[Ficlet-Mix] Tall People Problem

Processed with VSCO with a7 preset

Tall People Problem

birthday fic by

Ariesha97, ayshry, ChoHana, Gxchoxpie, jihyeonjee98

Pentagon Jung Wooseok

Fluff || Ficlet – Mix || Rated: G

***

[1]

Well, siswa pun siswi mana yang tidak mengenal sosok Jung Wooseok? Lelaki dengan tingginya yang bahkan melampaui pintu masuk menuju ke dalam ruang kelas. Tak terkecuali aku, yang kerap kali dibuat terkikik kala lelaki itu mulai menundukkan kepalanya hanya untuk masuk ke dalam ruang kelas. Memang sih itu bukan atraksi yang patut untuk ditertawakan, tapi bagaimana bisa aku melupakan ekspresi wajahnya yang selalu kesal saat harus merunduk, pun sesekali dirinya harus menerima sebuah benjolan kecil di kepala karena kepala tanpa sengaja menghantam pembatas pintu.

Aku menoleh kebelakang, menghadap ke arah Wooseok yang tengah menghusap halus jidatnya, “Kak, perlukah aku memasang tanda hati-hati menabrak pembatas pintu?” Lantas ku sambung ocehanku barusan dengan gelak tawa yang sukses membuat kedua ujung bibir Wooseok curam kebawah, membentuk bulan sabit yang pahit.

“Terimakasih Ruiha, tetapi tidak usah. Apa kau puas mentertawakanku?” Ucap Wooseok geram seraya mengepalkan jemarinya.

“Belum puas dan tidak akan pernah puas kak, bwekkkk.” Sambil menjulurkan lidah, Ruiha dengan segera bergegas melarikan diri dari pandangan Wooseok, meninggalkan lelaki tersebut dengan penuh rasa sebal dan amarah.

Ruiha menghentikan langkah tungkainya tepat di perpustakaan, perlahan gadis itu menyusuri rak-rak yang dipenuhi dengan aroma buku yang sangat Ruiha suka. Kali ini Ruiha berniat untuk membaca buku sejarah dunia. Jemarinya menunjuk-nunjuk papan yang bertuliskan ‘Sejarah’ sedangkan maniknya sibuk menilik berapa rak buku lagi yang harus dirinya lewati.

“Satu… dua… tiga… yup! Sejarah.” Ruiha tersenyum sumringah kala berada diantara rak yang dipenuhi dengan buku-buku sejarah diseluruh dunia. Kembali maniknya menilik satu persatu judul buku diikuti pula dengan jemari telunjuknya. Sejarah Goryeo…. Sejarah Goryeo…. Gumam Ruiha dalam hatinya.

Berulang kali gadis itu mencari dan terus mencari buku sejarah yang ingin dibacanya, hingga pada akhirnya Ruiha sempat ingin menyerah sebelum akhirnya gadis itu menyadari sesuatu berkat sepintas kalimat melintas dibenaknya, “Buku Sejarah Goryeo ada di rak nomor delapan, kolom rak paling atas.” Segeralah Ruiha mendongak, mendapati deretan buku bertuliskan ‘Sejarah Goryeo’ ada sekitar empat sampai lima buku. Terkutuklah gadis itu, meski berjinjit, keempat buku sejarah itu tidak akan ada di tangannya.

“Kau mau buku yang mana? Ini?” Suara berat lelaki menginterupsi, sontak Ruiha berbalik dan mendapati sosok Wooseok yang tengah mengambilkan buku lantas meletakkannya kasar di atas kepala Ruiha. “Atau yang ini?” kembali Wooseok menumpuk buku sejarah di atas kepala Ruiha.

Ishhh. Sakit tau, Kak. Cukup ini saja.” Geram Ruiha. Gadis itu mengambil buku yang ada di kepalanya lantas pergi meninggalkan Wooseok.

“Apa kau tidak akan mengucapkan terimakasih kepadaku?”

“Tidak!!”

-oOo-

Wooseok menggaruk tengkuknya seraya nalarnya terus berfikir perihal Ruiha yang meninggalkannya tadi. Apa salahku? Apa aku kasar? Atau dia marah padaku? Berulang kali pertanyaan yang sama terus menghantui Wooseok. Lelaki jenjang it uterus melangkahkan tungkainya menuju kelas, hingga—

“Aduh!!” Ya, hingga benjolan kembali menghiasi kepalanya lagi. Sudah kali keberapa Wooseok sendiri bahkan tidak bisa mengingatnya, dirinya selalu lupa bahwa pembatas pintu dikelas terlalu pendek dibandingkan tinggi badannya yang menjulang.

“Kak, apa kau menambah benjolan lagi di kepalamu?” Sahut Ruiha seraya terkikik.

“Apa kau akan terus menertawakanku?” Wooseok membalas dengan wajah kesal dan sebal seraya tangannya terus mengusapi jidatnya yang kini tampak merah memar.

“Apa kau tidak punya mata kak? Apa kau tidak melihat tulisan di atas sana? Itu ucapan terimakasihku!”

Wooseok linglung, “Tulisan?”

“Iya tulisan. Lihat saja kembali.”

Lantas Wooseok kembali keluar kelas—tidak lupa merunduk tentunya, dan melihat kertas yang tertempel rapat dengan tulisan menggunakan huruf kapital dan spidol hitam yang tebal.

HATI-HATI MENABRAK PEMBATAS PINTU

.

.

.

YAAA! ADACHI RUIHA!!!!”

[2]

Selama hampir dua puluh tahun Wooseok selalu bangga dengan dirinya sendiri. Lahir dengan wajah tampan, tubuh yang tinggi dan otak cemerlang. Sudah sepantasnya Wooseok untuk bangga, kan?

Berkat otak cemerlangnya, ia selalu mendapat prestasi bagus dalam setiap jenjang sekolahnya. Kemungkinan ia diterima di perguruan tinggi sebentar lagi cukup besar meski ia juga harus bekerja keras sama seperti yang lain. Saat di sekolah dasar, Wooseok benar-benar senang menjadi yang paling tinggi di kelasnya. Tidak ada yang berani mengganggunya pun mencoba balik melawan ketika ia membantu temannya yang tertindas. Di masa kecil Wooseok, dirinya sungguh sudah merasa seperti super hero. Berkat jadi yang paling tinggi di kelas, Wooseok berhasil masik club renang semasa tingkat menengah. Lelaki itu senang bukan main, selain alasan ia suka berenang itu sangat bagus membentuk tubuhnya dan membuatnya semakin tinggi. Di masa remaja Wooseok, dirinya tidak pernah surut menjadi topik perbincangan di kalangan perempuan.

Dan saat berada di tingkat akhir jenjang sekolahnya, ia benar-benar tumbuh dengan baik. Wooseok tetap yang paling tinggi di kelasnya sekalipun kecerdasannya tidak lagi nomor satu, namun ketampanannya tidak bisa di nomor dua-kan juga tingkat kepopulerannya yang tidak boleh diragukan. Jadi, berbekal hal-hal tersebut juga rasa percaya dirinya yang tinggi, Wooseok ingin melakukan sesuatu–ini adalah targetnya sebelum lulus sekolah; mempunyai seorang kekasih.

Gadis yang Wooseok sukai bukanlah yang tercantik di sekolahnya, juga bukan objek yang sering dibicarakan teman-temannya. Si gadis hanyalah anak SMA biasa yang apa adanya saja dan kebetulan menjadi teman sekelas Wooseok yang tanpa sengaja membuat lelaki itu jatuh hati begitu dalam.

“Boleh kutahu alasannya? Kupikir tidak ada yang kurang dariku, jadi mengap–”

“Karena kau tinggi.”

Ini adalah kesalahan. Wooseok sudah terlalu dalam saat jatuh hati sampai sulit mendapatkan kewarasaannya sendiri, dan saat dijatuhkan dengan kesadaraan penuh oleh yang terkasih rasanya begitu sakit.

“Aku memang menyukai lelaki tinggi, tapi tidak terlalu tinggi dariku. Kau terlalu tinggi untukku, aku merasa tidak nyaman saat berbicara. Maaf.”

Selama hampir dua puluh tahun Wooseok baru pertama kali benci dengan dirinya sendiri. Lahir dengan wajah tampan, tubuh yang tinggi dan otak cemerlang. Wooseok menyesal jadi yang paling tinggi, kalau saja tubuhnya tidak terlalu tinggi ia tidak akan mendapat penolakan dari gadis yang dia cintai. Ini menyakitkan, ia putus asa.

Satu-satunya hal yang bisa Wooseok lalukan sekarang adalah mengambil ponselnya dan mengetikkan sebaris kalimat pada mesin pencari di internet. Abaikan tanya penasaran karibnya yang kemudian menjadi olokan Wooseok sudah tidak waras. Ia tidak mau mendapat penolakan untuk kali kedua.

‘Cara menurunkan tinggi badan dengan cepat.’

Semoga dewa memberi keajaiban pada dirinya.

[3]

Tampaknya menemani sang adik menonton konser bukanlah keputusan yang baik. Sebenarnya dari awal pun Wooseok telah menolak mentah-mentah ide yang diajukan Ibunya tersebut. Namun sang Ibu bersikeras, dengan alasan tak aman seorang gadis berada sendirian di tengah kerumunan orang yang tak dikenal.

Jadi, di sinilah Wooseok sekarang, Gonghae-do Dome, bersama sang adik serta kurang lebih 2450 penonton lainnya. Semuanya serupa; berteriak histeris, meloncat-loncat heboh, berusaha merekam setiap momen dengan ponsel hinggal kamera SLR, lalu mengangkat batangan lampu tinggi-tinggi.

Wooseok sebenarnya tak mengerti apa faedah dari acara tersebut. Biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli tiket masuk tidak murah, hanya untuk sekedar melihat penampilan beberapa personil pria menari-nari. Demi Neptunus, lebih baik Wooseok tinggal di rumah dan bermain pes.

JEOGIYO …!”

Sebuah teriakan menelusuk pendengaran Wooseok, membuat pemuda Jung itu menggerutu untuk sesaat. Mood-nya sedang tidak baik sekarang, dan besar hasratnya untuk menghantam orang yang berani berteriak padanya tersebut. Namun dua sekon kemudian ia bagai disadarkan bahwa suasana yang bising membuat setiap insan harus berkomunikasi dengan suara yang lebih keras agar terdengar.

Wooseok pun menoleh. Tampak seorang ibu muda yang sedang menggendong anak perempuan batitanya, membuat sang pemuda Jung bertanya-tanya bagaimana bisa anak kecil masuk ke tempat yang bahkan Wooseok sendiri tidak betah.

“Kau terlihat tinggi … ” celetuk sang ibu, yang tentu saja diucapkan dengan suara keras.

Wooseok hanya mengangguk samar, tak menangkap maksud dari perkataan tersebut. Well, sebenarnya ia sudah siap kalau harus pindah ke belakang. Ia sadar bahwa tingginya yang menjulang sangat menganggu penonton lain di belakangnya, mengingat ia dan adiknya berdiri di barisan cukup depan.

“Bolehkah aku minta tolong?” ucap ibu itu lagi.

“Minta tolong apa?”

“Kau bisa menggendong anakku? Di pundakmu? Anakku cukup kurus, kok! Ia juga ingin menyaksikan penampilan, namun aku tak kuat menggendongnya. Lagipula aku tak cukup tinggi. Kau terlihat kuat dan menjulang, jadi, kuharap kau tak keberatan.”

Belum sempat Wooseok menjawab, tahu-tahu ibu itu sudah menyerahkan putrinya dalam gendongan Wooseok. Setelah memberikan senyum lebar–well, untuk Wooseok itu, sih, hanya sekedar sebuah cengiran menjijikkan–sang ibu kembali bergabung dalam meriahnya suasana konser. Ia kembali melompat, berteriak, dan dengan semangat menggoyangkan batangan lampu.

Wooseok hanya dapat geleng-geleng kepala. Oh, inikah penderitaan kesekian yang harus ia lalui karena terlahir menjulang layaknya tiang?

[4]

Bukan kebiasaan aneh lagi jika Wooseok dan kakaknya tercinta—Hoseok akan pergi setiap akhir pekan ke pasar subuh. Tentu saja mereka pergi bukan atas kesadaran sendiri melainkan titah pemegang kursi kekuasaan tertinggi di rumah mereka. Sebut saja dia Mama.

“Hoseok, ini uang sama daftar belanjaannya,” Sang Mama—yang meski nyaris menginjak usia kepala empat masih terlihat cantik itu—menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu serta kertas kecil berisi catatan sayur-mayur serta lauk-pauk yang harus diburu kedua anak lelakinya. “Ingat ya, jangan sampai ada yang ketinggalan.”

“Beres, Ma,” Hoseok mengacungkan jari jempolnya sembari memasukkan uang serta catatan tadi ke dalam saku celananya.

“Wooseok, ini bakulnya,” Giliran Wooseok—si anak bungsu bongsor yang menerima wasiat dari sang mamah.

“Ihhh Mamaaaaa!!!” Wooseok langsung protes. Siapa yang tidak protes coba? Masa pemuda putih, tinggi, cakep sepertinya harus rela menenteng bakul pagi-pagi. Ini adalah momen terburuk yang pernah ia alami seumur hidupnya.

“Apa sih sayang? Jangan manja deh. Ntar kalo pulang, mama masakin pisang goreng kesukaanmu deh,” Sang mama masih berusaha merayu Wooseok.

“Ish, Mama memang menyebalkan!”

Sambil menyentakkan kakinya, Wooseok mendahului sang kakak meninggalkan rumah. Di depan rumah sudah terparkir motor milik kakaknya. Biasanya mereka akan pergi ke pasar menggunakan motor bebek kesayangan kakaknya itu.

“Woo, kamu yang bonceng ya,” Hoseok nyengir di depan adiknya.

“Kok aku? ‘Kan biasanya Abang yang bonceng.”

“Hari ini kamu aja deh. Abang lagi mager ngegas motor.”

“Elah Bang, cuma ngegas doang. Lagian Wooseok ‘kan belum punya SIM, Bang, kalau ada apa-apa di jalan, gimana?”

“Gapapa. Pagi-pagi biasanya gak ada polisi kok. Lagian badan kamu ‘kan tinggi. Pasti amanlah, gak bakalan kenapa-napa kita.”

Daripada mereka terlambat ke pasar, akhirnya Wooseok lebih memilih mengalah. Dengan cekatan Wooseok mengendarai motor sang kakak menuju pasar. Syukurnya mereka sampai di pasar dengan selamat tanpa hambatan apapun. Mereka berdua langsung turun dan membeli semua pesanan sang mamah—dari mulai sayur-mayur, lauk-pauk sampai rempah-rempah. Butuh waktu sekitar dua jam untuk mereka berkeliling mengumpulkan semua pesanan yang masuk dalam list belanja sang mamah sebelum akhirnya mereka beranjak pulang.

“Udah lengkap semua ‘kan, Woo?” Hoseok berjalan mendahului sang adik.

“Udah Bang. Lengkap,” Sahut Wooseok sambil mengecek kembali isi bakul belanjanya.

Mereka nyaris sampai di parkiran saat tiba-tiba Wooseok merasakan sesuatu yang aneh.

“Aduh, Bang,” Wooseok memekik.

“Eh, kenapa, Woo?” Hoseok langsung menoleh ke belakang dan panik melihat sang adik.

“Aduh, perut Wooseok sakit, Bang. Mules. Kayaknya mau BAB deh.”

“Tahan, Woo. Di rumah aja kamu BAB-nya.”

“Gabisa, Bang. Udah di ujung ini. Aduh.”

Hoseok tambah panik. Sebagai kakak yang baik, dia mulai mencari cara agar sang adik bisa BAB secara layak. Setelah hampir lima menit berpikir, akhirnya Hoseok mendapat cara.

“Oh iya, Woo, Abang lupa. Di belakang sini ada toilet umum. Ayo, kita ke sana saja.”

Hoseok langsung menyeret sang adik ke toilet umum. Setelah melewati beberapa baris toko, mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Tanpa banyak membuang waktu, Wooseok langsung masuk ke dalam, sementara Hoseok harus menyelesaikan biaya administrasi dengan sang penjaga toilet.

“Tiga ribu, Bang.”

Hoseok langsung melotot, “Mahal amat. Biasanya cuma dua ribu.”

“Penglaris, Bang,” Jawab si penjaga toilet enteng.

“Astaga, untung Mamah ngasih uang lebih,” Hoseok langsung menyodorkan tiga keping uang logam seribuan.

Sekitar lima belas menit Hoseok nunggu, akhirnya Wooseok keluar dari toilet.

“Yok, buruan pul—“ Kata-kata Hoseok terputus saat ia menyaksikan penampilan sang adik yang baru saja keluar dari toilet. “Astaga, Woo, kamu kenapa? Kok mukamu basah gitu sih? Kamu mandi di dalam?”

Wooseok hanya diam sambil mengelap-elap wajah serta rambutnya yang basah.

“Wah, Mas, kalo mandi, biayanya beda lagi. Jadi lima ribu, Mas,” Si penjaga toilet ikut mengomentari.

“Siapa yang mandi sih? Orang tadi aku cuma buang air,” Jawab Wooseok ketus. “Ini tadi gara-gara orang yang pake toilet sebelah nyiram aku.”

“Lah kok bisa disiram?” Hoseok menatap Wooseok heran.

“Bilik toiletnya kerendahan. Badan aku ‘kan tinggi, jadi pas habis jongkok langsung berdiri eh tau-taunya di siram. Dikira aku mau ngintip orang sebelah.”

Sementara Wooseok mulai bercerita panjang lebar, Hoseok justru sibuk menahan tawanya.

“Makanya, Mas, bilik toiletnya ditinggiin dong. Kalo ada pelanggan yang tinggi kayak saya ‘kan jadi susah,” Wooseok protes pada si penjaga toilet.

“Ya ampun, Woo. Makanya kalau punya badan jangan tinggi-tinggi.”

Tawa Hoseok akhirnya meledak juga.

[5]

Tidak ada yang salah dengan tubuh tinggi yang dimiliki oleh Jung Wooseok sebenarnya. Tidak pula Wooseok pernah berpikir tentang penyesalan lantaran memiliki tinggi di atas rata-rata. Namun untuk kali ini Wooseok benar-benar mengutuk tubuhnya yang terlampau tinggi, bahkan pemuda yang baru genap berusia dua puluh tahun hari ini diam-diam memanjat doa agar tubuhnya berhenti bertumbuh selamanya.

Pasalnya, entah kenapa hari ini ia dibuat lelah oleh teman-temannya. Mulai dari memintanya memanjat kursi demi mengganti bola lampu yang putus, lalu membenarkan letak peta yang tergantung di dinding paling tinggi, kemudian menjadi sukarelawan dalam memperbaiki ring basket yang entah bagaimana jaringnya tiba-tiba robek tak karuan; sehingga Wooseok—salah satu murid dengan tubuh tertinggi—diminta untuk memasang jaring yang baru.

Sungguh melelahkan. Wooseok benar-benar tak diberi kesempatan untuk mengistirahatkan diri barang sejenak. Lalu diam-diam, pada jam istirahat Wooseok lekas kabur dari kelas dan memilih untuk menyambangi perpustakaan sebagai destinasi untuk ia tidur sejenak. Oke, perpustakaan adalah tempat yang paling aman dari teman-temannya yang kerap mengerjainya seharian ini. Karena dia tahu, jam istirahat hanya akan dihabiskan oleh mereka untuk mengisi perut yang keroncong, bukan mengisi otak dengan berbagai ilmu yang bisa kau dapatkan di perpustakaan.

Wooseok baru saja menjejakkan kaki di dalam ruang besar yang dipenuhi rak-rak tinggi berisi buku-buku berbagai jenis. Mulai dari buku pelajaran hingga komik pun tersedia di perpustakaan sekolahnya yang megah. Kendati Wooseok menyukai komik, tapi tujuannya kali ini bukanlah untuk mencari bacaan melainkan tidur. Jadi, ia lekas mendatangi tempat paling pojok agar tak mendapat gangguan.

Membaringkan tubuhnya di atas kursi yang telah ia susun sedemikian rupa—meski pada akhirnya ia harus puas dengan kaki yang menggantung ke bawah karena terlampau panjang— Wooseok mulai memejamkan mata, berharap takkan apa pengganggu hingga bel tanda istirahat berakhir berbunyi. Dan jikalau ia tidur terlampau nyenyak dan tak mendengar bel, maka ia akan membolos saja, toh sesekali tidak mengikuti pelajaran bukan hal yang terlampau buruk, ‘kan?

Namun, ketika Wooseok baru saja mulai merasa tenang dan nyaman, sebuah tepukan di pundak memaksanya kembali membuka mata.

“Jung Wooseok?”

Nada riang yang akrab menyapa rungu, Wooseok kini mengubah posisinya menjadi duduk ketika mendapati sebuah wajah familier berada di hadapannya kini.

“O, Vanny! Kau di sini? Sedang apa?” Ada raut girang yang tak mampu disembunyikan oleh Wooseok ketika menyebut nama gadis tersebut, gadis kutu buku namun berparas cantik yang sudah lama mencuri hatinya. Ya, Wooseok menyukai Vanny, secara diam-diam, tentu saja.

“Mencari buku untuk bahan makalah, Seok-a. Kau sendiri?”

“Menghindari teman-temanku yang jahil,” sahut Wooseok. “Seharian ini mereka mengerjaiku habis-habisan. Menyuruhku melakukan ini-itu sampai-sampai badanku terasa remuk.”

Vanny tertawa, disusul Wooseok yang tak mampu menahan diri agar tak ikut tertular.

“O, omong-omong … sepertinya aku membutuhkan bantunmu, Seok.”

“Bantuan?”

Vanny mengangguk. “Ada beberapa buku yang menarik perhatianku, tapi letaknya terlalu tinggi dan—“

“Dan kau memintaku untuk mengambilnya?”

Kali ini Vanny mengangguk senang.

Ada desah pasrah yang menguar dari bibir Wooseok. Ternyata semuanya sama saja. Tidak teman-temannya, tidak pula gadis yang tengah menjadi incarannya. Mentang-mentang Wooseok bertubuh tinggi, jadi segala sesuatu yang berhubungan dengan ketinggian pun dilimpahkan padanya. Well, mau bagaimana lagi? Wooseok tak mungkin menolak. Ia tak bisa mengabaikan Vanny yang kini terang-terangan meminta pertolongan padanya.

Lupakan saja soal tidur siang yang kiranya bisa membuat tubuh Wooseok kembali segar, kini saatnya untuk menjadi pahlawan bagi sang gadis idaman. Ya, siapa suruh memiliki tubuh tinggi bak galah tak terkalahkan, alhasil Wooseok kerap menjadi alat yang digunakan demi menggapai benda-benda yang berada di ketinggian.

.

.

.

-FIN.

HAPPY BIRTHDAY JUNG WOOSEOK, WE LOVE YOU! ❤

Advertisements

Author: megaton-bomb

Call Me Ay | A-Blood Type | Forever Maknae | Purple Addict.

1 thought on “[Ficlet-Mix] Tall People Problem”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s