[Ficlet-Mix] Hocus Pocus

Processed with VSCO with 10 preset

Hocus Pocus

birthday fic by ayshry, baenilla, Catstelltales, jihyeonjee98, Mingi Kumiko

Pentagon Ko Shinwon

WizardAU! || Ficlet – Mix || Rated: G

Disclaimer: Beberapa fic merupakan alternate universe dari Harry Potter karya JK. Rowling.

***

[1]

Bukan berita baru lagi ketika kalian mendengar bahwa ada siswa yang terkena serangan bola Bludger saat bermain Quidditch. Siswa yang bernasib malang itu harus langsung dilarikan ke Hospital Wing dengan kerumunan siswa dari rumah yang sama mengikuti. Hal ini sudah sering terjadi, tetapi kali ini berbeda.

Hospital Wing yang selalu sepi menjadi ramai dengan kumpulan siswa-siswi dari seluruh rumah̶ para anggota Quiddicth Gryffindor (tentu saja) dan sebagian besar siswi Hogwarts̶ tengah mengerumuni salah satu bilik pasien.

Bagaimana Hospital Wing tidak ramai; siswa yang bernasib malang kali ini adalah Ko Shinwon, salah satu siswa Gryffindor tahun ketujuh yang sangat terkenal. Si tampan berotak cemerlang dari Gryffindor, seeker andalan Gryffindor; itulah panggilannya.

Para anggota Quidditch Gryffindor mencemaskannya karena, yah, dia adalah teman serumah mereka. Para siswi yang tidak ada kaitannya dengan Quidditch atau bukan anak Gryffindor mencemaskannya karena takut Shinwon tidak berpartisipasi dalam lomba Quidditch antar-rumah tahun ini (walaupun sebenarnya ada beberapa siswi Gryffindor yang berpikiran seperti itu).

Mereka membubarkan diri ketika guru pembimbing rumah Gryffindor, Bu McGonagall, las a. Beliau memintaku untuk merawatnya karena Madam Pomfrey sedang ada urusan di luar sekolah. Dia mempercayaiku karena aku sudah membantu Madam Pomfrey di Hospital Wing cukup lama.

Suara erangan terdengar tidak lama setelah aku mengambil tanaman herbal di Green House milik Professor Sprout dan meramunya untuk Shinwon.

“Oh, kau sudah bangun?” tanyaku tanpa mengalihkan perhatianku dari campuran tanaman herbal milikku.

Tanpa melihat pun, aku dapat menebak Shinwon melihat sekelilingnya dengan bingung dan penuh pertanyaan. Reaksi umum korban bola Bludger.

“Apa yang kulakukan-“

“Kau terkena bola Bludger saat seleksi pemain tim Quidditch untuk rumahmu.” ucapku, memotong pertanyaan Shinwon.

Aku berjalan ke biliknya dengan secangkir teh ramuanku. Hidung Shinwon masih mengucurkan darah segar, seragam quidditch-nya berlumuran darah. Walaupun dia terlihat sangat kacau, ia tetap terlihat tampan.

…Tunggu. Apa yang aku pikirkan barusan?

“Hidungmu masih sakit?” ia mengangguk menjawab pertanyaanku. Aku mengeluarkan tongkat sihirku dan mengayunkannya las an hidung Shinwon.

Epipsky.”

Suara krak terdengar keras. Shinwon mengerang kesakitan sambil memegang hidungnya. Aku mengambil tisu di atas meja kecil sebelah tempat tidur Shinwon untuk mengelap darahnya, tapi ia menggenggam tanganku.

“Biar aku sendiri saja.”

Aku hanya mengangguk mengerti mendengarnya.

“Kalau sudah bersih, minumlah teh itu.” Titahku. Shinwon menjawab dengan “hm sambil membersihkan darahnya.

By the way, terima kasih

“Lia. Nam Lia.”

“Terima kasih, Lia.”

“Iya… dan ada satu hal lagi ucapku. Aku memutar badanku untuk menghadapnya. Kami saling menatap satu sama lain. Tanpa ada las an tertentu, cat has got my tounge. Aku lupa mau berkata apa tentang kesehatannya, lidahku membeku, tanganku berkeringat dingin, dan jantungku berdegup kencang.

Apa ada pembuluh darahku yang tersumbat? Jantungku jadi tidak karuan seperti ini.

Akhirnya, mulutku terbuka dan mengeluarkan kata-kata lain dari yang kupikirkan tadi.

YYou drool in your sleep.”

Dengan itu, aku langsung berlari kabur dari Hospital Wing.

[2]

Shinwon sudah berencana untuk bangun pukul dua belas siang hari ini, ketika Jinri, adiknya, menerjang pintu kamarnya tanpa permisi dan menarik selimutnya. Shinwon mengerang kesal tapi tidak berusaha untuk merebut selimut itu kembali. Pemuda itu hanya membalikkan posisi tidur dan melanjutkan apa yang sudah terinterupsi. Bagaimanapun, Jinri tampak enggan mengizinkan Shinwon untuk tidur lagi—Shinwon bisa melanjutkan bunga tidurnya, secara harfiah. Ia punya kemampuan untuk itu dan Jinri benar-benar iri.

“Aku akan menyihir badai salju di kamar ini apabila kau tak juga mau bangun!” ancam Jinri.

“Ooh, ya ya, benar juga. Bukankah kau punya talenta untuk mengusik kenikmatan saudaramu? Aku yakin badai salju hanya salah satunya!” Shinwon mengomel, lalu ia memicingkan mata, berusaha menyesuaikan pandangannya dengan cahaya ketika Jinri menyibak tirai. “Oke, aku sudah bangun, jadi ada apa?”

“Ada manusia!” Jinri langsung menjawab tanpa repot-repot berusaha mengendalikan gelora semangatnya. Shinwon mendengus menanggapinya.

“Manusia? Di desa ini? Mustahil. Sekarang biarkan aku tidur ….” Shinwon kembali menutup mata, tapi Jinri sudah melompat dan mencengkeram kerah piama kakaknya agar pemuda itu tak lagi punya alasan. Oh, Shinwon bersumpah lain kali ia akan menyegel kunci kamarnya dengan mantra khusus. Jinri ini lama-lama tumbuh menjadi seorang pemaksa yang menyebalkan. Shinwon bangkit perlahan dan mengambil waktu agar kesadarannya terkumpul seutuhnya, lantas ia memelototinya Jinri.

“Sebaiknya topik ‘ada manusia di desa kita’ ini cukup seru sampai kau berhak mengganggu tidurku.”

Jinri mengangguk yakin. “Pasti seru. Ia datang dari Seoul bersama kedua orangtuanya yang juga manusia, katanya cuma singgah, karena mereka akan ke Gonghee dan tidak ada pesawat ke sana. Jadi sebelum mereka mencapai pelabuhan, ketiganya mampir kemari untuk istirahat dan jalan-jalan.”

“Yang benar saja. Manusia mana yang bisa menemukan desa kita? Kau pasti bohong, dan ketiga orang itu pasti penyihir.”

Jinri memutar bola matanya. Menjelaskan sesuatu pada Shinwon kadang memang membutuhkan waktu dan tenaga yang tak terhingga.

“Di sanalah letak serunya sampai aku berbaik hati membangunkanmu agar kau tidak telat-telat amat mendapatkan berita ini!” Jinri menggeser posisi duduknya agak ke tengah tempat tidur. “Mereka sudah bertatap muka dengan pemimpin desa ini, dan tetua itu diam-diam memastikan bahwa mereka manusia. Hebat, kan? Mereka bertiga seakan terlempar ke negeri ajaib yang tidak bisa dilihat oleh manusia lainnya, dan si gadis adalah Alice!”

“Tunggu, apa kaubilang ‘gadis’? Shinwon mengedipkan matanya, masih silau dengan cahaya matahari. Jinri mengangguk dan tersenyum menggoda. “Gadis ibukota.”

“Kenapa kau memandangku seperti itu?” Shinwon berusaha keras menyembunyikan minatnya pada makhluk di luar dunia mereka, tapi tidak berhasil. Sejak dulu Shinwon tertarik untuk mempelajari kehidupan manusia. Dan kenyataan bahwa ada presensi seorang gadis di antaranya, membuatnya tiba-tiba berdebar. Ugh, buat apa Shinwon berdebar-debar?

“Karena kami sekarang berteman dan ia ada di rumah kita aw aw aw … tahan perasaanmu, Kak! Jatuh cinta pada manusia bukan adat kita, kau bisa dikeluarkan dari desa ini.”

“Bicara apa sih, kau ini ….” Kalimat Shinwon mengambang di udara begitu ekor matanya menangkap presensi gadis itu. Gadis manusia itu, tepat di depan pintu kamarnya. Shinwon membeku. Gadis itu memiliki kulit putih merona berbingkai dengan rambut hitam berkilau dengan penjepit rambut tersemat di tepi kanan. Ia tersenyum penuh penyesalan.

“Maaf, ketika ibumu bilang bahwa aku sebaiknya menyusul ke kamarmu karena kau ingin menunjukkan koleksi perangko … kupikir aku masuk ke ruangan yang benar.” Si gadis lantas menjauh dari pintu kamar dan Jinri melompat.

“Tunggu, Oh Haneul!”

Namanya Oh Haneul, Shinwon mencoba mengingatnya. Namanya Oh Haneul dan ia manusia dan ia bisa menemukan tempat ini dan ia sangat memesona.

Samar-samar Shinwon mendengar Jinri hendak menyeret Haneul untuk dikenalkan padanya, dan dari sanalah Shinwon menyadari sesuatu. Debaran di jantungnya semakin keras, tak beraturan, dan seakan jantungnya hendak melompat keluar dari klepnya, mencari rumah baru.

Shinwon buru-buru merapalkan mantra penyegel kunci pintu, yang membuat pintunya terbanting keras di hadapan Jinri dan Haneul, dan buru-buru dibungkusnya dirinya dengan selimut, tidak mengacuhkan teriakan Jinri yang kali ini tak bisa membuka pintunya.

“Kak Shinwon! Kau kok tidak sopan?! Buka pintunya!” Lalu samar-samar Shinwon mendengar ucapan Jinri pada Haneul yang membuatnya mematri tekad untuk memantrai Jinri dengan sihir tutup mulut. “Kakakku agak pemalu. Ia selalu menghindari perempuan. Susah sekali mencarikannya pacar. Nah, Haneul, ayo ke kamarku saja.”

[3]

Aku ingat kali pertamaku mengenalnya. Pada saat itu, mataku langsung menatap parasnya bak seorang juru selamat. Senyumnya begitu cerah dan memancarkan kehangatan sinar matahari, pun sepasang kelopak matanya yang melengkung dan berbinar. Dia sangat cantik, dan tentu saja baik hati.

“Hei, kenapa kau sendirian?” 

Frasa pertama yang ia tujukan padaku pun masih segar dalam ingatan, meski hal itu telah ia ucapkan dua tahun yang lalu.

Namanya Kim Se Jeong. Dia adalah gadis yang jika keberadaannya tidak ada di dunia ini, maka kujamin, hingga saat ini aku hanyalah seorang Go Shin Won yang selalu minder dan menganggap dirinya adalah sampah.

“Ayahku rindu padamu, lo!” celetuknya saat kami sedang sama-sama asyik menikmati secontong es krim di taman kota. Aku terkekeh, kata “rindu” yang ia ucapkan jelas memiliki artian lain.

“Kau tahu, kan, kalau keluarga kami sangat suka dengan aksi kerenmu saat menyentil sebuah desa sampai porak poranda hanya dengan seujung kuku?” imbuh Sejeong.

“Kali ini, apa kesalahan mereka?” tanyaku.

“Para pelaku autoerotic hanging.”

Sebelah sudut bibirku lantas tertarik, “Apa sudah dipastikan bahwa mereka layak dibinasakan?”

Sejeong mengerucutkan bibir, hal yang biasa ia lakukan saat sedang memikirkan sesuatu atau hendak mengambil keputusan. “Itu perintah langsung dari Fremuz. Ayahku mana bisa menolak,”

Nampaknya tugas kali ini tak akan seberapa berat dari apa yang kudapatkan tempo hari—menghadiahi para pengidap Necrophilia dengan gempa dahsyat hingga tak ada satu pun dari mereka yang selamat.

Sejeong tak menunjukkan air muka khawatir. Dia memang selalu percaya bahwa di dunia tak ada yang mustahil.

Dalam hati aku terus meyakinkan diriku bahwa tugas yang akan kulakukan kali ini belum sebanding dengan apa yang sudah Tuan Kim upayakan demi menggali potensiku.

Dulu, aku selalu dikucilkan, dianggap bodoh, dan tidak berbakat. Saat teman-temanku tengah berjumawa memamerkan ilmu sihir yang mereka dapatkan secara alami setelah melewati masa pubertas—misalnya terbang hingga menembus arakan awan, mengeluarkan api dari telapak tangan, atau bernapas di dalam air—aku cuma bisa diam sambil menatap iri. Karena aku adalah satu-satunya remaja di desa Mozen yang tidak menguasai ilmu sihir apapun.

Sampai akhirnya Sejeong yang memiliki kemampuan menumbuhkan bunga-bunga dari dalam tanah menghampiriku dan mengajakku mampir ke rumahnya. Ia memperkenalkanku pada ayahnya yang merupakan kaki tangan para Dewa. Saat pertama kali melihatku, Tuan Kim mengatakan bahwa aku punya aura kuat yang terpancar dari dalam tubuhku. Beliau lantas memberikan sebuah buku tua yang terselip di rak kayu padaku dan menyuruhku untuk mempelajarinya.

Tak butuh waktu lama bagiku untuk menguasai mantra pada buku itu. Atas bimbingan Tuan Kim, aku pun mulai tahu bahwa aku memiliki kemampuan yang sangat menakjubkan—lebih menakjubkan dari Hongseok atau Hui yang biasa mengejekku dengan ucapan kasar. Aku bisa berubah menjadi raksasa berwujud Beruang Grizzly.

Untuk membalas rasa terima kasihku pada Tuan Kim, aku pun menyetujui tawarannya untuk menemaninya menjadi pekerja di Divisi Perusak Alam. Tugasnya mudah, aku cuma perlu menghancurkan sesuatu dengan fisikku yang besar dan perkasa. Dan siapa tahu dengan pengabdianku yang penuh loyalitas ini dapat membuat Tuan Kim sadar bahwa aku adalah figur menantu yang paling tepat untuk mendampingi hidup putrinya kelak.

[4]

Jika dipikir-pikir, Shinwon sudah menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari berbagai macam mantera yang entah apa-apa saja kegunaannya—saking banyaknya sampai-sampai Shinwon melupakan fungsinya—dan berpikir bahwa tak ada bagus-bagusnya menjadi seorang penyihir.

Sekali waktu, pernah Shinwon ingin mengubah takdirnya dan berharap bisa hidup menjadi manusia normal, bukan seorang penyihir seperti sekarang. Jika bukan karena banyaknya peraturan yang mengekang, pemuda itu juga tak bisa bebas mengekspresikan dirinya. Terlebih persoalan cinta. Penyihir mendapatkan larangan untuk berinteraksi apalagi jatuh cinta kepada manusia. Dan sialnya, Shinwon tengah terjebak dalam larangan yang membuatnya terkurung di dalam kastil penyiksaan sebagai hukuman atas pelanggaran yang telah ia perbuat.

Mantera tak berguna di sini, jadi percuma saja Shinwon mencoba melarikan diri dengan merapalkan berbagai mantera yang ia ketahui, toh, tak ada jalan untuknya keluar sampai masa hukumannya selesai.

Sebenarnya, kastil penyiksaan bukanlah hal terburuk baginya mengingat masih banyak jenis hukuman lain yang bisa saja merenggut nyawa, tetapi bukan hal itu yang membuat Shinwon gelisah. Kenyataan bahwa si gadis yang dicintai juga akan menerima hukuman adalah apa yang pemuda itu sesali.

Berbagai upaya telah Shinwon lakukan untuk bisa kabur dari kastil, tapi hingga detik ini ia tak juga bisa menemukan cara yang tepat. Ketika Shinwon masih mencoba menggunakan otakknya, sepasang mata yang mengintip dari celah pintu  membuatnya mengerutkan kening; bertanya-tanya siapa gerangan pemilik sepasang mata tersebut.

“Oi Shinwon!”

Shinwon lekas mendekat, mengabaikan deritan lantai juga rantai yang telah terpasang di seluruh tubuhnya. Changgu—sahabatnya—berada di luar sana, membuat Shinwon sedikit terkejut melihat kedatangannya.

“Bagaimana bisa kau berada di sini?” Shinwon berbisik, seolah tak ingin seorang pun mengetahui bahwa temannya di sini, mengunjunginya—atau mungkin akan menawarkan bantuan.

“Tidak penting kenapa aku bisa di sini, yang lebih penting adalah … Jiao sudah tertangkap dan akan di bawa ke meja penghakiman. Kau tak akan membiarkan manusia itu mendapat hukuman dari para tetua, bukan? Bisa-bisa gadis yang kau cintai itu mati sia-sia, Bung!”

“Apa yang bisa kulakukan? Jelas saja aku terjebak di sini dan—“

“Aku sudah di sini, Bodoh! Aku akan mengeluarkanmu dan … astaga, semoga ini bukan ide terburuk yang pernah terpikirkan, aku akan menggantikanmu, jadi lekas keluar dari sana. Aku sudah mencuri kunci dari penjaga bodoh yang sudah tertidur berkat ramuanku.”

“Kau sungguh—“

“Nanti saja berterima kasihnya, kau harus membalas kebaikanku ini suatu hari nanti. Sekarang pergi dan selamatkan belahan jiwamu itu! O, Jiao-mu mungkin masih berada di lorong sekarang, jadi cepatlah!”

Changgu telah merapalkan mantera yang membuat seluruh rantai di tubuh Shinwon musnah. Lantas dengan tatapan tak percaya, Shinwon membiarkan Changgu mengantikan posisinya lalu merapalkan mantera berpindah tempat sebelum ia terlambat.

“Hati-hati dan pastikan gadis itu selamat!”

***

Shinwon tiba di lorong panjang saat beberapa orang berjubah hitam tengah menyeret seorang manusia dengan kasar. Shinwon menggeram lantas sebuah mantera ia ucapkan lantang—membuat sekumpulan asap hitam mengerumuni orang-orang tersebut. Selanjutnya, Shinwon merapalkan mantera lainnya yang membuat ia berhasil menarik Jiao dari genggaman penyihir-penyihir menyeramkan itu dan kabur sebelum asap hitam menghilang ditiup sang bayu.

“Kau baik-baik saja?” Shinwon mengamati gadisnya dengan cemas lantas satu dekapan membuatnya menghembuskan napas lega. “Syukurlah.”

“Aku takut. Sangat takut, Shinwon.”

“Maafkan aku …. Ini semua karenaku dan kurasa ada baiknya aku segera menyudahinya, Jiao.”

Jiao melepaskan pelukan lantas menatap manik Shinwon lekat-lekat. “Maksudmu?”

“Kau tahu kita tak akan bisa bersatu, bukan?”

“Shinwon!”

“Jadi, biarkan kita kembali seperti semula. Saling tak kenal dan menjalani hidup sebagaimana mestinya. Maafkan aku.”

Sebelum sang gadis menyuarakan protesnya, Shinwon terlebih dahulu mendaratkan kecupan di bibir. Shinwon tersenyum lalu bibirnya terlihat bergerak-gerak lantas awan putih mengurung keduanya.

“Kuharap kau bisa hidup bahagia, Jiao. Selamat tinggal.”

Tepat ketika awan putih tersebut menghilang, sosok Jiao tak lagi di depan mata. Shinwon tersenyum. Setidaknya ia bisa memanfaatkan mantera-mantera bodoh yang selama ini dipelajarinya, setidaknya ia bisa menggunakannya disaat yang benar-benar tepat, setidaknya mantera penghilang ingatan serta pencipta halusinasi bisa membuat sang gadis melupakannya dan mengingat kisah mereka sebagai bunga tidur. Mimpi buruk yang membuatnya terjaga setiap malam dan Shinwon berharap, malam ini adalah malam terakhir mimpi tersebut mengusik hidup seorang Xu Jiao.

[5]

“Shinwon, sesungguhnya siapa kau ini?” Seruan terkoar dari mulut Ryuhee. Kedua alisnya memecut, netranya linglung mendapati dirinya kini tengah berada di taman yang sepi dan entah di mana.

“Lima detik yang lalu aku hampir saja tertabrak dan sekarang aku berada di taman, bagaimana kau bisa menjelaskan hal ini, Go Shinwon?” Baik. Sekali lagi pertanyaan yang tidak bisa Shinwon jawab terus menerjang masuk ke gendang telinga. Jujur saja, Shinwon terlalu ceroboh melakukan apparate dihadapan seorang muggle dan juga di tengah-tengah jalan raya. Meski sudah di atas 17 tahun, melakukan apparate dihadapan seorang muggle adalah kesalahan besar. Mungkin, sehabis ini, dirinya akan dipanggil ke kantor kementrian dan berhadapan dengan sang Ayah.

Shinwon menggaruk tengkuk, nalarnya tengah mencari alasan-alasan yang masuk akal. Namun seberusaha apapun Shinwon mencari, tidak ada jalan keluar lain selain memberitahu Ryuhee siapa dirinya sebenarnya. “Aku… bisa melakukan sihir…”

“Jadi kau penyihir?”

Hmm, mung—mungkin lebih tepatnya begitu.”

Lantas Ryuhee terdiam, memilih untuk menadahkan bokongnya di atas kursi dan mencerna semua yang dikatakan Shinwon kurang lebih semenit lalu. Ryuhee masih berupaya untuk menghubungkan semua kemungkinan yang ada, seperti; mengapa Shinwon tidak pernah terlihat saat masa sekolah, mengapa Shinwon selalu menjaga diri setiap pergi dengannya. Sekarang semuanya menjadi jelas. Shinwon adalah seorang penyihir.

“Jadi, apa yang bisa kau lakukan dengan sihir? Apa kau bisa memanggil kawanan burung kesini?”

“Tentu.” Shinwon mengambil tongkat sihirnya yang ia sembunyikan dibalik saku di dalam jersey. Lantas perlahan jemarinya melambaikan tongkat tersebut dan menyerukan avis sebagai mantra pemanggil kawanan burung yang terbang dengan indah.

Ryuhee tersenyum manis melihat kerumunan burung-burung tengah terbang dengan indahnya. Ke atas, ke bawah lalu berputar samping kiri dan kanan. Manik Ryuhee tidak bisa lepas dari kerumunan burung-burung tersebut.

Shinwon menyela, “Kau mau ku panggilkan gajah sekalian?”

Sejemang Ryuhee terdiam, pupus sudah raut bahagia diwajahnya. Lantas, satu pukulan keras mendarat pada pundak Shinwon, memecah gelak tawa dua remaja tersebut.

“Ryuhee…” Sapa Shinwon.

Yang disapa pun menoleh, “Iya, Shinwon?”

Shinwon tersenyum seraya melambaikan tongkat sihirnya pada Ryuhee, “Alohomora…” meski Shinwon tahu, mantra itu tidak akan berfungsi pada manusia.

“Mantra apa itu, Shinwon?” kedua alis Ryuhee memecut, terheran dengan apa yang Shinwon lakukan barusan.

Beberap saat Shinwon terdiam—masih dengan senyuman manis, tentunya. Perlahan tangannya kembali memasukkan tongkat sihir ke dalam sakunya, “Itu mantra untuk membuka kunci, kau tahu.”

“Lalu, kenapa kau arahkan padaku?”

.

.

.

“Mungkin aku bisa membuka kunci di hatimu, hm?”

.

-FIN.

NOTE

autoerotic hanging : sering juga disebut autoerotic asphyxiation, merupakan upaya membatasi aliran darah atau oksigen ke otak untuk meningkatkan gairah seksual.

necrophilia : penyakit yang membuat penderitanya suka berhubungan seksual dengan mayat.

Apparate: Berpindah tempat.

Muggle: Seseorang yang bukan penyihir. Di London, kaum ini disebut Muggle sedangkan di Amerika disebut no-maj atau no-majic (Fantastic Beasts and Where to Find Them).

Avis: Memanggil kawanan burung.

Alohomora: membuka kunci.

HAPPY BIRTHDAY OUR HANDSOME BOY, KO SHINWON

WE LOVE YOU! ❤

Advertisements

Author: ayshry

Call Me Ay | A-Blood Type | Forever Maknae | Purple Addict.

8 thoughts on “[Ficlet-Mix] Hocus Pocus”

  1. KYAAAAA UCUL SEMUA, mau komenin satu2 dehh
    1. ini serius aku masih penasaran lia aslinya mau ngomong apa. entah sebenernya di dalam cerita sudah menyiratkan jawaban, kalau misal gitu berarti otakku aja yang lola hahaha… aku ga bayangin Shinwon main Quidditch sumpah hahaha pasti lawak apa lagi kalo lawannya Wooseok, Kino, Yuto gitu kan pasti lawak LOL
    2. sepertinya story ini butuh sekuel karenaaaaaa YA LORD ITU SHINWON UCUL BANGET PAS LAGI SALTING WKWKWK
    3. gak usah dikomen panjang2, ff ini keren banget karena aku sendiri yang nulis /kemudian ditendang /canda deng
    4. kok aku merasa ini mix dari servant of evil sama the legend of the blue sea hahaha. oh iya sama ada review dikit, kak… “Oi Shinwon!” kan itu sapaan ya, harusnya dipisahkan dengan koma jadi “Oi, Shinwon!” gituuu
    5. ini sumpah terngakak masih sempet2nya ae dia ngegombal 😄 tapi ada koreksi kan, di kalimat “…berhadapan dengan sang Ayah.” di sini kan ayah bukan sapaan… jadi pakai huruf kecil

    sudahhh itu sajaaaa maaf komen tidak bermutuku ini ngerusuh, nice fict kakadeul, keep writing ^^

    Like

  2. Baru smpet baca dan aduhhh kece skli fict klian👍👍
    Genrenya jg keren
    Sbnarnya kmren mau ikt project ini tp apalah daya ksibukan praktikum biadab itu menghadang smuanya😢😢
    Bahkan aku bru posting satu ff dsini. Janji deh ntar abis praktikum+uas jg bkal posting

    Keep writing penulis2 kecehh
    Aku pada kalian💋💋

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s