Pengen punya kembaran kayak Yuto.. Eh tapi jangan deng. Aku mau jadi pacarnya aja😂 Adachiteru❤

    Like

    1. Biasa, kalau udah jatuh cinta tuh rasa sakit pun sampai ndak kerasa, cuma kerasanya bahagia aja… ahahaha itu yang dirasakan Yuri waktu digendong Yuta.
      Hahahaa… ceritanya di sini Yuto naksir Momo jadi gitu malu2 pas Momo disebut.
      Jadi pacarnya aja ya, enak kayaknya punya pacar peka XD
      Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak 😀

      Liked by 1 person

  2. ADACHI!!! yaampun yuto aku senyum senyum garagara kamu. Tanggung jawab!!!

    Yuto tuh emang keliatan tipe cowok care gitu yaa. Gemash sekaliii, jadi inget pas penta maker suapsuapan sama yanan uwoo
    Dan demi apa aku pribadi suka sama cerita2 anak kembar gini. Kiyowooo 😘

    Oke, intinya aku suka! dan keep writing!! 😉

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s