[PTGFFI Freelance] – [Ficlet] Mati Lampu

b85cfe7068059ad4983fd7ec562f7a09

Hongseok x Sean Short Story : Mati Lampu

An absurd-fict by Maurisseu (find me on wattpad : @maurixxeu)

Pentagon’s Yang Hong Seok || OC’s Huang Rosseane

General || Comedy || Ficlet

I just own this plot. Dialog tidak baku!!

.

.

~~~~~

“Mati lampu boleh, asal hati aku aja yang jangan mati lampu..”

“Iya, iya. Bawa terus, oper … YAA!!” Hongseok berteriak cukup keras ketika club bola favoritnya mencetak gol, hingga membuat Sean yang tertidur di pundak Hongseok meringis pelan.

“Bawa terus, iya gitu. Tembak, tembak! GOL!!”.

‘Bukk’

Hongseok yang berdiri secara refleks itu membuat Sean terjatuh dari sofa.

“Hongseok, ih! Kalau nonton yang bener!” Sean mengaduh.

Mungkin memang karena telah dibutakan oleh bola, Hongseok tidak menanggapi perkataan Sean barusan. Ia masih sibuk menatap lekat layar televisi.

“Hongseok! Yang Hongseok!” teriak Sean.

“Bentar, Sean. Ini bentar lagi waktunya mau habis …. ahh, kok kartu merah? Hei! Itu harusnya kartu kuning. Hei, wasit! Harusnya kartu kuning itu, akhh, gak bener. Gak seru ah!” Hongseok pun heboh sendiri.

Sean berdiri dari lantai dan bersungut kesal. “Hong, aku tidur di kamar kamu aja ya? Berisik kamu. Gak romantis dasar!”.

“Iya, iya. Udah, sana. Masih seru nih..” Hongseok tidak memalingkan wajahnya dari layar televisi. “Ehh, kok penalti sih? Gak ada salah apa-apa juga.”.

Sean mengumpat pelan. Memang ya, pacaran sama penyuka bola itu agak susah? Tidur tengah malam, niatnya mau romantisan dulu, malah nonton bola. Mana jam tayangnya itu klub bola favorit lagi. Ugh, emang Hongseok sialan banget. Gak romantis. Untung aja ganteng, jadinya aku gebet, batin Sean.

“Maskeran dulu ah, nanti keriputan lagi, kayak Hongseok kalau lagi cemberut..” Sean yang berada di kamar Hongseok malah segera ngacir ke kamar mandi.

~

“Iya, iya, bawa terus! Tembak, tembak! YAA―”.

‘Pet!’

“Jangan dimatiin dong listriknya, Sean. Kamu marah ya karena aku malah nonton bola? Nyalain dong Sean. Habis ini selesai, MU-nya udah menang 3-0 tuh!” Hongseok berdecak.

“Sean? Sean?” Sean tidak menjawab.

Hongseok mendengus kasar. Perlahan, ia meraba-raba sekitar karena keadaan begitu gelap. Ia mencoba menekan saklar berkali-kali, tapi lampu tetap tidak mau menyala.

“Eh? Kok gak mau nyala? Mati lampu ya?” gumamnya pelan seraya menyalakan ponselnya, sebagai alat penerangan.

“Hong?” pundak Hongseok seperti ditepuk pelan. Ketika Hongseok menoleh ke belakang.

“SETAN!” jerit Hongseok histeris melihat Sean yang memakai masker wajah putih. “EH, JANGAN DICEKIK DULU! BELUM SEMPET NONTON PERTANDINGAN LIVE MU SAMA CHELSEA DI OLD TRAFFORD SAMA BELUM NGELAMAR SEAN INI.”.

Terdengar kikikan tawa kecil ketika Hongseok menyelesaikan perkataannya. Hongseok yang kini ketakutan setengah mati mulai membuka matanya yang tadi terpejam―enggan melihat setan. Dan tiba-tiba saja lampu menyala.

“Hong, kamu lucu banget deh..” Sean tertawa.

Hongseok kini jadi salah tingkah. Duh. “Sean, kamu nakutin aku tau. Aku kira setan..”.

“Mana ada setan cantik kayak aku, Hong?”.

“Adalah.”.

“Eh, emangnya bener kamu gak mau mati sebelum kamu nikah sama aku?”.

Hongseok menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ah, pake keceplosan segala sih ini mulut, umpat Hongseok dalam hati.

“Ngaku aja, gak apa-apa kok.”.

“Iya deh, iya. Gak mau mati dulu sebelum nikah sama kamu, puas?”.

Sean tertawa kencang. “Tau gak, Hong? Aku sempet motret wajah kamu lagi derp face pas liat aku yang dikira setan … mau aku post di instagram pake caption ‘gak mau mati dulu sebelum nikah sama Sean’, sama dikasih liat ke member Pentagon, biar kamu diketawain sama member Pentagon yang lain.”.

“Jangan Sean, itu akunya lagi komuk tau.”.

“Ga apa-apa, aku jadiin wallpaper sama lockscreen ponsel aku.”.

“SEAN!”.

“Iya, iya, Hong ….”.

Hongseok mendesah pelan. “Gak apa-apa deh rumah aku mati lampu, daripada hati aku mati lampu, ‘kan serem.”.

“Iyalah serem, hati kamu ‘kan isinya gudang semua.” Sean menimpali.

“Makin sayang deh, sama Sean kalo lagi ngelucu. Ke kamar yuk?” Hongseok mengedipkan sebelah mata.

“Mau ngapain?” Sean menautkan sebelah alisnya.

“Sean tadi udah buat aku teriak karena serem, sekarang aku mau buat Sean teriak karena kesakitan.”.

“Sialan kamu, Hong! Emang setan kamu!!”.

Fin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s