[Ficlet-Mix] Cote Obscur

Processed with VSCO with 4 preset

Cote Obscur

birthday fic by

Ariesha97, ayshry, baenilla, ChoHana, Gxchoxpie jihyeonjee98

Pentagon Adachi Yuto

Creepy || Ficlet – Mix || Rated: G

***

Kembali, Yuto menorehkan besi tajam ke atas jangat yang langsung disambut dengan cairan merah berbau anyir disertai pula dengan jeritan-jeritan kesakitan yang terdengar bak alunan simponi mozzart di telinga Yuto. Tanpa ampun pun henti, Yuto tidak pernah ingin berhenti melakukan pekerjaan ini. Bukan haus darah pun bagaimana, mendengar jeritan seorang gadis polos tanpa dosa memanglah hal yang paling menyenangkan bagi Yuto—Oh ya, dan juga bau khas darah yang anyir adalah bau yang paling Yuto sukai.

“Cukup! Tidak bisakah kau berhenti melakukan itu? Apa yang akan kau dapatkan setelah membunuhku perlahan seperti itu?!” Pekik Lisa. Wajahnya kacau, surainya kusut berantakan, belum lagi darah kering yang seakan menjadi kerak di ujung bibir Lisa. Gadis itu kacau. Penuh luka, penuh lebam, penuh dengan benci pun rasa amarah.

“Aku mendapatkan kesenangan dengan semua ini dan selagi aku masih merasa senang dengan semua ini, aku tidak akan pernah berhenti melakukan hal ini padamu, sayang.” Yuto meraih pelan lesung Lisa yang menimbulkan sekelebat perih pun pilu. Lisa menolak, mengalihkan wajahnya dan tidak mempersilahkan Yuto menyentuh lesungnya.

Yuto geram, lantas satu tamparan sekeras baja menghantam lesung Lisa, membuat gadis itu terjatuh, tersungkur dengan tangis juga perih yang menyelimuti ketakutannya. Gadis itu gemetar, nafasnya mulai terengah dan keringat dingin perlahan mulai bercucuran. Tungkainya tak bisa lagi bergerak, seakan lupa akan fungsinya. Lisa hanya bisa tersungkur lemas.

“Memang, ya, wanita itu mahluk lemah. Mengapa dia menciptakan manusia yang lemah sepertimu?”

“Enyah kau, Yuto!” Berontak Lisa. Gadis itu masih berusaha mengeluarkan kata-kata dalam ketidakberdayaannya.

Sepatah kata dari Lisa kerap membuat Yuto geram, tanpa ampun, Yuto memberikan pukulan bertubi-tubi pada Lisa, membuat gadis itu terus menjerit dan menangis menahan segala hantaman pun rasa sakit yang tiada henti diterimanya. Lisa merasa hari ini adalah hari terakhir dalam hidupnya, gadis itu yakin, sebentar lagi dirinya akan melihat sosok malaikat dengan cahaya terangnya yang siap membawanya pergi dari dunia pun menyelamatkannya dari lelaki kejam yang menyebut dirinya sebagai seorang kekasih.

Meski nyatanya tidak, Lisa masih bisa menghidup oksigen yang sudah bercampur dengan bau anyir tubuhnya sendiri. Meski pukulan itu kini telah berhenti berkat bunyi telepon yang menginterupsi. Lisa melihat dengan samar senyuman sedikit merekah di wajah Yuto. Entah apa yang dilihat lelaki itu pada layar ponselnya.

Tanpa alasan yang jelas, Yuto membantu Lisa bangkit lantas meletakkan gadis itu di atas tempat tidur, menarik selimut lantas membersihkan darah yang kering di sudut bibir Lisa. Tak lupa juga, Yuto membenarkan tatanan surai Lisa yang sedari beberapa hari yang lalu kusut pun kacau. Iya, Yuto 180o berubah. Sekiranya, baru lima menit yang lalu lelaki itu menampar Lisa tiada henti.

“Kau tahu?” Yuto mengelus pelan surai Lisa lantas perlahan mendekatkan wajahnya pada telinga Lisa, “Aku memberimu kesempatan hidup sebagai hadiah.” Manik Lisa membuat, hatinya tertohok. Gadis itu hanya bisa terdiam, membisu dengan segala jenis pertanyaan pun umpatan.

.

.

.

Aku pasti membunuhmu, sayang. Selamat ulang tahun.”

[2]

Yuto mendengarnya lagi. Suara lonceng yang berdenting juga sebuah ketukan di jendelanya. Bukan apa-apa, Yuto akan bersikap abai dan menganggap itu hanya perbuatan angin semata. Menyelesaikan tugas sekolahnya jauh lebih penting ketimbang menimbun rasa ingin tahu pada hal yang mungkin saja lazim.

Namun, dirinya tidak lagi bisa menaruh fokus penuh. Dentingan lonceng dan ketukan itu sungguh merampas seluruh perhatiannya. Ia harus menyelesaikan tugasnya sementara yang ada di kepala hanyalah beragam asumsi logis mengenai denting lonceng dan ketukan. Yuto penasaran tapi tak juga ingin tahu.

Ting … Ting … Tok … Tok …

Mungkin itu hanya lonceng tetangga yang tertiup angin. Benar, itu bisa saja lonceng milik Pak Kim si tetangga pengrajin besi. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, toh bunyinya juga sudah tidak lagi terdengar. Tapi, bagaimana dengan ketukan itu?

Tok … Tok …

Terdengar lagi. Mungkin hanya suara ranting yang beradu dengan jendelanya karena angin? Tapi, di rumahnya tidak ada pohon. Pasti juga bukan ulah iseng adiknya, sudah pukul sebelas dan si adik juga sudah terlelap. Pencuri? Tidak masuk akal, mana ada pencuri yang meminta izin dulu sebelum masuk terlebih di malam hari. Kalau begitu … suara alien? Yang benar saja!

Tok … Tok …

Yuto menggerang frustasi. Tugasnya belum selesai tapi jantung dan tubuhnya sudah tidak dalam keadaan normal. Ketukan di jendelanya itu benar-benar membuatnya memikirkan hal-hal yang tidak logis. Inginnya menoleh ke belakang, mencari tahu apa yang ada di balik tirai jendelanya. Tapi, Yuto lebih memilih untuk tetap duduk di depan komputernya, masih mencoba mengembalikan fokusnya pada tugas sekolah. Yuto menghela napas berat, tugasnya harus dis–

Apa kau suka

Hampir saja Yuto berteriak sebab terkejut. Nafasnya memburu begitu komputernya memunculkan popup aneh secara tiba-tiba. Ketukan di jendelanya tak kunjung menghilang dan popup yang sama kembali muncul selagi ia bergeming untuk kembali menerka.

Apa kau suka

Dengan tergesa, Yuto mengarahkan tetikusnya untuk menghilangkan popup itu. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, usahanya sia-sia. Bagai sebuah virus yang menginvasi, popup itu terus muncul memenuhi layarnya disertai jeritan mengerikan yang kian lama kian keras.

Ini gila. Yuto tidak lagi sanggup dan memanjatkan doa banyak-banyak kalau semua ini hanyalah mimpinya yang buruk. Namun, saat ia beranjak; saat ia tanpa sengaja menatap cermin, ketika ketukan di jendelanya masih terdengar; ketika layarnya masih berpendar dengan popup, Yuto tak lagi bisa menemukan dirinya berdiri tegap dalam cermin.

Melainkan, sebuah tubuh tanpa mata yang tergantung dengan darah yang mengucur deras.

[3]

Pada awalnya, hal ini merupakan hal yang kecil untuk Seol.

Sebuah sticky notes kecil anonim berisi kalimat-kalimat penyemangat untuknya tertempel di depan lokernya setiap hari.

‘Aku dengar hari ini kelasmu ulangan harian matematika minat, yang semangat mengerjakannya :)’

‘Jangan berkecil hati karena nilai ulangan itu. Practice makes perfect, iya kan? :)’

‘Kemarin, ku dengar kau tidak masuk karena sakit. Jagalah kesehatanmu sekarang.’

Seol mengira bahwa itu hanyalah hal manis yang dilakukan oleh seorang secret admirer, tetapi sesuatu terjadi yang membuatnya mulai merasa takut.

‘Aku mengira kau akan menungguku, tapi kau malah menerima si berengsek Hyunggu itu untuk menjadi kekasihmu.’

‘Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada orang lain pun yang akan bisa juga.’

Tepat esok hari setelah ia menerima pesan itu, Hyunggu dikabarkan masuk ke rumah sakit. Seol dengar bahwa Hyunggu terluka akibat tikaman dari benda tajam.

Di saat yang sama, sebuah sticky notes tertuju untuknya. Sticky notes tersebut tidak tertempel di loker sekolah seperti biasa, tetapi di lemari pakaiannya.

‘Karenamu, aku harus melakukan hal tersebut.’

‘Semua kulakukan untuk melindungimu dari dunia yang kejam ini, Sayang.’

Seol mengira bahwa itu hanyalah gertakan saja dan dia tidak menganggap hal ini dengan terlalu serius, tapi tidak setelah ini.

[ BREAKING NEWS ]

Seorang siswa SMA berinisial KHG ditemukan tewas secara mengenaskan.

‘Ini semua karena ulahmu. Aku hanya ingin melindungi saja.’

Sekarang, Seol merasa takut setengah mati setelah melihat Hyunggu yang mati secara mengenaskan.

Ditambah lagi, orang itu mulai menggila dalam meneror Seol. Setiap hari, setiap jam, setiap detik, orang itu mengawasi setiap gerak-gerik Seol.

Bahkan sticky notes sudah tidak cukup baginya untuk menakuti Seol sekarang, dia mulai menyerangnya melalui LINE. Kata-kata manis yang biasa orang berpacaran lontarkan kepada satu sama lain menjadi hal yang membuat Seol merinding.

Tidak hanya itu, Seol juga merasakan bahwa orang itu selalu memantaunya kapan pun dan dimana pun. Orang itu bahkan mengawasinya saat Seol sudah di rumah. Seol sempat melihatnya walau hanya sekilas. Orang itu berdiri di depan rumahnya dan menatap ke arah rumahnya.

Polisi pun tidak dapat diandalkan. Apa pun yang mereka lakukan dan sekeras apa pun mereka mencari pelakunya, hasilnya akan selalu nihil. Naasnya, orang itu juga tahu bahwa Seol sudah beberapa kali melaporkan tentang dia kepada polisi.

Hongseok : Tenangkan dirimu, Seol-ah.

Hongseok : Aku akan segera pergi ke sana.

Hongseok : Kuncilah semua pintu rumahmu supaya aman terlebih dahulu.

Seol menghela napas lega membaca pesan dari kakak kelas tersebut. Teman-teman dekatnya sedang sibuk semua untuk menemani Seol saat ia sedang sendiri di rumah. Seol melakukan apa yang Hongseok pinta dan menunggu kedatangannya.

TING TONG!

Suara bel rumah yang nyaring terdengar tidak lama kemudian. Saat Seol membuka pintu rumahnya, yang dia dapati bukanlah sosok Hongseok yang dia tunggu-tunggu, tetapi seorang laki-laki seumurannya dengan lumuran darah di bajunya dan Hongseok yang sudah terlungkai di bawah tak bernyawa.

“Ck ck … aku sudah memperingatkanmu tapi kamu masih saja membangkang,” ucap laki-laki itu. “Hei, apa kau ingat apa yang pernah ku katakan padamu?”

Sebelum Seol dapat menjerit ketakutan, laki-laki itu sudah membungkamnya terlebih dahulu dan menyayat leher Seol dengan mudah. Darah segar keluar dengan jumlah yang banyak dari luka tersebut. Seol terkapar di lantai dengan lemas.

“Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada orang lain yang akan memilikimu. Tidak. Ada.”

[4]

Malam itu cuaca sama sekali tak bersahabat. Hujan deras mengguyur Seoul sejak sore tiada henti, membuat aktivitas ibu kota Korea Selatan tersebut melambat untuk sesaat. Tak cukup hanya guyuran hujan, kilat pun menyambar di mana-mana, diiringi dengan gemuruh yang memekakkan telinga. Pun hawa dingin ikut melengkapi buruknya cuaca saat itu.

Hari itu adalah hari raya Chuseok, di mana kedelapan anggota Pentagon pulang ke rumah masing-masing untuk merayakan hari besar tersebut bersama keluarganya. Tinggallah Yuto dan Yan An sendirian di dorm tempat tinggal mereka. Perjalanan lintas negara akan dirasa membuang waktu karena mereka memang hanya diberi jatah libur satu hari, jadi keduanya memutuskan untuk tinggal, menanti sampai esok semua member akan berkumpul bersama kembali.

Sebenarnya sejak tadi Yuto tak bisa tidur dengan nyenyak. Ada saja yang dirasa mengganggunya menuju alam mimpi. Udara yang terlalu dingin, bunyi guruh yang bersahut-sahutan, ratusan tetes hujan yang mengguyur atap dorm mereka, hingga suara derak tempat tidur tingkatnya pun dapat membangunkan pemuda Jepang tersebut. Frustrasi, Yuto pun memutuskan untuk duduk di tempat tidur, menyerah untuk terlelap. Ia duduk dengan selimut membungkus kepala hingga punggungnya.

“Yuto-ya!”

Seruan Yan An menggelegar di dorm nyaris kosong itu hingga menelusup pendengaran Yuto. Dengan malas Yuto bangkit berdiri, masih dengan selimut yang membungkus tubuh.

“Ya, Hyung?” balas pemuda Adachi tersebut. “Hyung di mana?”

“Dapur. Cepat kemari!”

Yuto tidak mau menerka mengapa di tengah larut malam seperti ini Yan An malah berkutat di dapur. Kepalanya terlalu sakit untuk diajak berpikir. Jadi lebih baik Yuto segera menyusul ke dapur untuk menemukan jawabannya.

Dari ruangannya menuju dapur Yuto harus melewati sebuah lorong pendek. Sialnya, dua lampu di lorong tersebut tak berfungsi dengan baik. Satu lampu menyala dengan berkedip-kedip, satu lagi mati total. Tanpa bisa dicegah bulu kuduk Yuto berdiri begitu melewati lorong tersebut.

Di dapur, Yuto menemukan Yan An yang sedang sibuk memotong daging.

“Aku lapar,” ujar Yan An bahkan sebelum Yuto bertanya. “Aku menemukan daging ini di kulkas, jadi tak ada salahnya, kan, sedikit samgyeopsal di tengah malam? Toh member yang lain juga sedang pergi.”

Yuto tak sepenuhnya fokus terhadap perkataan Yan An. Atensi pemuda Adachi tersebut lebih banyak dicurahkan pada pisau daging yang sejak tadi diacungkan Yan An. Yuto bahkan tak ingat sejak kapan dorm mereka punya pisau daging. Tetapi, lagi-lagi Yuto tak mau memaksa berpikir.

“Ayo, Yuto-ya. Temani aku memotong daging-daging ini,” ajak Yan An.

Ragu-ragu Yuto mendekati member asal Cina tersebut.

“Lihatlah, pisau ini tajam sekali, ya?” Yan An kembali berceloteh. “Aku menemukannya di laci peralatan dapur tadi. Hebat bukan?”

“Ah, ya … ” jawab Yuto seadanya.

Yan An menghentikan kegiatannya memotong daging. Lantas menatap manik Yuto lurus-lurus. Pandangan yang tersirat dari iris gelap tersebut tak dapat Yuto artikan.

“Aku penasaran apa yang akan terjadi bila aku menggunakan pisau ini untuk memotong daging manusia,” celetuk Yan An.

Spontan mata Yuto membulat. Berarti firasatnya akan hawa-hawa yang tidak baik sejak tadi itu benar. Sesuatu terjadi pada Yan An!

Hyung, wae geuraeyo ….” Yuto mencoba tersenyum meski ketakutan telah menguasainya. Bulu kuduknya telah merinding dan degupan jantungnya sudah tak keruan.

Seulas senyum miring tersungging pada bibir Yan An. “Haruskah kita mulai dari dirimu, Yuto-kun?”

Yuto menelan ludah untuk sepersekian sekon saking takutnya, lantas berlari sekencang mungkin menuju kamarnya. Ia harus melarikan diri dari dapur dan Yan An yang entah mengapa tiba-tiba bersikap layaknya psikopat tersebut. Bahkan ketakutannya akan lampu di lorong terkalahkan oleh kengerian terhadap tingkah aneh Yan An.

Ditutupnya pintu kamar rapat, bahkan Yuto sampai menguncinya. Pemuda itu pun menggulung diri di balik selimut di atas tempat tidur, mencoba mengusir kengerian yang masih bersemayam di hatinya.

Oh, hujan deras dan petir, bisakah kalian berhenti agar tak menambah buruk keadaan saat ini?

Ketika ponselnya berdering, Yuto hampir saja terlonjak dan berteriak karena kaget. Pelan-pelan digapainya ponsel hitam di atas nakas. Keningnya mengernyit begitu melihat identitas yang tertera di layar: Yenani Hyung. Yuto pun menekan tombol angkat dengan ragu.

“Ha-lo?”

Bahkan suaranya pun bergetar.

“Oh, Yuto-ya! Aku mengganggu tidurmu, kah? Maaf sebelumnya aku pergi tak bilang-bilang, tapi aku pikir kau sudah terlelap dan aku tak tega membangunkanmu. Karena aku lapar, jadi aku pergi sendiri ke minimarket untuk membeli mie instan, tetapi sepertinya aku meninggalkan dompetku di dorm. Jadi, Yuto-kun, maukah kau – “

Dwimanik Yuto membulat mendengar penjelasan Yan An barusan. Suara Yan An sekarang terdengar riang, tak seperti di dapur tadi. Lalu, minimarket? Lantas, orang yang sedang memotong daging tadi itu …

“Sebentar!” sanggah Yuto. “Hyung sekarang berada di minimarket? Bukankah Hyung tadi sedang di dapur bersiap memasak samgyeopsal?”

“Bicara apa kau ini … ” balas Yan An diiringi dengan tawa singkat. “Apakah kau lupa Shinwon Hyung dan Hui Hyung menghabiskan persediaan daging kita dua hari yang lalu? Aish, dua orang itu …. Anyway, bisa kau kemari sambil membawa dompetku? Kau tahu, kan, minimarket dekat dorm yang biasa kita kunjungi? Jangan lupa pakai jaket tebal dan payung, atau kau akan sakit besok! Cepat, ya! Aku menunggumu!”

Yuto belum sempat menjawab apapun tapi Yan An sudah terlebih dahulu memutuskan sambungan. Kembali tinggallah Yuto sendirian beserta kesendirian menyelimuti. Pemuda itu masih berusaha menganalisa apa yang sebenarnya terjadi.

Kalau Yan An sedang berada di minimarket, lantas yang ia temui di dapur tadi siapa?

[5]

Sebagai mahasiswa blasteran, Yuto punya banyak kenalan yang memiliki darah campuran sepertinya. Salah satunya adalah Vernon Chwe. Ia keturunan Jepang-Korea. Ayahnya berdarah Amerika, Ibunya orang asli Busan.

Vernon baru pindah beberapa hari ini. Ia cukup punya banyak teman mengingat dirinya mudah beradaptasi dengan cepat dan juga supel. Ia berkenalan dengan Yuto saat sedang nongkrong di kantin. Wajahnya yang kebule-bulean membuat Yuto tertarik untuk berteman dengannya.

“Kau tahu, aku baru pindah ke sini beberapa hari, tapi sudah ada seseorang yang menarik perhatianku,” Vernon berucap sambil menyesap jus jeruknya.

“Siapa? Perempuan?” Yuto menatapnya penasaran.

“Tentu saja perempuan. Aku ‘kan normal.”

Yuto terkekeh lalu ikut menyambar jus alpukadnya yang baru saja datang, “Ngomong-ngomong, siapa gadis itu?”

“Ummm namanya Son Wendy. Mahasiswa jurusan Desain Grafis. Dia kakak tingkat kita.”

“Oh, aku kenal dengannya,” Yuto manggut-manggut. “Dan jujur aku juga tertarik dengannnya.”

“Apa? Maksudmu kau juga menyukainya?” Vernon menatap Yuto dengan mata bulatnya.

“Ya bisa dibilang begitu. Dia tampak—umm menggiurkan.”

“Ah, yang benar saja,” Vernon menggebrak pelan meja kayu yang ada di tengah mereka. “Masa aku harus bersaing dengan temanku sendiri.”

“Untuk apa bersaing?” Yuto menepuk pelan pundak Vernon. “Kita berbagi saja. 50:50. Bagaimana?”

Detik berikutnya seulas senyum tercipta di wajah Vernon. Bayangan wajah cantik Wendy di bawah cahaya temaram lampu kamarnya nanti malam terlintas dalam benaknya. Malam harinya, Vernon telah siap. Dengan pakaian rapi dan setelan rambut yang keren, ia menunggu di ruang tamu. Yuto bilang ia akan mengurus semuanya. Vernon tinggal terima beres saja. Lama Vernon menunggu. Sesekali ia melirik arlojinya. Sudah hampir jam 10 lewat. Apa jangan-jangan Yuto mengerjainya? Jangan-jangan Yuto bersenang-senang dengan Wendy sendirian?

“Sial! Lihat saja, kalau sampai dia menipuku, akan kuhajar dia besok,” Vernon berdecak kesal.

Namun, kekesalannya segera luntur saat suara bel apartemennya menggema. Dengan semangat Vernon segera membuka pintu. Ia yakin yang datang pasti adalah Wendy. Vernon mengerutkan keningnya. Alih-alih mendapati sosok sang pujaan, ia justru mendapati sebuah kotak berukuran sedang di depan pintu apartemennya. Bersamaan dengan kebingungannya, ponsel Vernon berdering. Nama Yuto tertera di layar dan ia langsung mengangkatnya.

“Halo, Yuto?”

“Halo, Vernon. Paketnya sudah sampai?” Suara Yuto terdengar di ujung sana.

“Paket? Maksudmu kotak kardus ini?”

“Ya benar. Paketnya pasti sudah sampai ‘kan? Buka saja sekarang.”

“Hah? Apa? Buka paketnya? Maksudmu apa sih?” Vernon sama sekali tak mengerti maksud Yuto.

“Aish, begitu saja tidak paham. Aku bilang buka paketnya. Itu adalah bagianmu.”

“Bagianku?”

Dengan agak ragu, Vernon membuka kotak itu. Vernon hampir saja memekik saat melihat isi kotak itu. Bahkan ponsel yang ia pegang langsung terjatuh ke lantai.

“Halo, Vernon, kau masih mendengarku? Itu adalah bagianmu. Sesuai kesepakatan, 50:50. Setengah tubuhnya untukku, setengahnya lagi untukmu. Oh iya, aku juga kasih bonus loh untukmu. Usus dan jantungnya ambil saja. Bagaimana? Aku baik ‘kan padamu?”

[6]

Akhir-akhir ini, Yuto merasakan sesuatu yang berbeda tengah mengukung dirinya. Entahlah, ia pun tak begitu mengerti bagian mana yang berbeda. Hanya saja, semuanya terasa bukan seperti kehidupannya. Ia merasakan sensasi aneh ketika pertama kali membuka mata usai tertidur semalaman. Tubuhnya terkadang terasa kaku, terkadang terasa rileks dan menyegarkan. Namun, sepertinya bukan hal itu yang terlalu menganggunya.

Malam semakin kelam, namun matanya tetap enggan terpejam. Beberapa obrolan bersama adiknya masih terekam jelas dan terputar berulang-ulang tanpa ia perintahkan. Obrolan tentang hilangnya anjing peliharaan mereka secara misterius lalu beberapa hari kemudian mereka menemukan mayatnya di gudang belakang dengan keadaan mengenaskan. Penuh luka tusukan, bahkan kulitnya telah terpisah dengan tubuh malangnya. Siapakah gerangan yang tega melakukan hal sekeji itu? Entahlah, baik dia maupun Yuko, tak ada satu nama yang terlintas di pikiran.

Ketika Yuto masih sibuk bergerumul dengan pikirannya, ketukan di pintu membuat pemuda itu lekas bangun. Menatap daun pintu mahoni bercat hijau itu dengan ragu, lalu suara familier mengalun dari luar sana.

“O, Yuko-ya, masuklah.”

Suara derit pintu menguar, lantas seorang gadis bersurai berantakan dengan membawa serta boneka beruang cokelat besarnya yang terseret di lantai mulai memaksa kakinya memasuki ruangan milik Yuto.

“Mimpi buruk lagi?”

Memberi anggukan sebagai jawaban, Yuko lekas menghempaskan tubuhnya tepat di sisi kasur yang kosong. Gadis itu kemudian memeluk boneka beruangnya erat-erat dan mulai memejamkan mata. “Aku akan tidur di sini malam ini,” ujarnya tak jelas, lebih seperti racauan gadis kecil yang belum pandai berkata-kata.

Yuto tersenyum lantas mulai menarik sang adik agar lebih dekat dengannya. “Tak bisakah kau memelukku saja dan melupakan Bebe—nama si boneka—untuk malam ini saja?”

Racauan kembali terdengar, kali ini lebih tak jelas dari sebelumnya. Sekon berikutnya, Yuto menarik paksa boneka di pelukan sang adik lalu mendekap tubuh kecil itu erat-erat. Sembari membisikkan kata-kata pengantar tidur, Yuto mulai memejamkan mata dan berdoa dalam hati. Berharap hari esok akan lebih baik dari hari ini dan segala kekhawatirannya lenyap bersama udara malam yang terasa semakin menusuk tulang-belulangnya.

***

Rasanya, belum ada dua jam Yuto memejamkan mata dan menjelajahi ruang mimpi, namun sesuatu yang terasa hangat memaksanya membuka mata.

Yuto membeku. Kantuknya hilang seketika. Ia beringsut menjauh dari kasur tepat ketika indera penglihatannya menangkap pemandangan yang berhasil membuatnya bergidik ketakutan. Di tengah-tengah rasa takut pun bingung yang mendera, sayup-sayup Yuto mendengar rintihan yang menyesakkan.

“Kak … Yuto ….”

Yuto mengenali suara itu. Lekas, pemuda itu melompat dari kasur dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati sang adik terjerembab di atas lantai dengan noda merah yang berceceran di mana-mana. Akal sehat Yuto telah kembali. Noda merah itu bukan suatu hal yang biasa. Bau anyir yang tadinya tak terasa kini membuat Yuto enggan untuk sekadar menghirup udara.

“Kak ….”

“Apa yang terjadi, Yuko-ya?” Diserang kepanikan yang luar biasa, pada akhirnya Yuto berhasil menguarkan kata-kata yang sedari tadi tercekat di tenggorokan.

Yuto was-was. Mengedarkan pandangan ke sekitar kamarnya yang berantakan, pemuda itu diam-diam berharap bahwa si pelaku telah menghilang dari kediamannya.

“Aku … aku t-tidak tahu.” Terbata-bata, Yuko mencoba merangkai kata. Noda merah itu masih merembes dari bagian kanan perutnya. “Semuanya t-terjadi begitu saja dan … dan aku melihat … kau, kau yang melakukannya.”

“Kau bilang apa?”

“Tidak apa-apa …a-aku baik-baik saja, Kak …. Kau hanya, k-kau … memiliki sindrom sleep-walking d-dan … kau melakukannya. Menikamku ….”

Kalimat sang adik membuat Yuto memaksa otaknya untuk mencerna keadaan dengan susah-payah. Tidak mungkin. Ia tak mungkin melakukan hal sekejam itu, terlebih pada adiknya sendiri. Lagi pula ….

“Kau bahkan … m-masih memegang pisaunya, Kak.”

Yuto yang panik mulai mengarahkan padangan pada dirinya sendiri, lalu tersentak ketika mendapati tangan kanannya masih menggenggam sebilah belati yang berlumuran darah. Darah segar yang juga mengotori lengan bajunya.

Melempar benda tersebut jauh-jauh, kini Yuto diserang kepanikan yang luar biasa. Ia bahkan tak bisa mengontrol dirinya dengan baik. Pekikan lantang menguar membelah keheningan malam. Yuto menangis. Kuat sekali. Entah menangis untuk meratapi adiknya, atau menangis untuk menyesali kebodohannya. Entahlah. Takkan ada yang tahu kecuali dirinya sendiri. Namun satu fakta telah terungkap kini, bahwa Yuto adalah seseorang yang bisa berubah menyeramkan dan menjadi pembunuh dalam satu malam saja, bahwa Yuto adalah penyebab segala kekacauan yang  selalu menghantuinya, bahwa Yuto memiliki sisi lain dalam dirinya yang bisa membuat pemuda itu berubah menjadi psikopat kejam tak berperikemanusiaan. Yuto adalah monster. Monster untuk dirinya, pun untuk orang-orang yang berada di sekitarnya.

.

.

-FIN-

HAPPY BIRTHDAY OUR HANDSOME BOY, ADACHI YUTO!

WE LOVE YOU! ❤

Advertisements

Author: megaton-bomb

Call Me Ay | A-Blood Type | Forever Maknae | Purple Addict.

2 thoughts on “[Ficlet-Mix] Cote Obscur”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s