[PTGFFI Freelance] – [Oneshot] His Hidden Plan

his-hidden-plan-cvr

“His Hidden Plan”

Written by Stella Glowee

featuring PENTAGON’s Kino/Kang Hyunggu – E’Dawn/Kim Hyojong – Jo Jinho – Hui/Lee Hwitaek

Brothership, Sci-Fi, Crime | Oneshot | G

(Poster thanks to https://chocoyeppeokpopers.wordpress.com/)

Inspired from Daniel Keyes’ Novels : The Asylum Prophecies(2009)& Charlie Si Jenius Dungu

“Kita berdua layak mendapat piala Oscar, kan?”

.

.

.

“Sayang ya, kau tak seperti manusia kebanyakan.”

Seorang pria berjas putih berkata demikian sambil mengelus rambut milik laki-laki yang 4 tahun lebih muda darinya itu. Ia yang disentuh tak merespon. Bukan karena tidak mau, tapi ia tidak tahu bagaimana caranya untuk merespon, berhubung IQ-nya hanya 68. Lagipula, ia sedang serius bermain. Tapi jangan mengira kalau ia bermain dengan mobil-mobilan atau pesawat tempur mainan. Ia sedang bermain dengan sesuatu yang bahkan tidak untuk dimainkan oleh orang yang jauh lebih cerdas darinya.

“Haruskah  ku lakukan sesuatu untukmu, Kino?”

……….

“Baiklah. Kurasa iya.”

**********

“Pertanyaannya adalah, Bagaimana kau bisa sampai disini?”

Dokter Hui, ahli jiwa nomor satu di seluruh Washington DC itu menganggap bahwa adalah sesuatu yang tidak masuk akalJo Jinho datang ke rumah sakit jiwa miliknya pagi-pagi buta itu. Bagaimana bisa orang sakit jiwa tahu jalan dari Chicago ke Washington DC? Hui tahu siapa Jinho, orang yang 3 tahun lalu masuk ke daftar pasien rumah sakit jiwa milik E’Dawn yang adalah atasannya saat ia masih bekerja di Chicago. Sayangnya, Sehari setelah Jinho menjadi pasien di rumah sakit itu, Hui harus pindah ke Washington DC sehingga ia tak sempat mengenal Jinho lebih jauh.

“Ayolah Jo Jinho. Bagaimana bisa kau tidak sembuh dalam tiga tahun? Apa yang E’dawn lakukan

padamu?”

Jinho menatap ke arah mata Hui dengan tatapan yang seolah berkata : sembuhkan aku dulu jika kau mau tahu. Sebagai ahli jiwa yang hebat, tidak mungkin Hui tidak paham dengan maksud tatapan Jinho tadi.

“Baiklah. Serahkan saja padaku. Kau tahu kalau aku ini hebat, kan?”

Hui benar-benar tidak paham apa yang terjadi sehingga ahli jiwa sekelas E’Dawn tidak bisa menyembuhkan Jinho dalam tiga tahun. Kondisi kejiwaan Jinho sebenarnya tidaklah terlaru parah. Ia hanya depresi dan kehilangan kemampuan bicaranya. Dengan beberapa terapi dan obat-obatan yang diberikan secara berkala, Jinho seharusnya bisa sembuh. Lagipula Hui tidak yakin bahwa kepindahan Jinho kemari adalah karena sesuatu yang wajar. Ada yang tidak beres dan yang tahu akan hal itu hanyalah Jinho. Jinho memang harus sembuh.

**********

“Segera beritahu aku kalau kau menemukannya.” perintah E’Dawn pada seseorang di telepon.

“Bagaimana dia bisa kabur?”

……….

“Apa kau tahu, Kino?”

Kino menggeleng. Laki-laki ini sudah bisa merespon rupanya. Maklumlah, E’Dawn sudah berhasil menemukan cairan yang bisa meningkatkan kecerdasan manusia secara perlahan. Tentulah penemuan luar biasa E’Dawn ini bermaksud untuk memperbaiki IQ Kino yang hanya 68 angka itu. Sekarang IQ-nya sudah semakin bertambah setelah 6 bulan lalu E’Dawn memasukkan cairan itu ke tubuhnya, lalu mengajarinya bahasa Inggris, berhitung, bahkan mengajari sains yang rumit. E’Dawn tidak tahu pasti seberapa cerdas Kino sekarang. Selain karena ia belum melakukan tes IQ pada Kino, E’Dawn merasa bahwa Kino belumlah secerdas itu karena ia belum sekalipun bisa bicara hingga saat ini.

“Kau tahu, Kino? Semenjak kau bertambah cerdas, aku tidak lagi bisa begitu saja percaya padamu.

Aku rasa kau sudah tahu apa itu berbohong.”

Tapi, melihat Kino yang melihatnya dengan tatapanyang berarti : apa maksudmu?membuat E’Dawn mengurungkan niatnya untuk menuduh Kino lebih jauh.

“Baiklah. Maafkan aku. Aku hanya merasa kehilangan pasien kesayanganku.”

Kino yang daritadi bermain dengan mainan yang biasanya, serbuk amonium nitrat dan helaian kabel, tiba-tiba berhenti. Tangannnya meremas serbuk keabu-abuan yang ada di depannya. Benar kata E’Dawn, Kino memang sudah tahu apa itu berbohong dan bagaimana caranya berbohong. Syukurlah kakaknya itu tidak sadar akan hal itu dan percaya bahwa ia memang tidak tahu bagaimana Jinho bisa kabur dari rumah sakit jiwa. Kino tahu yang sebenarnya. Tapi ia tidak akan memberitahu kakaknya. Tidak akan pernah.

**********

“Selamat pagi, Jo Jinho! Apa kau sehat?”

Jinho tersenyum dan mengangguk. Depresinya sudah jauh berkurang dibanding 6 bulan lalu saat ia pertama kali datang ke rumah sakit jiwa ini, walaupun ia masih belum bisa bicara. Rasanya iaingin cepat-cepat bisa bicara. Bukan hanya Jinho, tapi juga Hui. Hui tahu Jinho punya rahasia besar yang harus dikatakan, sesuatu yang berdampak besar bagi umat manusia, misalnya. Tapi entahlah, Hui belum tahu apa itu. Hal yang bisa ia lakukan sekarang adalah membuat Jinho semakin membaik. Hari ini, hui akan perlahan-lahan mengembalikan kemampuan pita suara Jinho agar ia bisa berbicara lagi.

“Ayo minum obatmu, lalu kita mulai terapi.”

**********

“Bagus!” teriak E’Dawn kegirangan.

Kino yang duduk tak jauh darinya rupanya tak penasaran dan tak tertarik dengan apa yang membuat kakaknya begitu girang pagi itu. Hari itu adalah tes IQ pertama kino semenjak ia diberi cairan penambah kecerdasan.

“IQ-mu sudah mencapai 186! Padahal baru setahun yang lalu.”

Kino tak memberikan reaksi apapun. Ia malah beranjak dari kursinya dan bermaksud kembali melakukan permainannya dengan serbuk keabu-abuan yang biasanya.

“Kino!”

……….

“Berterimakasihlah padaku.”

“Untuk apa?” ini juga adalah pertama kalinya Kino membuka mulutnya di depan E’Dawn.

“Aku sudah menyelamatkanmu dari takdir yang buruk.”

“Benarkah? Aku rasa menjadi orang ber-IQ rendah tidaklah buruk.”

E’Dawn menghela nafas panjang. Ia sadar, saat ini ia sedang bicara dengan orang yang ia buat menjadi jauh lebih cerdas darinya. Berdebat dengan Kino hanya akan menguras tenaganya. Apapun yang dikatakannya, Kino pasti akan membantahnya. Akan lebih baik jika ia mengizinkan Kino melakukan apapun yang ingin diperbuatnya.

“Baiklah. Kau boleh pergi. Lakukan apapun sesukamu.”

**********

Setahun berlalu semenjak Jinho tiba-tiba muncul di rumah sakit jiwa milik Hui, kini ia sudah bisa bicara meskipun masih terbata. Bagi hui, ini sudah saatnya untuk Jinho mengatakan apa yang sebenarnya ia ketahui.

“Kurasa aku sudah bisa bertanya hal-hal serius padamu.”

Hui memposisikan dirinya duduk di depan Jinho.

“Pertama, siapa yang membawamu kemari setahun lalu?”

“Ki…..Ki…..Kino”

“Bagaimana bisa bocah itu membawamu kesini?”

“Dia…..cerdas…..”

Hui berusaha mencerna kata-kata Jinho. Tak masuk akal untuk Hui jika orang yang kecerdasannya di bawah rata-rata seperti Kino bisa tahu jalan dari Chicago ke Washington DC. Hui ingat betul, saat ia masih bekerja di rumah sakit jiwa milik E’Dawn, ia bahkan harus mengantar Kino ke kamar mandi karena ia tak mampu mengingat jalan dari ruangan E’Dawn ke kamar mandi.

“Apa sesuatu sudah terjadi pada Kino?” batin Hui.

**********

“Aku ingin tahu kabar Kino.”

Pagi itu, Hui menghubungi E’Dawn setelah 4 tahun ia meninggalkan Chicago.

“Bisakah aku bicara dengannya?”

……….

“Dokter Hui!”

“Kenapa kau berbisik-bisik?”

“Aku tidak ingin kakakku dengar. Aku bahkan saat ini menjauh ke luar rumah sakit.”

“Apa kau benar-benar…..”

“Dengar, itu tidak penting. apa kau sudah mendengar sesuatu dari Jinho?”

“Hanya sedikit.”

“Aku akan ceritakan sesuatu padamu, dokter Hui. Aku akan ke Washington DC malam ini.”

**********

Kino sampai di Washington DC sebelum tengah malam. Ia sengaja datang larut malam agar ia bisa kembali ke Chicago sebelum matahari terbit.Kino sudah tahu jalan menuju kamar sekaligus ruang kerja Hui di rumah sakit ini. Tak butuh waktu lama, Kino sudah berhasil menemukan ruang kerja Hui dan segera mengetuk pintu.

“Ayo masuk.” Hui mempersilahkan tamunya itu masuk.

“Dokter Hui, aku tidak punya banyak waktu.”

“Baiklah. Apa yang ingin kau ceritakan?”

“Dengar. Jinho tahu semuanya. Jinho dengar apa yang kakakku katakan di ruang kerjanya setahun

lalu dan ia ingin membunuh Jinho agar rahasia itu tidak diketahui siapapun.”

“Jadi itulah mengapa kau membawanya kesini?”

“Kau benar. Kau harus beritahu aku apa yang Jinho tahu.”

“Tapi masalahnya, dia belum benar-benar bisa bicara.”

Pernyataan tadi tentu tak memuaskan hati Kino sama sekali. Tapi biarlah. Kino yakin rencana itu tidak akan berjalan tanpanya, karena Kino tahu ini ada hubungannya dengan serum penambah kecerdasan yang diberikan E’Dawn padanya. Dengan kata lain, rencana ini ada hubungannya dengan Kino. Ia memilih untuk tidak melanjutkan konversasi ini, berpamitan dengan Hui dan kembali ke Chicago.

Sebelum jam 5 pagi, Kino sudah tiba lagi di Chicago. Setidaknya ia sudah bertukar nomor ponsel dengan Hui, sehingga ia tahu bagaimana untuk memantau perkembangan informasi dari Jinho. Ia merasa harus menghentikan apapun yang akan kakaknya lakukan sebelum terlambat.

“Apa yang kau pikirkan pagi-pagi buta begini?”

Pertanyaan E’Dawn membuyarkan apa yang ia pikirkan daritadi.

“Tidak ada.” jawab Kino dingin.

……….

“Berhenti ikut campur urusanku.” lanjutnya.

**********

“Tadi…..malam…..Kino..…”

Jinho melempar pertanyaan pada Hui tanpa aba-aba pagi itu.

“Kau tahu? Apa kau begadang lagi kemarin?”

“E’Dawn…..ingin…..negara…..bahaya…..”

Hui bisa menyimpulkan sesuatu dari kata-kata Jinho tadi. Kesimpulannya adalah, Amerika Serikatberada dalam bahaya.Kino harus tahu akan hal ini.

“Seluruh negara? Apa yang akan dia lakukan?”

“Sesuatu yang buruk, Kino. Amerika Serikat terancam. Kau harus awasi E’Dawn.”

Begitulah isi pesan singkat antara Hui dan Kino. Kino jelas tidak mungkin tidak mengawasi E’Dawn berhubung mereka tinggal satu atap. Tapi, ia tahu kakanya adalah orang yang cerdas. Ia bisa melakukan apa saja di luar pengetahuan Kino, termasuk mencari tahu siapa Kino, anak ber-IQ jauh di bawah rata-rata yang 8 tahun lalu datang ke rumah sakit jiwa milik E’Dawn dan kemudian dianggap sebagai adik oleh si pemilik rumah sakit jiwa. Sejujurnya, Kino merasa bersalah karena selama ini E’dawn sudah menjaganya dengan baik seperti seorang kakak. Sekarang, ia harus berlaku seperti seorang pengkhianat. Tapi bagaimanapun, keselamatan seluruh Amerika Serikat bergantung padanya. Memikirkan semua hal ini membuat Kino mendadak sakit kepala. Tapi tidak. Akhir-akhir ini Kino memang sering sakit kepala. Pandangannya juga sering kabur dan telinganya sering tuli sesaat. Kino pun tidak mengerti apa yang terjadi dengan tubuhnya sendiri. Tapi bukan itu yang harus ia pikirkan sekarang. Menghalangi apa yang akan dilakukan kakaknya pada negara ini jauh lebih penting.

“Maafkan aku, Kino. Kau masih terlalu naif rupanya.”

Tanpa Kino sadari, E’dawn memperhatikannya dari jauh sedari tadi.

“Bukan cuma kau yang punya rencana. Aku juga punya.Kita lihat, rencana siapa yang berjalan mulus.”

**********

Jinho dan Hui baru saja menyelesaikan terapi yang kesekian ratus kalinya malam itu. Syukurlah, bicara Jinho sudah semakin lancar. Waktu yang tepat bagi Jinho untuk mulai bercerita sekarang.

“Kurasa, aku harus bicara sekarang.”

“Tentang?”

“Apa yang aku dengar dari E’Dawn.”

Jam dinding terus berdetak sembari Jinho menceritakan segala sesuatunya pada Hui. Berbagai reaksi Hui tunjukkan kala itu, meskipun kebanyakan adalah reaksi tidak percaya.

“Bukan hanya Pentagon yang dalam bahaya, Kino juga!” Jinho menutup cerita panjangnya.

Hui membuat dirinya berada dalam proses pemulihan dari keterkejutan setelah semua yang ia dengar dari Jinho. Ia sungguh tak menyangka semua kenyataan yang Jinho tahu selama 3 tahun tinggal di rumah sakit jiwa milik E’Dawn berada di luar kapasitas otaknya. Soal siapa Kino, apa yang E’Dawn kerjakan selain menjadi dokter ahli jiwa, apa maksud dari yang dilakukannya pada Kino, dan apa rencana tak berperikemanusiaan yang ia tujukan untuk Amerika Serikat. Kepala Hui sungguh tidak sanggup mencerna itu semua.

**********

“Jadi, Jinho sudah benar-benar sembuh?”

“Benar. Tapi pertama, kau harus jawab pertanyaanku.”

“Apa?”

“Aku sudah mendengarnya dari Jinho. Tapi aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri.”

“Baiklah.”

“Siapa kau sebenarnya?”

-Kino’s POV-

Aku Kino, adik dari profesor yangjuga ahli jiwa bernama E’Dawn. Bukan adik yang sebenarnya. Aku hanya orang asing yang dianggap adik olehnya. Aku adalah perakit senjata peledak yang bekerja untuk Pentagon*. Soal mengubah amonium nitrat menjadi bom berdaya ledak tinggi, aku ahlinya. Meskipun buatantanganku memang berbahaya, tapi sudah pasti Pentagon tidak akan menggunakannya untuk mencelakakan umat manusia.

Delapan tahun lalu, Pentagon mendapat informasi bahwa di Chicago, sebuah rumah sakit jiwa dijadikan gudang penyimpanan bahan peledak. Seharusnya, tidak boleh ada bahan peledak yang berkeliaran di luar gudang penyimpanan milik Pentagon. Dengan kata lain, ini ilegal. Karena itulah aku ditugaskan menjadi mata-mata Pentagon untuk menyelidiki hal ini. Jika memungkinkan, aku harus merakit senjata peledak dari bahan yang tersimpan di rumah sakit jiwa itu dan mengirimkannya ke Pentagon untuk memperkuat persenjataan. Aku dan salah satu rekanku kemudian pergi ke Chicago. Tapi, tidak mungkin aku bias begitu saja masuk ke rumah sakit jiwa tanpa mengalami gangguan jiwa. Paling tidak, aku harus berpura-pura memiliki suatu ketidaknormalan pada diriku sehingga aku bias masuk kesana. Aku memutuskan untuk menginstruksi rekanku agar mengatakan bahwa aku adalah anak dengan IQ hanya 68. Beruntunglah aku diterima dengan baik oleh pemilik rumah sakit jiwa itu, E’dawn. Benar saja, banyak sekali bahan peledak yang aku temukan di ruang bawah tanah setelah aku menyelinap diam-diam tengah malam.

Hari kedua aku disana, aku menarik-narik jas E’Dawn dan berputar-putar di depannya seperti orang bodoh. Maksudku, aku berpura-pura meminta E’Dawnuntuk membawaku mengelilingi rumah sakit jiwa ini sampai ke ruang bawah tanah. Beruntunglah ia paham maksudku. Di ruang bawah tanah, aku menunjukkan ketertarikanku pada bahan peledak di depan E’Dawn, sehingga ia megizinkanku mengakses ruang rahasia ini.

Setiap hari aku melakukan tugasku. Merakit bahan  peledak dan mengirimkannya diam-diam ke Pentagon. Aku bisa mengirimkan lebih dari selusin bom setiap tengah malam. Entahlah, aku tidak pernah menghitung secara pasti berapa yang kubuat setiap hari. Empat tahun setelah aku mendatangi rumah sakit jiwa itu, E’Dawn berusaha menemukan sesuatu yang bisa meningkatkan IQ seseorang. Ia tertipu rupanya. Ia tidak tahu bahwa sebenarnya IQ-ku 140. Setelah berbagi macam percobaan, baru sekitar setahun lalu ia berhasil menemukan cairan yang bisa menambah IQ dan cairan itu pun disuntikkan padaku. Akibatnya, beginilah aku sekarang. IQ-ku sudah mencapai 186 dan masih bisa terus bertambah seiring berjalannya waktu. Pertanyaannya, apa tujuan E’Dawn ingin meningkatkan IQ-ku?

-Kino’s POV End-

“Jadi begitu.”

“Lalu, apa lagi yang Jinho katakan?”

**********

-Jinho’s POV-

Aku Jo Jinho. Bekas pasien rumah sakit jiwa milik E’Dawn. Meskipun saat itu aku sakit jiwa, tapi aku bisa memahami dan mengingat apa yang orang lain katakan, termasuk apa yang E’Dawn katakan di ruang kerjanya siang itu saat aku sedang berkeliling rumah sakit jiwa. Biar aku ceritakan apa yang aku dengar saat itu.

Pertama, E’Dawn sudah tahu siapa Kino. Tujuan sebenarnya E’Dawn memberikan cairan penambah kecerdasan adalah untuk membunuh Kino. Cairan itu sebenarnya memiliki efek samping yang berbahaya. Setiap IQ Kino bertambah, sel-sel di tubuhnya akan mengalami degenerasi*. Jika ini terus berlanjut, Kino benar-benar dalam bahaya.

Kedua, beberapa hari sekali E’Dawn mencuri sedikit, mungkin dua karena aku hanya pernah melihatnya membawa bom itu di kedua tangan, dari sekian banyak bom yang dibuat Kino sebelum dikirim ke Pentagon. Ia mengirimkannya pada kelompok teroris yang ingin membelot dari Amerika Serikat. Benar, ia bersekongkol dengan kelompok ini. Lebih tepatnya lagi, E’Dawn adalah ketuanya. Kalau mereka sudah berhasil membuat 1000 bom, mereka akan menyebarkannya ke seluruh Amerika Serikat. Jika saat itu tiba, seluruh negara sudah pasti akan porak poranda.

Sayangnya, E’Dawn melihat bayanganku yang menerobos celah pintu ruang kerjanya. Ia benar-benar ingin membunuhku. Beruntunglah, Kino tahu bahwa kakaknya ingin membunuhku dan membawaku ke Washington DC  dimana Hui pindah dan bekerja di kota ini. Kurasa, aku harus berterimakasih padanya.

-Jinho’s POV End-

“Sial!” umpat Kino dalam hati.

Ternyata selama ini ia tinggal bersama, bisa dibilang, musuh besar Pentagon. Semua kemampuannya selama ini dimanfaatkan oleh E’Dawn untuk melaksanakan kejahatan. Ditambah, semua gejala-gejala aneh yang terjadi pada tubuhnya adalah efek samping dari cairan penambah kecerdasan yang kurang lebih setahun lalu disuntikkan padanya. Kali ini, tugasnya adalah mencari tahu kemana E’Dawn mengirimkan bom-bom itu, menyita semuanya sebelum Amerika Serikat hancur.

“Bisakah aku berterimakasih padamu sekarang?”

E’Dawn ternyata menyadap pembicaraan Kino dan Hui dari tadi.

“Kau pikir aku tidak tahu? Kau pergi larut malam ke Washington DC waktu itu untuk menemui Hui.

Jadi aku putuskan untuk mengawasimu.”

E’Dawn mendekat, merebut ponsel Kino dan memutuskan sambungannya dengan Hui.

“Kau pasti tidak sadar, kan? Ada banyak kamera tersembunyi di rumah sakit jiwa ini, juga

microphone super kecil di dekat speaker ponselmu.”

Rupanya E’Dawn masihlah seorang professor yang cerdas. Tidak semudah itu Kino mengendap-endap menjalankan rencananya di belakang E’Dawn. Meskipun sekarang IQ Kino lebih tinggi, Tapi E’Dawn masih jauh lebih licik.

“Kita berdua layak mendapat piala Oscar, kan?”

Sindir E’Dawn atas segala akting mereka yang super brilian selama ini.

“Aku tinggal butuh sedikit lagi. Tapi kali ini aku tidak akan merepotkanmu. Aku bisa membuatnya

sendiri.”

**********

Pagi-pagi buta, Kino melajukan mobilnya ke Washington DC. Ia sudah menutupi semua kamera pengintai dengan kain hitam, tak lupa juga melepas microphone yang ada di ponselnya. Hari ini juga ia akan kembali ke Pentagon, melaporkan semuanya dan meminta tim inteligen untuk menyelidiki dimana markas kelompok teroris yang diketuai E’Dawn sebelum ia berhasil membuat bom yang ke-1000.

“Kita harus temukan markas mereka dan menyita semua bom itu sebelum mereka menjalankan

rencananya.” lapor Kino setibanya di Pentagon.

Kino benar-benar kacau saat ini. Sakit kepalanya kambuh lagi. Mungkin karena IQ-nya kembali bertambah beberapa hari ini. Itu artinya, hidupnya juga bertambah pendek.

Kino memutuskan untuk tidak kembalike Chicago hari itu untuk menghindari kecurigaan E’Dawn. Tapi rupanya E’Dawn memang curiga karena semua kamera tersembunyi di rumah sakit jiwa itu tertutupi kain hitam.

“Sial kau, Kino!” teriaknya kesal.

“Dia pasti sudah memberitahu semua rencanaku ke Pentagon! Ini gara-gara Jo Jinho!” gerutunya.

“Tapi tidak ada gunanya lagi jika aku membunuhnya. Aku harus menyelesaikan yang ke-1000.

Secepatnya.”

**********

“Kau terlihat tidak baik hari ini.” ujar Hui.

Kino pulang ke rumah sakit jiwa milik Hui setelah selesai memberikan informasi ke Pentagon.

“Bagaimana jika E’Dawn berhasil menyelesaikan yang ke-1000 sebelum kami menemukan

markasnya?”

“Kau punya waktu 3 hari.”

Jinho yang datang entah dari mana tiba-tiba menimpali.

“Dari mana kau tahu?” tanya Kino.

“Apa kau juga agen FBI yang berpura-pura sakit jiwa, Jo Jinho?” canda Hui.

“Aku ini orang sakit jiwa yang cerdas. Dengarkan ini.”

Kino dan Hui memfokuskan diri pada Jinho dan apa yang akan dikatakannya.

“Pertama, aku pernah memata-matai E’Dawn saat mencuri bom buatanmu. Dia hanya mengambil

dua, itupun hanya beberapa hari sekali. Anggap saja 5 kali dalam sebulan. Berapa yang ia dapat

dalam 8 tahun?”

“960?” Kino dengan kecerdasan otaknya yang sekarang menjawab kurang dari 1 detik.

“Kedua, E’dawn tidak bisa membuat bom sendiri pada awalnya. Itulah mengapa dia mengizinkanmu

untuk memakai bahan peledak dan mencuri bom buatanmu. Kalaupun dia sudah mempelajari caramu

membuat bom, dalam sehari dia hanya bisa membuat sebanyak yang kau bisa buat. Berapa

waktu yang kau butuhkan untuk membuat 40 bom?”

“Tiga hari! Kau lebih cerdas dariku, Jo Jinho!” puji Kino.

“Terima kasih. Kau harus selamatkan seluruh Amerika Serikat, Kang Kino.”

**********

Pagi yang indah di Chicago kala itu. Sudah 2 hari semenjak Kino meninggalkan rumah sakit jiwa milik E’Dawn dan tinggal di Washington DC bersama Hui dan Jinho sambil terus menyelidiki keberadaan markas kelompok teroris yang dicari-cari. Di sisi lain, E’Dawn juga terus berusaha menggenapi 1000 bom yang ia butuhkan.

“Aku akan menyelesaikan yang ke-1000 hari ini. Bagaimana denganmu, Kino?”

E’Dawn sengaja menghubungi Kino pagi itu untuk memamerkankeberhasilannya yang hampir tampak di depan mata.

……….

Sambungan terputus. Tampaknya Kino sedang tidak ingin bicara dengan E’Dawn.

“Sombong sekali. Seperti inikah orang yang kurawat selama 8 tahun?”

E’Dawn kembali melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi. Satu persatu bom selesai dibuat hingga matahari terbenam. Sebenarnya hanya tinggal satu bom lagi, tapi E’Dawn memutuskan untuk melanjutkannya setelah makan malam.

TOK TOK TOK

Pintu rumah sakit jiwa diketuk tepat sedetik sebelum garpu yang sudah terlilit spaghetti masuk ke mulut E’Dawn.
“Menggangu saja! Apa Kino pulang?”

E’Dawn meninggalkan makan malamnya dan berjalan ke arah pintu. Tak sampai E’Dawn sempat menyapa 2 orang yang ada di depan pintu itu, kedua tangannya sudah di borgol. Beberapa detik kemudian, baraccuda bertuliskan SWAT parkir di depan rumah sakit jiwa. Beberapa orang yang ia kenal turun dari situ dalam keadaan terborgol seperti dirinya.

“Benar, ini ketuamu?”

“Benar, dia ketua kami.” jawab salah satu anak buah E’Dawn.

“Aku berhasil kan?” tanya Kino yang datang beberapa saat kemudian bersama Jinho dan Hui.

“Jangan marah padaku. Salahkan dokter Hui. Semua bom curianmu sudah ku serahkan pada

Pentagon.”

**********

-Hui’s POV-

Aku membereskan ruang kerjaku hari itu setelah sekitar setahun tidak ku sentuh karena sibuk mengurus pasien kesayanganku yang bernama Jo Jinho. Mulai dari rak buku, lemari pakaian, meja kerja, semuanya berantakan. Sebenarnya aku ingin Jinho yang membereskannya, karena ini semua gara-gara orang itu. Tapi apa daya, Jinho kini harus sering berada di Pentagon bersama Kino untuk memberikan informasi perihal E’Dawn. Jadilah aku sendiri yang harus mengatasinya.

Ditengah-tengah aku membereskan lemari pakaianku, aku menemukan jas putih yang pernah diberikan E’Dawn padaku 5 tahun lalu. Aku jadi teringat masa-masa awal aku bekerja dirumah sakit jiwa di Chicago itu. Aku mencoba untuk memakainya lagi. Tapi, sesuatu terjatuh dari dalam kantong jas itu sebelum aku sempat memasukkan lenganku. Sebuah kertas. Kertas yang terlipat dua kalidan sudah berubah warna jadi kecoklatan. Penasaran, aku membuka lipatan kertas itu dan membuka isinya.

Sebuah alamat di Las Vegas. Aku curiga ada sesuatu dengan alamat itu. Aku meminta Kino untuk kembali sebentar dan memberitahunya soal ini. CIA segera diperintahkan untuk memata-matai rumah yang ada di alamat itu. Bingo! Dugaanku benar. Itu adalah markas rahasia kelompok teroris yang dicari oleh Kino. Dengan waktu tersisa kurang dari 36 jam, SWAT segera bertindak untuk menangkap para anggota kelompok dan menyita 986 bom yang ada di tempat itu. Sekarang, giliran E’Dawn untuk ditangkap.

-Hui’s POV End-

“Baiklah. Aku mengaku kalah, Kino.”

**********

“Apa kau baik-baik saja hari ini?”

Kino menanyakan kabar E’Dawn saat berkunjung untuk yang kesekian kalinya ke penjara hari itu.

“Seharusnya aku yang bertanya padamu.”

“Aku baik-baik saja.”

Keheningan meliputi mereka berdua sejenak. E’Dawn ingin mengatakan sesuatu, tapi mulutnya tertahan sedari tadi. Bagaimanapun, semua ini adalah salahnya. Ia tahu Kino tidak mungkin baik-baik saja. Efek samping dari cairan itu akan terus bekerja di tubuh Kino sampai ia tidak sanggup menahannya lagi.

“Kino…..Maafkan aku.” E’Dawn tertunduk.

“Sudahlah. Semua makhluk hidup akan mengalaminya suatu saat nanti, kan?”

“Tapi aku membuat saat itu tiba lebih cepat.”

Kino menghela nafas. Benar kata kakaknya, ini memang salah E’Dawn. Tapi sudah tidak ada cara lagi untuk memperbaiki semuanya.

“Berapa sisa waktuku?”

Pertanyaan Kino membuat E’Dawn kembali mengangkat kepalanya. Ia merasa sepertinya ia salah dengar. Mungkin telinganya harus segera diperbaiki. Tapi tidak. Telinganya masih baik-baik saja. Ini memang adalah pertanyaan gila dari Kino.

“Mungkin setahun. Atau lebih cepat.”

“Kalau begitu aku akan melakukan tugasku sebagai ketua divisi anti-terorisme dengan baik.

Meskipun hanya setahun.”

“Jadi kau sudah naik jabatan?”

Kino mengangguk. Setidaknya, hidupnya sudah berguna bagi keamanan Amerika Serikat selama 9 tahun ia bekerja di Pentagon.

“Berjanjilah padaku. Setahun lagi, kau harus datang ke pemakamanku.”

“Janji macam apa itu?” batin E’Dawn.

“Dasar kau, Kang Kino!”

……….

“Baiklah. Aku janji.”

-THE END-

*Notes :

Pentagon adalah gedung Departemen Pertahanan AS di Arlington, Virginia dekat Washington D.C., yang berbentuk segi lima. Pentagon adalah kantor utama angkatan bersenjata AS.

Degenerasi merupakan suatu perubahan keadaan secara fisika dan kimia dalam sel, jaringan, atau organ yang bersifat menurunkan efisiensinya.

(dikutip dari https://id.wikipedia.org/)

Advertisements

2 thoughts on “[PTGFFI Freelance] – [Oneshot] His Hidden Plan”

  1. Subhanallah ini keren sekaliiiii!!!!
    Good job author, huhu Kino 😦 umurmu bakal pendek yaaaaa ga tega ga tega
    Udah keren banget semua2nya, tapi sedikit koreksi, “respon” seharusnya “respons” dan “disini” harusnya “di sini”
    Udah itu aja, nice fic.. keep writing ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s