The Story About a Little Boy

Processed with VSCO with 6 preset

The Story About a Little Boy

birthday fic by

Ariesha97, ChoHana, Gxchoxpie, Iamjustagirl, jihyeonjee98

Pentagon Kino

Childhood || Ficlet – Mix || Rated: G

***

[1]

“Hai.”

Adalah sapaan pertama yang diterima Hyunggu siang itu. Ia yang baru setengah hari tinggal di panti asuhan memang lebih banyak menghabiskan waktu dengan menyindiri dibanding bermain bersama, berlaku layaknya tunawicara dari awal kedatangan membuatnya tak mengenal semua penghuni panti pun memberikan kesan enggan pada yang lain untuk mendekatinya. Jadi, Hyunggu cukup terkejut kala si bocah lelaki ini menyapanya dengan senyum yang kelewat lebar.

Masih mempertahankan senyum secerah mentari, si bocah lelaki mengulurkan tangannya sambil mengenalkan diri, “Aku Lee Hwitaek, panggil saja Hui.”

Agaknya Hyunggu masih betah untuk berdiam diri, ia tetap membiarkan uluran tangan itu bertemankan hampa tanpa ada niatan untuk menyambut balik. Di antara geming yang menguasai, Hyunggu kira sifat defensifnya akan menyinggung si lelaki benama Hui ini, lantas pergi begitu saja seperti penghuni panti yang lain.

Nyatanya, Hyunggu salah, Lee Hwitaek masih di sana dengan wajah cerianya. Uluran tangan tadi berganti jadi dua tepukan di pundak, “Namamu Hyunggu ‘kan? Dan usiamu baru tujuh tahun, jadi panggil aku kakak ya? Kak Hui.”

Sejenak Hyunggu tertegun atas sambutan Hui, sedikit tidak mengira bahwa Hui akan berlaku ramah padahal dirinya begitu apatis. Hui tidak seperti penghuni panti lainnya, yang langsung pergi saat Hyunggu mendiamkan sapaannya, Hui berbeda. “K-kak… Hui?”

Hui berbagi tawa renyah, “Nah, iya bagus, begitu,” pujinya sambil menepuk kepala Hyunggu pelan hingga hadirkan lengkungan kecil di bibir. Hyunggu bukan tipikal anak yang cepat akrab dengan orang baru, jadi ia sedikit canggung atas perlakuan Hui.

“Jadi, sekarang kita berteman ya, mau bermain tidak? Hyunggu suka main apa?”

Tanya itu membuat Hyunggu gelagapan, maniknya yang masih berselimut takut pun ragu bergerak sembarangan demi menghindari kontak langsung, inginnya melontarkan satu dua jawaban tapi pita suaranya terlalu susah untuk digetarkan.

“Sepak bola, suka?”

Hui bertanya lagi dan Hyunggu lamat-lamat mengangguk seraya mencoba berkata meski terbata, “S-suka… Hyunggu suka olahraga. H-Hyunggu juga suka… main game.”

“Wah… bagus.” Hui memandang Hyunggu berbinar sambil bertepuk tangan sekali dengan semangat, “Tiap minggu kami ada tanding sepak bola, nanti Hyunggu ikut ya? Biar Hyunggu satu tim dengan kak Hui, kak Hui ini pemain yang bagus loh, jadi tim kakak tidak pernah kalah, tenang saja,” celotehnya dengan rasa bangga membumbung tinggi hingga terkesan hiperbola meski terkadang itu fakta. Dan kemudian Hui melanjutkannya dengan berbagi cerita menarik yang membuat Hyunggu merasa baik.

Hyunggu bukan anak yang mudah bergaul dan membaur di lingkungan baru dengan mudah, ia sedikit takut bertemu orang baru juga merasa kikuk bila berada diantara orang-orang yang tidak mengenalnya. Jadi, wajar bila ia merasa ragu saat Hui mengajaknya untuk ikut bermain dengan yang lain. Ia takut, tetapi mendegar tanggapan jenaka Hui cukup membuat rasa takutnya berkurang.

“Hyunggu … boleh ikut?”

“Tentu saja. Jangan takut, mereka semua baik, kok. Kalau nanti ada yang memukulmu biar kak Hui pukul balik nanti.”

Awalnya, Hyunggu pikir dirinya akan terus sendiri dan merasa begitu bosan lantaran kepribadian buruknya membuat ia tak memiliki teman. Tapi, Hui memang tidak bohong. Mereka semua teman yang menyenangkan.

[2]

Menangis. Sedari beberapa menit yang lalu Hyunggu terus saja menangis di bawah pohon rindag sembari memegangi sebuah boneka sedang. Hyunggu sendirian, tidak ada satupun keluarganya tengah bersamanya. Lebih tepatnya, Hyunggu tengah tersesat. Jelas, bagaimana tidak tersesat? Hyunggu cukup berani untuk berlarian kesana pun kemari di tengah keramaian taman hiburan. Bahkan lelaki ingusan yang baru saja menginjak usia delapan tahun itu menaiki komedi putar dengan sendirinya. Ya, alasan kehilangan orang tua yang cukup logis.

Meski demikian, tidak ada satupun insan yang menghampiri Hyunggu, meski tangisnya sedari tadi mengganggu. Itu tadi, sebelum seorang gadis dengan surai yang terkepang menghampirinya seraya merogohkan kedua tangannya kehadapan Hyunggu. Gadis itu tersenyum, “Kau lebih suka permen kapas atau lollipop?”

Hyunggu terdiam. Maniknya sibuk memilih diantara kedua pilihan yang diberikan oleh gadis asing yang ada dihadapannya ini. Meski perlahan HKau lebih suka permen kapas atau lollipop?”

Hyunggu terdiam. Maniknya sibuk memilih diantara kedua pilihan yang diberikan oleh gadis asing yang ada dihadapannya ini. Meski perlahan Hyunggu meraih sebatang lollipop yang ada di genggaman tangan sebelah kiri sang gadis. “Aku suka ini. Kau akan memberikannya padaku, bukan?”

“Tentu!” Gadis itu mengangguk, “Asal kau jangan menangis lagi, ya? Lelaki tidak boleh menangis seperti itu.” Gadis itu mendekat, jari telunjuknya menjugkitkan ujung-ujung bibir Hyunggu hingga sebuah senyuman bak bulan sabit tergambar dengan jelas.

“Terimakasih—hmm, siapa namamu?” Hyunggu memenggal kalimatnya lantas menyadari, sedari tadi dirinya tengah bercakap dengan seorang gadis yang tidak ia kenal.

Gadis itu tersenyum, “Aku Eve. Lalu, siapa namamu?”

“Aku Hyunggu.”

-oOo-

Taman Kota. Tempat yang selalu ramai yang keramaiannya tidak akan pernah tergores oleh masa. Siapapun bisa melakukan hal yang diinginkan. Bermain, tertawa, berolahraga, begitu pula mengeluarkan segala emosi. Tidak akan ada yang melarang. Termasuk seperti saat ini, pemandangan yang amat sangat berbeda, di pojok taman di kursi yang berwarna merah menyala, seorang gadis tengah mengumpatkan segala kekesalannya pada sebuah bangku taman.

“Apakah hari ini adalah hari tersial dalam hidupku? Sungguh, pekerjaan apa yang pantas untukku? Mengapa mereka menolak lamaran dariku? Mereka memang bodoh membuang seorang yang berbakat sepertiku. Memang bodoh!!!” berulang kali Eve berkomat-kamit mengungkapkan kekesalannya. Alhasil, berulangkali kaki bangku taman menjadi sasaran amukannya.

Lantas tanpa dirinya sadari, seseorang tengah memperhatikannya sembari menahan gelak tawa yang—mungkin saja sedari tadi menggelitik abdomennya. Pelahan lelaki itu mendekat, senyumaan seketika merekah pun tak lupa dengan benda yang digenggam di kedua tangannya. “Kau lebih suka permen kapas atau lollipop?”

Eve terdiam seketika mematung dan kehilangan seribu bahasa. Maniknya menilik sosok lelaki yang tengah menggenggam sebuah permen kapas dan juga lollipop dikedua tanganya. “Kau… Hyunggu?”

“Hei, aku yang terlebih dahulu bertanya! Yang mana yang lebih kau suka, Eve?”

Perlahan Eve bangkit, jemarinya meraih sebuah permen kapas yang digenggam Hyunggu di tangan kanannya. “Tentu saja aku menyukai permen kapas. Apa kau masih menyukai lollipop?”

“Tidak.”

“Lalu?”

.

.

.

Bagaimana kalau menyukaimu?

[3]

Ada sesuatu aneh yang Kino rasakan pada satu gigi serinya. Rasanya setiap kali ia menggigit sesuatu, gigi seri itu akan terasa sakit. Dan ketika Kino mencoba menyentuhnya, terungkaplah bahwa ternyata gigi seri itu sudah tidak berdiri kokoh seperti gigi lainnya. Kino dapat menggerakkan gigi seri itu sedikit ke depan dan ke belakang.

Merasa ada yang tak beres, Kino kecil pergi melapor perihal giginya pada orangtuanya.

“Ah, gigi susumu goyang, toh,” respon sang Ibu setelah mendengar keluhan Kino. “Sini, Ibu bantu cabut.”

“Apakah rasanya sakit, Bu?” tanya Kino.

“Sedikit, tetapi Kino pasti dapat menahannya.”

Kino buru-buru mengambil langkah mundur, menjauh beberapa meter dari Ibunya. Mukanya pucat pasi seraya kepalanya menggeleng berkali-kali. Dikatupkannya bibir rapat-rapat.

“Kalau sakit, Kino tidak mau!” protesnya.

Sang Ibu mencoba mendekat, tetapi Kino melanjutkan langkah mundurnya.

“Hanya sedikit, kok, sayang,” bujuk Ibunya lembut. “Setelah itu gigi yang baru akan tumbuh. Tidak akan sakit lagi.”

Kino menggeleng kuat-kuat. “Tetap Kino tidak mau! Biar saja seperti ini! Lagipula, kalau gigi ini dicabut, nanti Kino akan ompong. Jelek!”

Sang Ibu baru ingin menjelaskan lebih lanjut, namun putra sematawayangnya sudah terlebih dahulu berlari ke kamar. Bagi Kino, lebih baik ia menahan rasa aneh pada giginya yang tak seberapa dibanding harus menanggung rasa sakit saat cabut gigi plus rasa malu akibat gigi ompong.

***

Kino pulang sekolah dengan bersemangat. Tergesa-gesa ia membereskan peralatan sekolahnya, lalu bergegas menuju jemputan yang biasa mengantar ia dan teman-teman dari sekolah menuju rumah masing-masing. Bahkan berkali-kali mulut kecilnya berucap pada Ajusshi supir jemputan untuk meningkatkan kecepatan kendaraannya–yang hanya direspon dengan tawa atau permintaan untuk sabar. Oh, ayolah. Kino ingin cepat-cepat sampai di rumah. Keputusannya mengenai gigi susu yang goyang telah berubah.

Tadi, di sekolah, Chanwoo sang teman baik mengatakan bahwa di dunia ini ada yang namanya peri gigi. Peri gigi bertugas untuk mengambil gigi manusia yang telah saatnya lepas. Manusia, terutama anak-anak, hanya perlu meletakkan gigi yang telah lepas (yang memang waktunya lepas, bukan yang sengaja dilepas) di bawah bantal saat tidur malam, dan tengah malam itu peri gigi akan mengambil gigi tersebut lalu menukarnya dengan barang yang memang menjadi keinginan kita.

Woah! Bukankah hal tersebut menyenangkan?

Maka dari itulah Kino memutuskan untuk mencabut gigi seri yang telah goyang ini. Setelah itu ia pasti akan mendapatkan robot mainan perak yang telah menjadi incarannya. Demikian keyakinannya.

“Ibu! Ibu! Ibu di mana?! Ibu!”

Seruan heboh Kino menggelegar memenuhi setiap sudut rumah. Tergopoh-gopoh, sang Ibu muncul dari dapur dengan celemek yang masih menempel si baju serta tangan berselimutkan sarung tangan oven.

“Oh, Kino sudah pulang?” sambut Ibunya.

Kino mengangguk cepat, lantas mendekatkan diri pada sang Ibu. “Ibu,” ujarnya, “Ibu sedang sibuk? Bolehkah aku minta tolong?”

“Minta tolong apa, Kino sayang?”

“Mencabut gigiku.”

“Oh?” Ibunya mengeluarkan tawa kecil. “Kemarin bilang tidak mau, sekarang ada apa tiba-tiba?”

“Nanti aku ceritakan mengapa. Oke, Bu?”

Mengiyakan, sang Ibu pun mencuci tangannya bahkan dengan sabun agar tak terjadi infeksi di gusi Kino. Setelah itu beliau meminta Kino membuka mulutnya, seraya ia mulai menggoyang-goyangkan gigi seri Kino ke depan dan belakang dengan agak keras.

“Tahan sedikit walau sakit, ya ….”

Ng ….”

Dengan hitungan satu, dua, tiga, Ibu Kino menarik gigi seri tersebut ke depan dengan sangat keras.

TAK!

Gigi seri itu pun lepas, diikuti dengan sedikit darah mengalir. Kino pun meringis.

“Sana, cepat kumur-kumur, agar rasa sakitnya hilang!” perintah Ibunya.

“Baik, ssh, Bu,” balas Kino sambil merintih. “Tapi aku mau menyimpan giginya.”

“Untuk apa?”

“Menaruhnya di bawah bantalku. Chanwoo bilang, nanti malam peri gigi akan mengambilnya, lalu akan menukarnya dengan hadiah yang aku inginkan.”

Sang Ibu ingin menjelaskan, namun lagi-lagi putra sematawayangnya tersebut telah terlebih dulu lari menuju kamar, meninggalkan beliau yang hanya bisa geleng-geleng kepala.

***

Malam itu Kino benar-benar meletakkan gigi serinya di bawah bantal. Sebelum tidur, ia terlebih dahulu berdoa. Tak lupa ia meminta robot-robotan perak sebagai hadiah ganti giginya.

***

Esok paginya, Kino bangun dengan semangat. Ia turun dari tidur, mencari mainan robot yang ia doakan di setiap sudut kamar. Namun kekecewaannya mulai timbul ketika ia tak menemukan hadiah yang ia harapkan. Tak ada tanda-tanda robot-robotan di kamarnya.

Dan harapannya benar-benar pupus ketika ia membuka bantal, gigi serinya masih berada di tempat yang sama.

Kecewa, pemuda kecil itu keluar dari kamar dengan raut wajah kusut. Di genggamannya terdapat gigi serinya.

“Ada apa dengan dirimu?” sapa sang Ibu begitu melihat putra kecilnya duduk di meja makan dengan raut wajah kusut. “Kau bermimpi buruk?”

“Peri gigi tidak mengabulkan permintaanku,” tukas Kino, lalu menelungkupkan kepala di atas meja. “Tidak ada robot-robotan untukku. Bahkan ia tidak mengambil gigiku.”

Ibunya menyusun panekuk panas di atas piring. “Kino-ya, siapa yang menceritakan padamu tentang peri gigi?”

“Chanwoo.”

“Peri gigi itu tidak ada, Kino-ya.”

Kino mengangkat wajahnya, lalu menatap sang Ibu dengan pandangan sedih. “Tidak ada? Tetapi kata Chanwoo kemarin – “

“Peri gigi itu hanya dongeng. Hanyalah cerita anak-anak.”

Baiklah, perasaan Kino makin kacau sekarang. Setelah permintaannya tidak dikabulkan, sekarang, ia dibohongi?

“Tapi jangan bersedih. Ibu tetap punya hadiah untukmu.”

Kino masih belum terlihat bersemangat. “Apa?”

Sang Ibu masuk ke kamarnya sejenak, kemudian kembali dengan sekotak krayon di tangan. Diletakkannya kotak krayon tersebut di dekat Kino. “Nah, untukmu.”

Putra kecil Kang itu melihat-lihat hadiahnya untuk beberapa saat.

“Ibu memang tidak membelikan mainan robot seperti yang kau inginkan. Tetapi ibu tahu kau membutuhkan krayon ini karena punyamu yang lama sudah mulai banyak yang patah. Dan hadiah ini ibu berikan sebagai ucapan selamat karena Kino sekarang sudah beranjak besar. Gigi susu lepas itu pertanda Kino sudah mulai besar.”

Meski tak mendapatkan apa yang ia mau, setidaknya perasaan Kino telah membaik karena perkataan ibunya. Kino bangkit berdiri, lalu melingkarkan lengannya di sekeliling pinggang Ibunya.

“Terima kasih, Ibu.”

[4]

Menginjak usia berapa tahunkah seorang gadis dapat disebut dewasa? Tujuh belas tahun? Dua puluh tahun? atau ketika mereka telah menginjak usia senja. Mendiang ibu Yeri pernah bilang, salah satu tanda seorang gadis tengah mendekati usia dewasa adalah ketika mereka mengalami menstruasi. Awalnya Yeri tak paham dengan istilah mestruasi, namun sekarang berangsur-angsur ia mulai memahaminya. Rasa sakit, kaget, takut, ia merasakan itu semua di hari pertamanya kedatangan tamu.

“Yeri, main yuk.”

Suara polos itu menggema dari balik jendela kamar Yeri. Itu pasti Kino—tetangga sekaligus teman main Yeri setiap hari. Gadis bersurai panjang itu buru-buru berlari menuju jendela. Bukannya membukakan jendela untuk sang sahabat, ia justru menutup rapat-rapat tirai jendela kamarnya. Menyadari kelakuan aneh sang sahabat, si bocah tampan itu—Kino—hanya bisa mengerutkan kening.

“Yeri, kamu kenapa? Kamu sakit?”

Khawatir? Tentu saja. Yeri adalah satu-satunya teman bemain Kino di rumah. Jika gadis kecil itu tak mau lagi bermain dengannya, itu artinya takkan ada lagi orang yang mau diajak bermain pasir, petak umpet atau bersepeda bersama setiap sore.

“Yeri!” Sekali lagi Kino memekik. Kali ini diikuti dengan suara lemparan batu ke arah jendela kamar Yeri.

Akhirnya, mau tak mau, Yeri mengalah. Dibukanya kembali tirai jendelanya lalu ditengadahkannya kepalanya keluar.

“Jangan mendekatiku, Kino. Aku sedang tak enak badan. Pergilah. Jika Ibu panti menemukanmu di sini, kau akan dimarahi,” Yeri berusaha mengusir bocah itu.

“Jadi kau benar-benar sakit? Bolehkah aku menjengukmu?” Kino bertanya dengan polos, sementara Yeri hanya menghela napas panjang.

“Aku sedang dalam masa haid, Kino.”

Haid? Penyakit macam apa itu?”

“Itu bukan penyakit. Itu tamu bulanan. Mulai hari ini aku akan mengalami masa haid tiap bulan.”

Kino hanya diam sambil melongo. Jelas ia sama sekali tak mengerti dengan semua perkataan Yeri barusan.

“Aku sama sekali tidak paham, Yeri-ah,” Kino berucap sambil mengerucutkan bibirnya.

Yeri kembali menghela napas untuk kedua kalinya, “Kalau begitu tanyakan pada Kak Seulgi saja. Dia pasti paham. Sudah ya. Karena aku sedang tak enak badan, aku harus banyak beristirahat. Kalau masa haid-ku sudah berakhir, baru kita bisa main lagi.”

Lalu tanpa menunggu Kino bicara lagi, Yeri buru-buru menuntup kembali jendela kamarnya. Jadilah sore itu Kino—si bocah dua belas tahun yang polos—dilingkupi perasaan penasaran yang besar. Apa itu haid? Tamu apa yang dimaksud Yeri? Dan kenapa tamu itu harus datang tiap bulan? Semua pertanyaan itu berkumpul jadi satu di kepala si bocah.

“Loh Kino, sudah pulang?” Sang kakak—Seulgi—yang baru saja pulang les menyambut Kino dengan tatapan heran. “Biasanya kamu main sama Yeri sampai malam.”

“Yerinya lagi sakit, Kak,” Sahut Kino tanpa semangat.

Seulgi hanya ber-oh ria, “Sakit apa?”

Haid.”

HAID?” Seulgi kaget. “Yeri sudah haid? Woah daebak, dia baru dua belas tahun tapi sudah haid. Aku aja baru haid waktu umur empat belas tahun.”

Kini giliran Kino yang menatap wajah sang kakak dengan heran. Ekspresi kakaknya barusan jelas terlalu berlebihan.

“Kak, memangnya haid itu apa sih?” Kino bertanya dengan polosnya.

Seulgi tersenyum tipis lalu mengelus puncak kepala sang adik, “Aigoo, Yeri sudah tumbuh menjadi gadis dewasa, tapi rupanya adikku ini masih jadi bocah bodoh yang tak tahu apa-apa. Biar kakak jelaskan padamu ya, jadi haid itu adalah masa yang dialami wanita ketika masih dalam usia produktif. Biasanya haid itu terjadi tiap bulan. Haid itu adalah tanda seorang wanita beranjak dewasa. Nanti waktu kamu SMP, kamu juga bakal belajar tentang ini di pelajaran Biologi.”

Kino hanya mengangguk pelan, “Trus obat haid itu apa kak?”

“Gak ada obatnya, Kino sayang. Rasanya memang sakit, tapi bakal hilang kok kalau masa haidnya sudah lewat.”

“Yah, gak ada obatnya ya, Kino gak bisa ngasih Yeri obat dong,” Kino menundukkan kepalanya dengan kecewa.

Seulgi kembali tersenyum lalu mengelus kembali kepala sang adik, “Kino tunggu disini dulu ya, kakak mau ambil sesuatu dulu.”

Seulgi beranjak sebentar menuju kamarnya lalu kembali sambil menyodorkan sebuah kantong plastik berwarna hitam pada Kino, “Nih.”

“Ini apa, Kak?” Kino menatap kantong itu dengan heran.

“Jangan dibuka!” Pekik Seulgi “Itu khusus buat Yeri. Cepat dikasih sana.”

“Tapi aku penasaran isinya apa.”

“Eh—isinya cuma roti kok. Pokoknya kamu gak boleh buka plastiknya. Cuma Yeri yang boleh buka.”

Seulgi pun beranjak meninggalkan adiknya. Ia kembali menuju kamarnya, menyisakan Kino yang masih menatap punggungnya dengan heran.

“Roti?” Kino menatap kantong plastik yang ia genggam erat-erat.

Sorenya Kino menitipkan kantong plastik pemberian sang kakak pada salah satu teman sekamar Yeri karena saat sore hari anak laki-laki dilarang berkunjung ke panti tempat Yeri diasuh.

“Yer, ini ada titipan dari Kino,” Gadis dengan rambut kuncir dua itu menyodorkan sebuah kantong plastik pada Yeri.

“Eh? Ini apa?” Yeri menatap kantong itu dengan penasaran. Di sisi depan kantong itu tertempel sebuah sticky note.

‘Kata kakakku ini adalah roti yang bisa membuatmu sembuh. Semoga kamu cepat sembuh, Yeri-ah. Aku pengen kita main bareng lagi 🙂 -Kino’

Yeri tersenyum tipis membaca pesan dari Kino. Entahlah. Sebenarnya pesan itu terkesan begitu sederhana, namun ia bisa merasakan ketulusan dari sang sahabat. Pelan-pelan Yeri membuka kantong plastik tadi dan ia menemukan beberapa bungkus pembalut serta—

“Eh, kok ada selai kacangnya sih?” Yeri mengerutkan keningnya lalu membaca sticky note yang tertempel di botol selai itu.

‘Yer, jujur aku gak ngerti itu roti apaan. Tapi setahuku, makan roti itu paling enak pakai selai kacang. Selamat menikmati rotinya, Yeri-ah 🙂 –Kino.’

[5]

Kak Hyunggu itu bukan tipekal anak laki-laki nakal. Seingatku, belum pernah aku mendapati Kak Hyunggu mencuri selai mangga milik Kak Changgu. Soalnya, Kak Changgu suka membawa selai mangga yang super enak apalagi kalau dioles ke roti.

Dan lagi, ibu juga sering bilang Kak Hyunggu itu anak baik. Walaupun kadang suka menyembunyikan hasil ulangan matematika dalam laci mejaku. Lantas besoknya auman Ibu memenuhi satu rumah sampai Ayah sakit gigi.

Setidaknya itu kemarin kemarin, sekarang sudah berubah sepertinya.

Aku tidak bilang Kak Hyunggu nakal! Cuma … melihatnya berjalan mengendap-endap menggunakan masker hitam, berusaha tak membuat suara. Apa iya aku tidak curiga?

“Oy.” Pergerakan Kak Hyunggu terhenti. Kepalanya tertoleh ke belakang lalu terhentak. Mendadak barang yang nyaris saja dia dapat jatuh, isinya keluar berserakan mengotori lantai.

“Woah!” Aku bertepuk tangan.

“Kak Hyunggu mau makan mie instan mentah ya!” Lalu Kak Hyunggu menurunkan masker macam yang dia pakai. Telunjuknya diletakkan di atas bibir.

“Sst! Jangan bilang ibu ya?”

“Satu syarat!”

Kak Hyunggu mendengus.

“Ikut Minjoo main ke rumah Wooseok.”

“Diluar panas.” Kak Hyunggu menunjuk ke arah jendela. Ugh! Memang panas! Sinar mataharinya sangat terik, sampai silau.

“Nanti aku jadi hitam, nggak mau.”

“Kata Wooseok kita bisa pakai baju panjang.”  Ini sungguhan, Wooseok yang bilang sendiri kalau aku enggan ke rumahnya dengan menyalahkan cuaca panas.

“Muka kita bagaimana?”

“Pakai masker!”

“Bagian mata kita belang nanti kayak panda, nggak mau!”

“Pakai kacamata hitam dong!”

“….”

“Oke deal!!”

Perbincangan kami berhenti disana. Karena setelahnya kami benar-benar berkemas menggunakan baju serba panjang beserta masker dan kacamata. Meninggalkan dapur tanpa menutupnya terlebih dahulu, atau paling tidak membersihkan kotoran bekas Kak Hyunggu.

Lantas besoknya kami diomeli Ibu tak diperbolehkan main satu minggu sebab dapur jadi dipenuhi semut merah lamanya tiga hari. Huft, orang dewasa memang menyebalkan.

.

.

.

FIN.

Advertisements

2 thoughts on “The Story About a Little Boy”

  1. uwooo kino kecil… unyu unyu bayanginnya…

    oke,
    1. suka nomor satu bikos rapi.. dan genrenya friendship! yuhuu
    2. endingnya suka, tapi coba dicek lagi, bikos ada yg janggal di fiksi nomor dua. dan beberapa kesalahan teknis but overall itu tadi.. aku suka gombalannya kino ihi 😂
    3. peri gigi omaygat kaciian kino diboongin changgu uhu tapi yeay tetep dpt hadiah krayon (asli gemesh aku bayangin kinonyaaa),
    4. ini yg paling ucul kino polos bgt padahal udah umur duabelas huhu haid itu penyakit apa? lalu apa itu? selai kacang? hahaha kinoo vliiss pulang ke rumahku yuk!
    5. yaaampuun iya kang kino dedek tau kamu putih, iya, tapi ngga segitunya kali pergi ke rumah temen tp dandanan kek maling hahaha ada2 aja…..

    terakhir, pibesdey kang kinoooo 😘 jan cengeng lagi yaa 😝

    Like

  2. Aduh ngebayangin Kino kecil lucu yaa ><

    Aku suka sama ceritanya lucu-lucu peri gigi, lolipop, 'roti' :v, dan soal main ke rumah wooseok. Sayangnya aku nemu beberapa kata yang typo. Tapi gapapa over all aku suku. Unyu-unyu gimana gituuu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s