[Vignette] Surprise Gift

Processed with VSCO with k2 preset

SURPRISE GIFT

.

Family, Slice-of-life, Hurt-comfort || Vignette || General

.

Starring
Pentagon’s Yuto with OC’s Adachi Yuri

.

“Jadi, haruskah kita mulai acara tiup lilinnya sekarang?”

.

© 2016 by Gxchoxpie

.

Specially made to celebrate Yuto’s (also Yuri’s) 20th (Korean age) b’day

.

I own the plot and the OC

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Yuto telah memberi tahu bahwa tanggal 23 Januari ini ia akan kembali ke Jepang. Yang lebih menakjubkannya lagi, itu bertepatan dengan hari ulang tahun saudara kembar Adachi. Hal itulah yang membuat Yuri makin antusias dalam mempersiapkan perayaan kecil peringatan hari lahir mereka.

Persiapan Yuri sudah lengkap, dari mulai satu kue tart kecil beserta lilin, topi serta terompet ulang tahun, bahkan kado. Kado yang Yuri siapkan bukanlah kado sembarangan. Sebuah kotak biru navy ukuran satu meter kali satu meter telah diletakkan di kamar Yuto. Gadis Adachi itu berencana untuk bersembunyi di dalamnya.

Ya, Yuri akan menghadiahkan dirinya sendiri sebagai kado.

“Kau ada di mana?” Yuri mencoba menghubungi saudara kembarnya. Ia makin tak sabar akan kedatangan Yuto.

“Baru keluar dari bandara. Mungkin dua puluh menit lagi sampai.”

“Oke. Aku menunggumu.”

KLIK!

Sengaja Yuri tidak menyinggung soal hari lahir mereka karena ia ingin ini menjadi kejutan.

Makin dekat waktunya, perasaan exciting Yuri kini bercampur dengan gugup. Satu sisi ia tak sabar melihat respon Yuto ketika menerima kejutannya. Sisi lain, Yuri khawatir kalau semuanya tak berjalan sesuai rencana.

Waktu terasa berjalan begitu lama bagi sulung Adachi tersebut. Entah sudah berapa kali Yuri keluar-masuk kotak birunya, mencoba mempraktikkan postur, kata-kata, serta ekspresi wajah yang akan ia tampilkan nanti begitu Yuto masuk. Meski sudah berkali-kali berlatih, namun Yuto belum saja datang. Yuri mulai cemas.

TING-TONG!

Dentingan bel pintu rumahnya membuat Yuri terkesiap. Cepat-cepat ia berlari ke kamar Yuto dan bersembunyi di dalam kotak–setelah sebelumnya memberi tahu sang Ibu untuk mengarahkan Yuto ke kamar segera setelah pemuda itu masuk. Di dalam kotak, dengan sigap namun hati-hati Yuri menyalakan lilin menggunakan pemantik yang ia bawa.

Oh, tak lupa juga ia kenakan topi ulang tahun dengan logo Mickey Mouse di bagian depan. Terompet ulang tahun pun sudah terselip di mulut, siap untuk di tiup.

Begitu bunyi langkah Yuto di luar kamar menelusup pendengarannya, jantung Yuri berdetak makin tak keruan.

Ketika pintu kamar Yuto terbuka, Yuri spontan berdiri. Kepalanya menyembul keluar menyebabkan penutup kotak terdorong dan terbuka.

Bahkan gadis itu tak lupa untuk meniup terompetnya sekuat tenaga.

PREEEEEEEEETTTTTT!!!

ODOROKI!!!”

Di luar dugaannya, Yuto hanya bergeming. Pemuda itu melemparkan tatapan yang sulit Yuri artikan.

“Sedang apa kamu di sini?” tanya Yuto dengan nada dingin.

Yuri agak bingung dengan sikap Yuto. Ia bahkan mengangkat kue tart-nya lebih tinggi, mencoba membuat saudara kembarnya mengerti.

Sayangnya, Yuto masih dengan ekspresi tidak ramah yang sama.

“Kau terlihat bodoh dengan topi kerucut itu, Yuri-san!” cetus Yuto. “Kau memenuhi kamarku dengan kotak biru tidak jelas! Dan suara terompet itu. Akh …. Kepalaku sekarang sakit karena mendengarnya!”

Kalimat demi kalimat yang Yuto ucapkan terasa bagai air dingin yang menyiram wajah Yuri telak. Gadis itu ingin menyanggah, tetapi tak ada kata-kata yang mampu ia keluarkan. Tenggorokannya bagai tercekat, dan dara Adachi tersebut hanya mampu bungkam dengan mulut terkunci.

Dan dengan posisi mematung demikian, Yuri tambah yakin bahwa ia sekarang makin terlihat seperti orang bodoh.

Yuto terlihat memejamkan mata, kemudian tangannya menunjuk ke luar kamar.

“Keluar, Yuri-san,” perintahnya.

Manik Yuri membola. Yuto bahkan sama sekali tak berterima kasih atas hadiahnya, dan sekarang pemuda itu mengusirnya?

“Tap-tapi, Yuto-kun – “

“KELUAR SEKARANG JUGA, ADACHI YURI!!!”

Yuri tak perlu menunggu teriakan ketiga. Dengan cepat ia keluar dari kotak birunya, lalu berjalan ke luar kamar Yuto. Tepat ketika gadis itu berada dua langkah di depan kamar, pintu putih dengan stiker Transformer tertutup keras di belakangnya.

Yuri menatap kue yang masih ada dalam pegangannya. Bahkan api di atas sumbu lilin masih menari dengan gemulai, sama sekali tak ada yang padam meski dihadang respon dingin dari sang penerima kejutan.

Dengan berlinang air mata dan hati yang hancur, Yuri meniup lilin yang ada satu per satu. Bahkan ia tidak peduli ketika likuid bening mulai menetes ke permukaan kue, bercampur dengan lelehan lilin akibat tidak segera dipadamkan.

Ketakutannya terjadi sudah; kejutannya untuk Adachi Yuto gagal total. Dan Yuri pikir ini akan menjadi ulang tahun terburuk sepanjang hidupnya.

***

Entah sudah berapa lama Yuto terlelap. Yang pasti, ketika ia bangun, tubuhnya terasa amat segar. Kepalanya tak lagi pening, matanya tak lagi berat. Rasa ngilu yang sempat menyerang punggung serta pundaknya pun hilang.

Dan kini, pemuda Adachi itu bisa tersenyum.

Yuto mendadak teringat akan saudara kembar yang ia usir dari kamarnya beberapa saat yang lalu. Masih jelas dalam gambaran Yuto bagaimana raut wajah gembira Yuri saat mengangkat kue tart dan lilin ke arahnya, senyum gadis itu saat menyambut kedatangannya, yang kemudian tergantikan seketika dengan riak mendung ketika Yuto membentaknya.

Yuto baru sadar bahwa ini adalah hari ulang tahun mereka. Dan godam penyesalan seketika menghantamnya bertubi-tubi ketika menyadari bahwa justru di hari spesial inilah Yuto membuat kembarannya menangis.

Meski sempat ragu pada awalnya, namun akhirnya Yuto mengetuk pintu putih dengan tulisan Y-U-R-I tersebut. Pintu kamar kembarannya.

Yuto tak heran bila Yuri masih belum mau membukakan pintu dalam ketukan pertama. Karena itu ia mencoba mengetuk lagi, dan lagi.

Pintu masih belum terbuka. Kali ini Yuto mencoba dengan menekan kenopnya. Oh, rupanya pintu tidak terkunci. Perlahan, Yuto menguntai langkah masuk.

Yuri sedang berbaring di kasur, dengan punggung menghadap Yuto. Pemuda itu mendudukkan bokong di pinggir tempat tidur Yuri. Diusapnya dengan lembut surai kehitaman kakak kembarnya.

“Yuri-chan ….”

Panggilan pelan tersebut rupanya sukses meruntuhkan tembok kekesalan Yuri. Gadis itu pun menggeliat, lalu membalik posisi tidurnya menjadi menghadap Yuto.

“Apa?” balas Yuri dengan ketus. Ia masih tak mau menatap Yuto.

“Aku mau minta maaf soal tadi,” tukas Yuto.

“Soal apa?”

“Mengusirmu dari kamar. Membuatmu menangis.”

Sontak Yuri terduduk. Gadis itu menatap obsidian Yuto lurus-lurus. “Kau tahu, kan, aku rindu padamu?! Sudah lama sejak terakhir kau pulang ke Jepang, dan ketika kudengar bahwa kau kembali tepat di hari ulang tahun kita, aku amat bahagia. Bukankah wajar jika aku membuatkan kejutan untukmu? Salah bila aku membagikan kegembiraanku?”

Tidak, kau tidak salah, Yuri-chan,” sahut Yuto. “Memang kuakui perjalanan Korea-Jepang membuatku lelah. Belum lagi aku dibuat kesal oleh Wooseok–kawanku–di bandara tadi. Perasaanku sedang kacau ketika kau memberi kejutan. Itu sebabnya responku seperti itu. Tetapi, di atas semuanya, aku yang salah. Maafkan aku, Yuri-chan.”

Inilah Adachi Yuri. Seberapa pun kesalnya ia pada Yuto, tak peduli meski kembarannya membuat ia naik darah berkali-kali, namun ketika Yuto meminta maaf, hati Yuri selalu luluh.

“Hmm. Asal tak kau ulangi lagi saja sikapmu itu.”

“Oke. Kau juga jangan menangis lagi. Kau jelek bila menangis. Lagipula, aku tak kuat mendengarmu menangis. Kau tahu itu sejak kecil.”

Kata-kata Yuto mau tak mau membuat kedua sudut bibir Yuri terangkat.

“Jadi,” celetuk Yuto, mencoba mengubah arah pembicaraan, “haruskah kita mulai acara tiup lilinnya?”

Yuri mengerjap untuk beberapa kali. “Lilinnya sudah kutiup sendirian! Kuenya pun telah kuberikan pada Okaasan. Entahlah, mungkin Okaasan telah membagikannya pada tetangga, sekarang.”

Raut wajah kecewa bercampur penyesalan tersirat di wajah Yuto, karena itu sang gadis Adachi buru-buru melanjutkan, “Tenang, Tuan! Aku punya ini!”

Yuri merangkak untuk mencapai pinggir tempat tidur. Digapainya ponsel case ungu yang ada di atas nakas. Ternyata, ia membuka aplikasi virtual candle.

“Tiup ini,” ujar Yuri sambil menghadapkan layar tepat di depan wajah Yuto.

“Ini?” Yuto terlihat bingung. Namun dengan cepat Yuri mengangguk.

“Ini lilin virtual. Apinya akan padam setelah layarnya kita tiup. Memang meniupnya harus agak keras. Atau, haruskah kita meniupnya bersama-sama?”

“Ide bagus.”

Bersama, kedua insan itu menghembuskan udara keras-keras ke layar ponsel Yuri. Benar seperti penjelasan sang gadis, api di layar pun hilang. Tersisa gambar lilin serta sumbu tanpa cahaya api.

Yuri meletakkan ponsel di tempat tidur, lalu bertepuk tangan. Yuto tertawa kecil melihat tingkah kembarannya.

“Selamat ulang tahun, Yuto-kun … ” ucap Yuri.

“Selamat ulang tahun juga untukmu, Yuri-chan.”

“Selamat ulang tahun untuk kita.”

“Ya, untuk kita.”

-fin-

.

Bonus: Yuri dressed as Yuto’s present

screenshot_2017-01-21-07-24-28-1

A/N

Hahaha… entah kenapa pengen buat dua saudara kembar ini berantem dulu XD Padahal biasanya rukun, baik walau kadang ketus-ketusan tapi tetep saling sayang. Nggak tahu juga kenapa bisa buat Yuto jadi kayak galak banget tapi habis itu manis banget #yaudah

Anyway, happy birthday ya Adachi Yuto… Jangan bikin hati wanita lemah mulu dengan smirk ganteng atau senyum manis atau tingkah imut… Pehliz… All the best for you, my dear one! ❤ ❤ ❤

Buat Yuri juga habede… akur terus sama Yuto, jangan ngelawan mulu bawaannya! Dia itu peduli sama kamu 😀

Anyway, mind to review? 🙂

Advertisements

Author: Gxchoxpie

Writer | Dreamer | Life-time learner

3 thoughts on “[Vignette] Surprise Gift”

  1. yuhuuuu pibesdey adachii… (telat, ini udah giliran kino) hahaha

    yuto bisa ngeselin juga ya dasar. udah dikasih surprise juga malah marahmarah kayak abg labil gitu waks. untung cepet nyadarnya. untung yaa si yuri bapernya ngga awet, jadi cpt baikan. duh duh romantis bayangin momen mereka niup ikin virtual TT kusuka idenya, ge. 😉

    anw, koreksi dikitnya.. tadi liat kata yg blm baku. menghembuskan, harusnya mengembuskan. dan respon yg harusnya respons. udah itu aja yg lain gooooood job!!! 😘😘 keep writing ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s