[Vignette] Untoldable Phrase (Yuto’s Side)

Processed with VSCO

UNTOLDABLE PHRASE

.

Romance, Angst, Slice-of-life || Vignette || Teen

.

Starring
Pentagon’s Yuto, TWICE’s Momo

.

Inspired by
Illa Illa by Juniel

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

I only own the plot

.

(Momo’s Side)

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

“Because first love is beautiful, a first love is like a flower.” –Illa Illa (Juniel)

 

Yuto tak pernah menyangka sebuket buga yang ia beli akan membawanya pada suatu pengalaman yang tak terlupakan. Berawal dari mencari hadiah untuk sang Ibu dalam rangka Mother’s Day dan kuriositasnya akan toko bunga di ujung jalan. Toko bunga yang sederhana, terlihat sepi, sebuah papan hitam di depan pintu yang hanya bertuliskan Flower dengan kapur tanpa embel-embel lain, tetapi berbagai macam bunga tersedia.

Saat Yuto iseng mengintip ke dalam, maniknya tertumbuh pada sosok seorang gadis yang sedang asyik merangkai bunga. Bagai sebuah berlian, jemari lentiknya menggenggam tangkai demi tangkai perlahan, menyentuh kelopaknya dengan hati-hati, bahkan menatap hasil rangkaian yang ia acungkan dengan mata berbinar. Plum merah itu pun mengukir senyum tipis.

Dan sepertinya ia terlalu asyik dengan kegiatannya merangkai bunga, bahkan sampai tak menyadari denting lonceng di pintu ketika Yuto masuk. Lebih dari itu, Yuto sampai harus mengetuk meja tempat si gadis merangkai bunga untuk membuat ia menyadari presensinya.

Sang gadis terlihat terkejut untuk sesaat, lalu menundukkan wajah. Yuto tersenyum geli melihat tingkah gadis surai cokelat tersebut.

Tak banyak yang Yuto beli, hanya sebuket bunga anyelir merah muda serta sebuah kartu ucapan Selamat Hari Ibu untuk diselipkan. Sang dara membungkus bunga cantik tersebut dengan kertas tisu, lalu mengikatkan sebuah pita ungu pada kumpulan tangkainya. Gerakannya lemah gemulai, penuh kehati-hatian.

Setelah Yuto meletakkan beberapa lembar sepuluh ribu yen di atas meja, gadis itu menyerahkan buket padanya. Satu hal yang membuat senyum geli Yuto kembali tersungging: gadis itu masih meliriknya takut-takut. Ketika Yuto mengucapkan terima kasih, sang gadis hanya mengangguk pelan.

***

Perasaan ini tak dapat dideskripsikan. Entahlah, yang pasti Yuto belum pernah merasakannya sebelumnya. Tanpa bisa ia cegah, bayangan gadis penjaga toko bunga tadi siang masih tergambar jelas di benaknya. Kurva bahagianya saat sedang merangkai bunga, binar ketertarikannya, serta lirikan malu-malu takut yang dilontarkan sang gadis berhasil membuat Yuto kembali menarik kedua sudut bibir. Bagi sang pemuda, dara tersebut tampak imut dan lugu.

Bahkan pesonanya mampu membuat Yuto sengaja terjaga semalaman, hanya untuk sebuah kegiatan: melukis potret wajah sang gadis dalam sebuah kanvas.

***

Esoknya, Yuto kembali mampir. Sengaja ia langkahkan tungkai sepelan mungkin saat mengitari toko bunga yang memang tak seberapa besar tersebut. Dilihatnya setiap bunga yang tersedia, corak yang tergambar pada masing-masing kelopak. Dibacanya karton yang bertuliskan nama dari masing-masing bunga dengan seksama. Disentuhnya kelopak demi kelopak dengan lembut. Bahkan, dibauinya setiap bunga satu demi satu, seraya senyumnya merekah.

Well, jangan tanya apa yang sedang Yuto lakukan di sana, karena ia sendiri pun tak tahu. Satu-satunya alasan Yuto berkunjung ke toko bunga tersebut adalah untuk menemui si gadis. Ia bahkan tak tahu apa yang ia akan perbuat bila mereka sudah berjumpa. Yang pasti, sejak kemarin malam, rasa rindunya telah membuncah, membuatnya uring-uringan tidak jelas. Dan kini, ketika berhasil melihat dara tersebut, perasaan Yuto membaik.

Yuto sadar benar sejak tadi netra sang gadis tak jua beranjak dari padanya. Ya, lagipula hanya Yutolah satu-satunya pengunjung toko siang itu. Beberapa kali Yuto memergok sang gadis yang tengah meliriknya, lalu ketika ketahuan, gadis itu cepat-cepat mengalihkan pandangan. Lagi-lagi Yuto tersenyum geli.

Yuto tak peduli berapa lama waktu yang terbuang hanya dengan melihat-lihat bunga. Ibunya suka berkebun dan punya berbagai macam koleksi tanaman hias, namun rasa ketertarikannya tak pernah sebesar ini sebelumnya. Ia bukan tipe orang yang mudah mengungkapkan perasaan, omong-omong. Tetapi kumpulan bunga bisa dijadikan alasan untuk bertemu gadis surai cokelat tersebut, kan? Toh ia tidak benar-benar sekedar mampir hanya untuk mondar-mandir memanjakan mata. Yuto pulang dengan membawa setangkai bunga mawar, hasil koceknya.

Esoknya, ia datang lagi. Begitu pula esoknya, esoknya, dan esoknya. Kegiatan yang sama: menjelajahi setiap sudut toko, mengamati bunga demi bunga, dan berakhir dengan membeli setangkai mawar. Selain itu, ia pun menikmati lirikan diam-diam yang gadis itu berikan pada setiap presensinya.

Yuto bahkan mengabaikan keheranan sang Ibu akan mawar harian yang diberikan putra tinggalnya. Setiap kali ditanya, Yuto hanya memberi jawaban “bukti cinta pada Ibu” tanpa mau memberi penjelasan lebih lanjut.

Biar saja Ibunya penasaran. Beliau tidak perlu tahu alasan sebenarnya di balik mawar-mawar tersebut.

***

Yuto bukan tipe orang yang percaya akan ungkapan jatuh cinta pada pandangan pertama. Menurutnya, cinta itu butuh proses. Cinta itu tumbuh karena banyaknya interaksi, karena saling mengenal. Mana mungkin hanya dengan sekali tatap perasaan cinta bisa muncul? Yuto tak habis pikir. Kalau perasaan kagum, simpatik, ingin memuji, Yuto masih bisa maklum. Tetapi, cinta? Hah!

Itu pemikirannya dulu. Sampai ia dipertemukan dengan gadis penjaga toko bunga di ujung jalan.

Well, Yuto belum mau mendeklarasikan bahwa apa yang ia rasakan saat ini adalah jatuh cinta. Toh selama ini tak ada interaksi yang terjadi di antara mereka. Frekuensi pertemuan memang banyak, tetapi hanya diisi dengan saling lirik-lirik malu satu sama lain. Diam lawan diam. Apa itu yang layak disebut interaksi?

Lantas, bila bukan jatuh cinta, apa penjelasan dari perasaan rindunya setiap mereka berpisah? Apa alasan dari kunjungan tanpa maksudnya setiap hari jam dua belas siang? Mengapa ia tak mampu mengenyahkan bayangan sang gadis dari otaknya? Dan, bagaimana dengan uring-uringannya?

Pemuda itu menghela napas, seraya kembali menatap selembar tiket pesawat dalam genggaman. Tiket menuju London, Inggris, tempatnya melanjutkan pendidikan. Esok pagi adalah waktu keberangkatannya.

Yuto bimbang. Teringat akan gadis penjaga toko bunga tersebut. Begitu sampai di London kelak, ia tak akan punya kesempatan untuk mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam. Rasa menakjubkan yang tak dapat ia definisikan. Yuto tak tahu siapa nama gadis itu, pun kontak yang bisa ia hubungi ketika mereka sudah terpisah ribuan mil.

Karenanya, setelah mempertimbangkan matang-matang dari berbagai aspek, keputusan Yuto pun bulat. Cepat-cepat ia menggulung kanvas lukisan potret wajah sang gadis, lalu memasukkannya dalam tas tabung yang selama ini ia bawa ke ke kampus. Mengabaikan pakaiannya yang belum selesai dimasukkan ke dalam koper, Yuto pergi dengan tergesa-gesa meninggalkan rumah.

Ia berlari secepat yang ia bisa, tak peduli akan hujan rintik-rintik yang kini mulai membasahi bajunya. Meski dengan penerangan lampu jalan yang remang-remang, bukan masalah bagi Yuto. Meski peluhnya mulai bercucuran, ia tak peduli. Fokusnya hanya satu: toko bunga di ujung jalan. Motivasi itulah yang membuat tungkainya terus berlari dan berlari, melawan dinginnya angin malam yang menusuk kulit.

Hembusan napas lega segera meluncur dari mulut Yuto begitu mendapati lampu di dalam toko tersebut masih menyala. Dengan kata lain, toko masih buka dan bisa dipastikan sang penjaga masih berada di dalam. Yuto tak segera masuk. Terlebih dahulu ia memegangi lutut seraya mengatur napasnya yang terengah-engah.

Perlahan, ia membuka pintu kaca toko tersebut. Dentingan bel kemblai menyambut. Dan seperti biasa, sang gadis tak langsung menyadari presensinya.

Degupan jantung Yuto semakin tak terkendali begitu tungkainya menguntai langkah demi langkah mendekati sang dara. Bibirnya mulai terasa kering dan tenggorokannya bagai tercekat. Ia mulai dilanda kepanikan ketika menyadari bahwa tadi ia terlalu sibuk berlari sampai lupa mempersiapkan kata-kata yang tepat untuk disampaikan. Peluh akibat berlari kini bercampur dengan keringat dingin di punggung akibat gugup.

Ehm … permisi ….”

Yuto tanpa sadar menggigit bibir bawah. Hatinya bertalu-talu menunggu respon sang gadis.

Butuh sekitar dua sekon sampai atensi gadis itu teralih dari dua tangkai bunga bugenvil. Gadis itu perlahan mengangkat wajah, dan ketika pandangan mereka bersirobok, Yuto melihat manik gadis itu membola untuk sesaat.

“Aku …. Besok …. Aku akan berangkat besok.”

Yuto meringis, merutuki dirinya akan setiap frasa tidak jelas yang ia ucapkan. Bicara apa ia ini?

“Besok aku akan pergi ke tempat yang jauh.”

Lagi-lagi Yuto memarahi diri. Lantas mengapa kalau ia pergi? Apa urusan gadis itu?

“Sebenarnya ….”

Bagaimana ia harus mengatakannya?

“Aku … aku ….”

Demi sepuluh tangkai mawar yang kini memenuhi vas ibumu, katakan saja, Adachi Yuto!

“Aku sangat menyukaimu. Sudah sejak lama.”

Yuto kembali menggigit bibir. There, he said it. Lalu, sekarang apa?

“Karena itu ….”

Ayo lanjutkan!

“Karena aku akan pergi jauh besok dan entah kapan kembali, jadi ….”

Sedikit lagi!

“Maukah kau … “

Yuto terdiam untuk sesaat. Berani sumpah, ini adalah pertama kalinya ia mengutarakan perasaan pada seorang gadis. Dan mengucapkan kata demi kata itu terasa amat sulit.

“menjadi kekasihku?”

Kelopak matanya terpejam. Baiklah, ia sudah mengatakannya, melawan semua gejolak yang membuat perasaannya tak keruan. Luapan emosi yang menyebabkan degupan jantungnya tak terkendali, rasa sesak di dadanya, serta rasa mual pada perutnya.

Sekarang yang ia hanya perlu lakukan adalah menunggu jawaban dari sang gadis.

Tak kunjung mendapat respon atau sahutan, Yuto pun perlahan membuka kelopak matanya, hanya untuk mendapati sang gadis yang masih terdiam dengan posisi statis. Menatap Yuto dengan pandangan yang sukar pemuda itu artikan.

Yuto menundukkan kepala seraya menjilat bibir bawah. Hatinya mencelos. Ia sadar bahwa kebisuan sang gadis adalah pertanda bahwa cintanya telah ditolak. Perih, memang. Pilu. Dadanya kembali sesak, dan Yuto merasa ia harus cepat-cepat mengalihkan pandangan dari si dara sebelum likuid beningnya mulai menetes.

Yah, sekali lagi, apa yang dapat diharapkan dari hubungan mereka? Ini adalah bukti nyata bahwa prinsip yang ia anut selama ini adalah benar. Cinta tak mungkin timbul tanpa adanya interaksi. Toh selama ini mereka tak pernah sekali pun bercengkrama, apalagi bertukar pikiran. Mungkin ini hanya cinta satu pihak. Cinta? Memangnya ini adalah cinta? Oh, ralat, mungkin ini hanya perasaan satu pihak. Hanya Yuto yang merindukan gadis itu, hanya Yuto yang menyukai gadis itu – frasa suka lebih tepat untuk digunakan, omong-omong. Gadis itu tentu tak ada rasa apa-apa terhadapnya.

Perih, tetapi harus dihadapi. Setidaknya Yuto telah menyampaikan apa yang ia pendam. Ia tak akan pergi ke London dengan membawa sebuah penyesalan akan sesuatu yang tak tersampaikan.

Yuto berbalik, meninggalkan sang gadis yang masih di tempat duduknya. Langkahnya terasa berat ketika menuju pintu keluar toko tersebut. Yuto mengamati sekelilingnya, berusaha menyimpan potongan gambar dari setiap sudut toko dalam memori, agar menjadi kenangannya sebelum pergi ke London.

Sebelum benar-benar pergi meninggalkan toko, Yuto meletakkan tas tabungnya tepat di pintu keluar. Entahlah apa gadis itu akan menemukannya atau tidak, tetapi setidaknya Yuto ingin memberi kenang-kenangan pada sang gadis. Bagaimanapun, Yuto sangat terkesan dengan pertemuan mereka, dan ia yakin seratus persen ia tak akan pernah melupakan dara surai cokelat tersebut.

.

“I think of you, whom I hide away in my memories.” –Illa Illa (Juniel)

 

-fin-

A/N

Aku datang kembali dengan membawa dua orang ini Hehehehe 😀

Entahlah ini fic apa, panjang bari nggak jelas, niatnya bikin angst tapi ndak ada unsur angstnya sama sekali… Hwhwhwhw…
Maafkan untuk segala bentuk typo atau kesalahan lainnya ya…

(Well, for the rest of the story, I strongly recommend you guys to read the version of Momo. Here is the link.)

Anyway, mind to review? 🙂

Advertisements

Author: Gxchoxpie

Writer | Dreamer | Life-time learner

6 thoughts on “[Vignette] Untoldable Phrase (Yuto’s Side)”

  1. AKU TUH
    AKU TUH GABISA DIGINIIN
    MBAK MOMO BERANINYA MENOLAK CINTA PEMUDA SEPERTI YUTO AKH KOKORO INI DOKI DOKI (?) MENDING AKU MAS YANG KAMU TEMBAK PASTI AKU TERIMA /hah/
    Ce buset dah ini efek sabun harum apa gimana sih kok bagus banget aku terhura :’)
    Apalagi pas Yuto menyemangati dirinya sendiri pas nembak si Mbak yawla cubangets sih kamu mz hm
    Yang paling sakit sih pas cuma ditatap gitu kayak “Oke, lo udah nyatain… terus gue harus apa?” NGA BISA GITU MBAK TENTU SAJA MBAK HARUS MENJAWABNYA HUHU (?)
    Ini keren:’)

    Like

    1. Dyvaaaaaa…. Baca yg versi momonya jugaaaa… Biar kamu tau itu endingnya begimanaaa… Biar tau dari sisi momonya gimana hahahaha

      Keknya awkward ya emg udh nembak terus cuma didiemin aja hahahhaa udh bela2in dateng eh cuma didiemin…

      EFEK SABUN HARUM, AIR MENGALIR SAMA PHOTOCARD OPPA SAYY HAHAHAHAHHAA

      MAKASIH DYVA UDH BERKUNJUNG ❤❤

      Like

      1. HA IYA ADA YANG DARI SISI MBAK MOMO yampun sebentar aku baca dulu
        Ce kayaknya kita emang harus buka tempat praktik yang kemaren kita diskusikan itu deh (?)
        Sama-sama sayy hihi

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s