[Ficlet-Mix] Just One

img_0168

Just One

colab fic by

ANee & ayshry

Ficlet-Mix

Yeo Changgu | Lee Hwitaek | Adachi Yuto | Kang Hyunggu

.

[1]

Satu-satunya hal yang membuat seorang Kayle Chae mensyukuri hidupnya kini adalah kedatangan sosok orang yang mampu merubah segala pandangan hidup dalam dirinya. Dia, Yeo Changgu. Pemuda berambut cokelat yang kini mengenggam tangannya erat-erat.

Kayle tak mampu menyembunyikan senyum bahagia ketika tanpa sengaja tatap mereka bertemu. Ia masih tak percaya jika Changgu adalah orang yang mendampinginya kini, orang yang mampu menyuntikkan semangat padanya, orang yang telah merubah segala keburukan yang dulu mengukung diri.

Jujur saja, sebelum bertemu Changgu, Kayle adalah sosok yang sulit untuk didekati. Ia terlalu sibuk bermain dengan dirinya sendiri, terlalu fokus pada kehidupan tanpa memedulikan sekitar, terlalu menomorsatukan diri dan selalu ingin menjadi yang didengar tanpa hendak mendengarkan pendapat yang lain. Kayle itu gadis keras kepala yang hobi mengumbar kemarahan. Emosi selalu mengendalikan dirinya lebih dari apa pun, bahkan ia sampai menyandang gelar ‘gadis api’ dari setiap orang yang pernah terkena semburan amarahnya. Kayle begitu menyeramkan jika sudah marah, omong-omong. Ia juga tak segan-segan melontarkan kata-kata kasar bahkan umpatan yang tak berdasar. Pokoknya seram sekali.

Pertemuannya dengan Changgu juga diawali dengan kejadian yang membuatnya marah besar. Kala itu musim gugur dan hujan tengah mengguyur kota dengan amat deras. Kayle yang lupa membawa payung terpaksa menembus hujan demi mencapai halte bus terdekat. Namun, baru saja ia berjejak di bawah atap yang meneduhkan, sebuah motor melaju dari arah belakang dan menyipratkan air yang tergenang di jalanan; membuat Kayle geram lantaran dibuat basah kuyup olehnya. Kemudian teriakan lantang menguar, mengabaikan hujan yang masih asyik menyapa Bumi. Dan entah karena keberuntungan atau apa pun itu, si pengemudi lekas berhenti; berbalik dan kini giliran Kayle yang menghampiri. Lupakan soal hujan yang kian deras, toh ia terlanjur basah.

Umpatan yang Kayle hadiahkan pada si pengemudi motor nyatanya tak membuat si pemuda balas marahi. Ia justru membuka helm lantas menatap Kayle dengan raut cemas. Lalu kalimat yang terlontar membuat si gadis bungkam.

“Kau baik-baik saja? Maafkan aku. Aku sedikit terburu-buru dan hujan membuat jalanan jadi basah. Ah, seharusnya aku lebih berhati-hati agar tidak membuatmu basah kuyup seperti itu.”

Tidak seperti biasanya. Kayle menemukan sesuatu yang berbeda dari si pemuda. Ia tersenyum meski Kayle memasang wajah galak. Ia tak sebal meski Kayle tak berhenti mengumpat. Ia bahkan meminta maaf sebelum Kayle menagihnya.

O, katakan saja itu adalah pertemuan pertama mereka yang menyebalkan, tapi Kayle diam-diam selalu menyimpan momen tersebut sebagai sesuatu yang sangat berharga. Jika saja hari itu tidak turun hujan. Jika saja hari itu ia tak lupa membawa payung. Jika saja saat itu ia berhasil menghindari cipratan air. Jika saja saat itu ia tak menghampiri dan menyembur si pemuda dengan berbagai umpatan tak bermoral. Jika saja ia bukan seorang gadis pemarah yang menyebalkan. Ah, terlalu banyak ‘jika’ yang bisa membuatnya melewatkan hidup yang lebih indah, terlalu banyak jika yang bisa membuatnya tetap menjadi Kayle yang pemarah.

“Kau mau yang rasa vanila atau cokelat, Kay?”

“Stoberi saja!”

“Astaga, haha. Baiklah. Tunggu sebentar, akan kubelikan.”

Betapa beruntungnya Kayle mendapatkan sosok penyabar seperti Changgu yang bisa mengubah hidupnya menjadi lebih dan lebih baik lagi. Selamat tinggal Kayle yang pemarah dan selamat datang Kayle yang kini mencoba berubah ramah.

#1 One individual can change your life.

[2]

Tidak biasanya Hui bertandang ke tempat seperti ini, jika bukan lantaran tugas kelompok dan hanya dia yang tampak menganggur, maka terpaksa sepatu ketsnya menyentuh ubin dengan banyak rak menimpa permukaan, serta buku-buku bertengger rapi di tiap celahnya. Terlalu banyak sampai-sampai berdecak menjadi hal paling wajar dilakukan kala tidak menemukan eksistensi buku yang dibutuhkanya—tiap judulnya tertulis rapi pada kertas kecil yang sedari tadi ia genggam—padahal ini sudah rak kesepuluh dan kelopak matanya mengaduh lelah.

Ia menyesal. Perpustakaan pusat terlalu besar untuk jadi opsi pertama pencarian, harusnya ia menjadikan tempat yang lebih kecil dari ini sebagai destinasi. Perpustakaan fakultas, misalnya. Tapi kata rekan satu kelompok—entah, Hui belum hafal namanya—di sana tidak ada.

Wajah Hui sudah bak menahan kentut, nyaris menyerah dan segera menghubungi nomor yang tadi pagi mengiriminya pesan—yang belum ia simpan—secepatnya, mengatakan kalau buku-buku itu tidak ada juga di sini.

Helai jelaganya sedikit tersentak saat menoleh ke sisi kanan dan mendapati seorang laki-laki lebih tinggi kira-kira satu jengkal darinya. Tidak menyangka jika akan bertemu muka, dan mereka kompak mengangkat kedua ujung bibir tinggi-tinggi, bahkan lelaki yang bisa Hui lihat memiliki lesung di dagu sampai menampakkan gigi putihnya nan rapi. Ia jadi segan untuk tidak sekadar memberi sapaan, “Hai.” dan syukurlah dibalas dengan silabel dan nada berbisik yang sama persis.

Secara sepihak lelaki yang lebih pendek melanjutkan aktivitasnya.

“Sedang mencari buku apa?” tanya si lelaki lampai, dan Hui terpaksa menggerakkan leher lagi.

“Banyak,” jawabnya sementara tangan kanan menyodorkan selembar kertas pada lawan bicara. “Tugas kelompok, sih, tapi kini giliranku pamer keaktifan,” lanjutnya tidak peduli jika berakhir diolok-olok.

“Kumpulan buku psikologi ada di rak paling timur, kalau mencari di sini sampai dunia runtuh pun tidak akan ketemu, beda cerita jika petugasnya salah taruh.”

Teman satu kampus yang tidak ia kenal itu menjelaskan dengan bumbu candaan yang bagi Hui tidaklah lucu, sebab urat malunya terlanjur menebal lebih dulu. Jadi begini … getirnya dihina secara halus. Ah, ingin rasanya seketika berubah wujud jadi buku, setidaknya ia punya sampul untuk menutupi rasa malu.

“O … salah posisi ya? Haha. kalau begitu, aku ke sana dulu, terima kasih.” Sebelum level hinanya bertambah, alangkah lebih baik lelaki berjaket merah mengeyahkan diri sendiri dari lelaki yang tampak mulai asyik memilih jejeran lembar berjilid.

“Sama-sama,” jawab lelaki berjas abu tidak lupa menorehkan senyum tanpa siratan mengejek.

Dan betapa gigih semesta mengoloknya, selepas peristiwa penurunan harga diri itu Hui jadi sering berpapasan dengan si penunjuk rak yang sekarang ia tahu bernama Yanan. Hebatnya lagi, mereka satu jurusan dan berada di angkatan yang sama. Ah, takdir memang sesekali membuat geli. Padahal sebelumnya sama sekali tidak ada tanda-tanda keduanya akan bersemuka, dan sekali saling memberi senyum serta tegur, eh, setelahnya wajah Yanan seolah wira-wiri terbidik dwimaniknya.

Lantas bertambahlah intensitas dua mahasiswa beda tinggi badan itu dalam bertukar sapa bahkan sampai pada titik tidak saling malu bertukar aib.

#2 One smile can start a friendship.

[3]

“Aku benci kamu, Yuto! Musnah saja sana!”

Pekikkan tersebut menjadi penutup telepon yang tersambung sejak beberapa menit yang lalu. Yuto terdiam. Memandangi ponselnya dengan raut kebingungan, ia tak pernah mendengar sang adik berkata dengan nada mengerikan seperti tadi. Sejak kapan seorang Adachi Yuko mulai bisa melontarkan kata-kata kebencian seperti itu padanya?

Well, jika ditilik lagi, Yuko memang pantas berkata seperti itu pada kakaknya. Sebab, ini bukan kali pertama si gadis Adachi mengajak sang kakak menghabiskan akhir pekan bersama-sama, tetapi Yuto selalu menolak. Alasannya karena si adik harus belajar lebih giat lagi demi menyambut ujian akhir yang di depan mata, juga perihal jarak yang memisahkan menjadi alasan lainnya. Yuko tinggal di asrama sekolahnya, makanya Yuto selalu malas jika diajak bepergian bersama. Karena Yuto harus menjemput si adik di asrama demi mendapatkan izin lalu pergi ke tempat yang direncanakan dan mengembalikan adiknya ke asrama sesuai dengan jam yang telah disepakati. Terlalu merepotkan.

Tetapi ada yang berbeda dengan hari ini.

Sejatinya, kini Yuto sudah berdiri di pintu gerbang asrama sang adik. Ia sudah merencanakan hal tersebut jauh-jauh hari mengingat bahwa sudah begitu lama mereka tak menghabiskan waktu bersama. Sudah sekitar empat bulan sepertinya.

Yuto tersenyum lalu melanjutkan perjalanannya kecil milik tungkai panjangnya menuju ruang penjaga asrama demi mengurus izin keluar sang adik agar ia bisa menculiknya ke mana pun.

Pemuda Adachi itu kini berjalan dengan santai melewati beberapa bilik kamar dan tiba di kamar paling ujung. Sebelah tangannya sudah memegangi selembar kertas sedang tangan lainnya ia gunakan untuk mengetuk pintu kamar. Terdengar sahutan dari dalam sana, membuat Yuto diam-diam menahan diri agar tak tertawa keras.

“Siapa—astaga! Kak Yuto? Kenapa kau bisa ada di sini?” Pekik kuat menguar bersamaan tubuhnya yang ditubruk tiba-tiba. Pelukan erat ia dapatkan, lantas Yuto tak lagi mampu menahan gelak tawanya.

“Kejutan!” Giliran Yuto yang memekik. Membalas dekapan si adik tak kalah erat, ia lalu melepaskan pelukan ketika dirasa sudah cukup untuk adegan peluk-memeluk pereda rindu yang amat memuncak. “Sekarang ganti bajumu, kita akan pergi kencan!”

“Sungguh?”

“Tentu saja.” Mengacak surai sang adik gemas, Yuto tiba-tiba teringat sesuatu dan kembali membuka suara. “Omong-omong, kau benar-benar mau pergi kencan denganku? Bukannya tadi kau bilang membenciku, huh? Kau juga menyuruhku untuk—”

“Aku hanya bercanda! Sungguh!”

Lagi-lagi Yuto terpingkal.

“Tunggu sebentar, aku hanya akan mengambil mantel dan kita harus segera kabur dari tempat ini!”

Haha, baiklah, Tuan Putri.”

Yuko melesat cepat memasuki kamarnya lalu kembali beberapa saat kemudian dengan mengenakan mantel berwarna marun. Mengenakan sepatunya terburu-buru, Yuko seperti tengah dikejar-kejar sesuatu yang membuatnya harus bergerak dengan sangat cepat.

“Aku tidak akan meninggalkanmu. Tenang saja.”

“Aku hanya ingin segera enyah dari sini.” Yuko menyahut cepat. “Aku sudah siap. Ayo pergi!” Menggandeng tangan sang kakak, ia kini tersenyum manis. Lupakan soal kekesalan yang sempat membuatnya menaruh benci tadi, toh pada kenyataan satu-satunya lelaki yang tengah ia rindukan telah berada di hadapannya kini.

“Ada sebuah tempat yang ingin kau tuju, Tuan Putri?”

“Taman bermain!”

“Ck, dasar bocah.”

“Jadi … bisa kita pergi sekarang, Pangeran? Aku sungguh sudah sangat muak berlama-lama di sini!”

“Sabar, kau hanya butuh beberapa bulan lagi bertahan di pengasingan ini. Setelah itu kau akan bebas dan—”

“Dan aku bisa merusuhimu setiap hari.”

“Nah, sepertinya aku harus benar-benar menikmati hari-hari tanpa dirimu, Adachi Yuko.”

Lantas tawa keduanya menguar. Memenuhi lorong yang tadinya hening, menemani derap langkah yang mulai meninggalkan jejak. Meski keduanya kerap beradu argumen tak penting setiap saat, tetap tak ada yang lebih indah daripada hubungan persaudaraan yang begitu erat. Yuko menyayangi Yuto, begitu pula sebaliknya. Dan takkan ada kekuatan lain yang bisa mengalahkan hangatnya hubungan mereka, apa pun itu.

#3 One look can save your relationship.

[4]

Pertengkaran di bawah satu atap jarang sekali bisa terelakkan, mulai dari masalah sepele sampai yang serius. Kino sebagai seorang adik merasa terusik dan Jino sebagai seorang kakak sudah sering mengalah dapat omelan sang ibu. Keduanya sama-sama kekanakan tapi tidak pernah mau mengaku, selalu merasa dirinya benar dan orang lain salah. Paradigma hidup yang sulit sekali diajak berdamai memang.

Kakak beradik yang punya selisih usia tiga tahun itu hampir tidak pernah akur, selalu saja ada persoalan yang dijadikan bahan pertengkaran. Kino tipikal adik resek yang tidak tanggung-tanggung dalam memancing amarah sang kakak, dan Jino pun sedemikian pemarah hingga mudah saja dijadikan umpan.

Rumah mereka tidak pernah sepi teriakan sekaligus umpatan sampai-sampai wanita paruh baya yang merawat keduanya sejak bayi harus bolak-balik menenggak pil pereda sakit kepala. Hanya masalah si sulung masuk kamar si bungsu tanpa izin dan memainkan komputernya, sudah membuat ia meledak bukan main. Kino ikut mencak-mencak juga, tidak rela dikata-katai.

Sampai akhirnya silabel kurang pantas terdengar oleh telinganya dan seluruh penghuni rumah. Sang ibu bahkan membentaknya dan berimbas ia sadar atas perkataannya. Kino menyesal, sepuluh tahun tinggal bersama Jino belum pernah membuat mereka benar-benar akur, tapi tidak sekalipun ia mengungkit-ungkit masalah mereka saudara sedarah atau bukan. Ini pertama kali dan ia mengumpat pada dirinya sendiri.

Dasar pelit, tidak tahu diri. Kau itu bukan anak kandung ibuku!

Kalimat itu terus terngiang dalam serebrum lantas tidurnya jadi tidak pulas.

Dan pagi ini Jino sudah berada di meja makan bersama Ibu, keduanya tampak tidak sedang berada dalam masalah—biasa saja. Tapi, saat Kino menggeser tempat duduk hendak ikut bergabung, anak lelaki yang lebih tua justru mengangkat bokong dan bergegas pergi.

“Ibu, sarapanku nanti saja. Tidak apa-apa, ‘kan?” ujar lelaki itu halus pada wanita satu-satunya di ruangan tersebut, dan dibalas anggukan serta senyum hangat.

Kino terus diam sepanjang acara makan pagi, pun tidak ada tanda-tanda Ibu akan mengajaknya mengobrol. Rasa bersalah dan terpojokkan bergumul jadi satu di benaknya sekarang, bagaimana ia harus mengakhir semua ini? Kata-katanya kemarin kepalang serius dan sulit ditoleransi memang, ia tahu.

“Ibu … boleh aku mengantarkan makanan ke kamar Kak Jino?”

“Tentu. Kau tahu, ikan asap adalah kesukaannya. Ia pasti menyesal jika melewatkan makan pagi ini,” tutur Ibu sembari tangannya sibuk mengambilkan seporsi makan untuk anak sulungnya. Kino diam-diam mengamini ucapan Ibu soal lauk favorit Jino, ia tahu—tahu saja—dan terkadang ia juga menyisakannya jika sang kakak yang lebih pendek darinya itu melewatkan sarapan lantaran jadwal kuliah pagi.

Lelaki dalam balutan jaket jeans itu mengetuk pintu bercat putih takut-takut, bibirnya menelurkan nama si empunya kamar dengan sabar. Beruntung di ketukan ketiga seseorang menyembul dari baliknya, ia spontan tersenyum canggung tanpa reaksi.

“Makanlah,” pinta si bungsu tidak berhenti menyunggingkan kurva. Nampan yang disodorkannya berpindah tangan tidak dengan balasan kata, tapi ia senang setidaknya Jino tidak membantingnya ke lantai seperti di drama-drama.

“Masuklah,” ajak Jino membuat lelaki dengan noda hitam kontras di bawah matanya tersebut terperangah sejemang, namun segera mengekorinya.

Alih-alih langsung menyantap makanan yang diberikan Kino, Jino justru menaruhnya di atas nakas sebagai ganti ia menyambar sebuah komik, lantas duduk nyaman di kasurnya. Sang adik yang memosisikan diri di dekat komputer sempat dibuat heran, tapi menunda untuk bertanya lebih lanjut.

“Aku mengizinkanmu masuk bukan untuk memandangiku, Kino, jadi katakan saja apa yang sudah membuatmu sulit tidur.”

Si empunya nama malah menunduk, memilin buku-buku jarinya gelisah. Selama ini gengsi yang menjadikan mereka memiliki jarak, tidak ada serah terima maaf setiap kali habis adu mulut sebab yang demikian sudah terlanjur jadi kebiasaan. Maka, untuk mengawali prosesi langka itu ia sedikit kesulitan. Butuh mental baja dan urat malunya terpaksa diputus sementara waktu.

“Maafkan aku, Kak. Kemarin kata-kataku kasar sekali. Aku tidak bermaksud apa-apa, sungguh,” ujar Kino apa adanya. Sementara yang dipanggilnya kakak barusan diam-diam menorehkan senyum menang.

“Aku juga salah. Kita impas dan mulai sekarang kau boleh bermain komputer itu asal tahu waktu.”

“Benarkah?”

“Aku tidak sedang mengigau, omong-omong.”

Yang namanya saudara, yang namanya tinggal dalam satu rumah, tetap akan ada pertengkaran, permusuhan, sampai perkelahian. Tapi tidak bisa dipungkiri juga jika ada percikan sayang yang penghuninya beri maupun terima. Sejatinya mereka saling peduli, tapi hanya belum tahu bagaimana menyajikannya sesuai porsi.

#4 One word can end a fight.

—END—

Note:

  • Hii … pentagon here! Hahaha anw, sebenarnya selisih umur Kino – Jino itu enam tahun, hanya saja demi kepentingan cerita, Jino dimudakan wkwkwk tapi asli wajah dia ngga sesuasi umur juga sih, terlalu imut.
  • Hayo ditebak, mana bagian ANee dan mana bagian ayshry! Yang benar … dikasih selamat.😀
  • Review, kritik, dan saran, ditunggu lhooo!
Advertisements

Author: megaton-bomb

Call Me Ay | A-Blood Type | Forever Maknae | Purple Addict.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s