[Ficlet] Bedtime Story

moodkinobedtime

BEDTIME STORY

.

Slice-of-life, Friendship, Fluff || Ficlet || Teen

.

Starring
Pentagon’s Kino, thehunlulu’s OC Ginny Kwon

.

“Kalau menurutku, sih, si kucing punya rasa yang sama dengan si anjing.”

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

Specially made as a birthday present for thehunlulu. Happy birthday, dear 🙂

.

I only own the plot

.

Big thanks to Dyvictory for the moodboard

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Tampaknya dewi langit sangat sedih dan belum mau berhenti menangis, itu sebabnya sejak tadi hujan deras tak kunjung mereda. Demikian kesimpulan Kino. Lelaki itu menyesap teh hangatnya, kemudian memperbaiki letak kacamata dan kembali tenggelam dalam buku biologinya.

Hal yang paling enak dilakukan saat hujan deras seperti malam ini adalah tidur. Berbaring di atas kasur yang empuk dan menghilang dibalik selimut hangat. Memejamkan mata, menunggu kantuk menjemput dan berharap akan sinar mentari esok.

Kalau bukan karena ulangan biologi yang menanti esok hari, sudah dari tadi Kino akan merebahkan diri di tempat tidur. Meringkuk di balik selimut dan membiarkan raga terbang ke alam mimpi.

JEDEEEEERRRR!!

Petir kembali menggelegar untuk ke empat kalinya. Untuk sepersekian detik Kino memang terkejut, namun selanjutnya khayalannya kembali bekerja.

“Apakah dewi langit sedang bertengkar dengan sang dewa?” gumamnya dalam hati. “Apakah sang dewa benar-benar marah hingga menimbulkan guntur berulang kali? Apa yang mereka ributkan? Dewi langit yang selingkuh? Putra mereka yang sukar diatur?”

Suara dentingan bel apartemennya membuyarkan imajinasi pemuda bermarga Kang tersebut akan pertengkaran dewa dan dewi langit. Ia pun bangkit dari kursinya dan berjalan menuju pintu depan.

“Siapa?” tanyanya melalui interkom. Tak ada jawaban.

Begitu Kino membuka pintu, terlihatlah seorang gadis berambut hitam sebahu sedang menatapnya sayu sambil memeluk erat sebuah bantal putih. Gadis itu mengenakan piyama dengan gambar panda serta alas kaki berupa sendal berbentuk koala.

Gadis itu tak lain dan tak bukan adalah tetangga seberang apartemen sekaligus sahabat sejak kecilnya, Ginny Kwon.

Gadis yang lebih memilih untuk pergi ke Seoul dan tinggal sendirian di apartemen dibandingkan menetap bersama orang tuanya hanya demi menyusul Kino. Karena gadis itu tidak dapat hidup tanpa Kino.

Baiklah, abaikan kalimat terakhir karena itu berlebihan. Sahabat kecilnya tidak pernah berkata seperti itu pada Kino, tapi bolehkan ia berandai-andai?

“Ada apa?” Itu kalimat yang pertama keluar dari mulut Kino setelah tujuh detik diisi dengan keheningan, hanya menatap satu sama lain.

Ginny mengucek mata kanannya. “Hujan deras. Petir. Aku tidak bisa tidur,” sahut gadis itu. “Aku mau tidur di kamarmu,” tambahnya lagi.

Kalau gadis yang berkata seperti itu adalah gadis yang tak ia kenal, mungkin Kino akan terkejut setengah mati. Gadis gila macam apa yang membiarkan dirinya tidur begitu saja di kamar seorang laki-laki?

Tapi ini adalah Ginny Kwon, temannya sejak kanak-kanak, orang yang bahkan sudah pernah mandi bersama dengannya saat umur lima tahun.

Kino menyunggingkan senyum tipis. Rupanya gadis itu belum berubah, masih takut akan petir. “Masuklah,” ujarnya sambil merapatkan diri ke dinding, membuat jalan bagi gadis berpiyama itu.

Sementara Ginny berjalan ke kamar Kino dengan tetap memeluk erat bantalnya, Kino pergi ke dapur sejenak, hendak membuat minuman hangat. Kino tahu sahabatnya penggemar cokelat, dan hari hujan seperti ini akan sangat cocok bila ditemani secangkir cokelat panas.

Begitu Kino kembali ke kamar, ia menemukan Ginny sedang duduk di tempat tidur dengan selimut menutup lutut hingga jari kakinya.

“Nah, minum dulu.” Kino menyodorkan cangkir cokelat panas. “Kau suka cokelat, kan?”

Gadis itu menyesap cokelat panas, menghirup aromanya, kemudian menatap Kino lembut. “Gomawo,” balasnya tak lupa disertai senyum manis.

Kino mengangguk. “Kau tidur saja dulu. Aku masih harus belajar untuk ulangan biologi besok.”

Setidaknya Kino sempat menghafalkan jenis-jenis imunoglobin beserta penjelasannya, sebelum gadis bermarga Kwon itu kembali memanggil namanya. Suaranya memang pelan, tetapi cukup untuk mengganggu konsentrasi belajarnya.

“Ada apa?” tanya Kino akhirnya. Ia membalik arah duduknya sehingga bisa menghadap Ginny.

“Sini.” Ginny menepuk bagian kasur yang kosong di sampingnya. “Temani aku tidur.”

“Ini, kan, sudah aku temani,” balas Kino.

Ginny menggelengkan kepala. “Tetap saja aku belum bisa tidur. Lagipula ini sudah malam, kau butuh istirahat. Percuma belajar hingga larut malam, tidak akan masuk ke otak.”

Seperti yang sudah terjadi selama mereka saling mengenal selama tiga belas tahun, Kino tidak pernah bisa menolak permintaan Ginny. Meski dengan memutar bola matanya dan dengusan yang keluar dari mulutnya, pada akhirnya Kino menghampiri tempat tidur dan berbaring di samping Ginny. “Puas?” ucapnya.

Belum cukup, Ginny menatap Kino manja. “Bacakan cerita … ” pintanya.

Kino mendelik. “Eh? Macam anak kecil saja.”

“Biar. Soalnya aku masih belum bisa tidur,” balas Ginny.

Kino menghela napas. Lagi-lagi ia tidak bisa menolak permintaan gadis itu. “Aku tidak punya buku cerita. Kuceritakan karanganku saja, ya.”

“Hmm.”

Kino membasahi bibir bawahnya, seraya otaknya menggali kotak imajinasinya. Sementara Ginny menatapnya dengan penasaran.

“Ada seekor kucing. Bulunya putih, bersih. Matanya biru. Manis sekali. Selain itu ada seekor anjing. Bulunya abu-abu, sangat terawat. Tidak seperti kucing dan anjing lainnya, mereka hidup akur. Ya, memang ada saatnya mereka ribut untuk hal-hal kecil, seperti memperebutkan daging ayam, tapi setelah itu mereka kembali rukun.”

“Suatu hari sang kucing mendatangi rumah si anjing, minta izin untuk tinggal di sana sementara waktu, sebab rumahnya kebanjiran. Sebenarnya si anjing tidak mau berbagi rumah, tetapi karena tidak tega akhirnya ia mengizinkan sang kucing tinggal bersama.”

“Awalnya sang anjing mendapati si kucing cukup merepotkan dan menyebalkan. Bayangkan saja, makanan yang telah susah-susah dikumpulkan si anjing selama musim panas dimakan begitu saja oleh si kucing. Belum lagi si kucing suka bermalas-malasan sementara sang anjing membereskan rumah.”

“Tapi, lama-kelamaan, perasaan sebalnya pada sang kucing mulai berubah. Perasaan jengkel itu mulai digantikan dengan perasaan yang lain.”

“Nampaknya sang anjing mulai menyukai si kucing.”

Setelah mendengarkan cerita Kino dengan sungguh-sungguh, kantuk mulai menghampiri Ginny, membuatnya menguap. “Setelah itu?” tanya Ginny di sela-sela menguap.

“Sayangnya, sang anjing tidak berani menyatakan perasaannya pada si kucing karena ia tidak tahu apakah si kucing menyukainya juga atau tidak,” lanjut Kino dengan senyum. Maniknya menatap Ginny lembut.

Ginny menarik selimutnya sampai ke dagu. “Kalau menurutku, sih, si kucing juga menyukai si anjing.”

“Belum pasti juga,” sahut Kino sambil menyelipkan sehelai anak rambut di belakang telinga sahabatnya. “Sudah, tidur saja dulu. Nanti kalau si kucing sudah menceritakan kepadaku bagaimana perasaannya terhadap si anjing, baru ceritanya kulanjutkan, ya.”

Ginny mengangguk patuh. “Hmm ….” Ia pun memejamkan matanya.

Kino mengelus-elus kelopak mata Ginny, memastikan gadis itu sudah terbang ke alam mimpi. Pandangannya tertumbuk pada pipi gadis itu yang agak tembam, kemudian beralih pada ranum merahnya.

Setelah melihat irama napas gadis itu yang benar-benar tenang, sudut-sudut bibir Kino terangkat. Perlahan didekatkannya wajahnya pada wajah Ginny.

Cup!

Ditempelkannya bibirnya pada pipi kemerahan gadis itu. Dan kembali Kino tersenyum.

“Selamat malam, Ginny Kwon,” bisiknya. “Semoga kau mimpi indah.”

-fin-

Advertisements

Author: Gxchoxpie

Writer | Dreamer | Life-time learner

8 thoughts on “[Ficlet] Bedtime Story”

  1. firstly, WAH DONNA ULTAH JUGA TOH? BUKANNYA KELUAR DARI CIKI LIMARATUSAN? /digiles

    ACIAAAA INI MANIS AAAAAKKKK MENCERITAKAN KISAH SENDIRI TANPA MENGUNDANG CURIGA PFFT dasarnya si ginny aja yg tida pekaan kan kasihan kino harus curi curi ciuman haha wislah ini manis sekaleeee kyaaaa, cepet dijadiin sana entar ketikung /eh 😂

    Liked by 1 person

  2. terus aku telat banget komennya huhuhu TT^TT

    pertamaaaa, makasih buanyaaak banyak banyak bangett ngett sama kekcee karena memberikan sebuah kado terindah(?) buat don hihihihi lafflafff ❤ aku nggak nyangka ternyata Kino x Ginny bisa balik lagi bikos yg punya sudah resign /lalu digampar/

    dan….yassshhhhh, ceritanya sweet sekaliihh mom, dikau mengeksekusinya dari awal sampe akhir menimbulkan berbagai pertanyaan di dalam benak seperti "wah ini dari judulnya kayaknya bakal ada salah satu yang ndongeng nih.." atau "wah ginny masuk ke kamar kino mau ngapain nih.." bahkan ada lagi, "plis kino gausah pake ngode2 lewat dongeng begituan kalo nyatanya kamu emg sayang sama ginny." /plak

    ENDINGNYA NGYAHAHAHAHAHAHAHA WHAI MAU NGGELINDING AJA YA SIYALAN TIDAK BISA DIBIARKAN ITU KINO BOCAH BARU NETES UDAH BERANI CIUM2 CEWE SEGALA HAAAA /lalu digiles/

    keep writing kakcee!! semangat nulis walaupun mumet karena persiapan UN hihihi ❤ ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s