[FICLET] Congratulation

S__3792902

Congratulation

Wooseok x May

General Angst

.

.

“Secepat itu hati manusia bisa berubah.”

Muak mungkin satu kata yang dapat mewakili perasaan Wooseok seutuhnya. Bagaimana tidak, sosok yang dahulunya pernah mengisi sebagian dari diri Wooseok menghilang tanpa meninggalkan kata pun kesan yang baik. Sering berkaca pada diri, Wooseok merasa tidak pernah memperlakukan May semena pun yang tidak baik lainnya. Jika bisa dikategorikan, mungkin Wooseok adalah tipikal lelaki dengan level kebaikan yang tinggi.

Sudah dua pekan berlalu, namun Wooseok masih enggan untuk bangkit dan melupakan semuanya. Setiap hari dirinya berpikir, mengapa? Bagaimana bisa? Tanpa ada satupun insan yang bisa menjawab. Lamunannya ambyar kala perutnya menginterupsi—sedikit ditemani dengan rasa perih yang membuatnya mau tak mau harus menepi dan mengisi kembali perutnya sebelum hal kronis terjadi. Tanpa pikir panjang, kedai dengan atap kuning di penghujung jalan menjadi tujuan utamanya. Menadahkan bokongnya diatas kursi dengan meja nomor dua, tempat biasa dirinya dan May mengisi perut kosong jika keuangan sedang tidak bisa ditoleransi. Jangan tanya mengapa dirinya memilih untuk duduk di sana atau bagaimana, lebih tepatnya sebagian dari kebiasaan yang masih belum dapat hilang.

“Bibi, seperti biasa, ya.” Wooseok mengoar, tidak terlalu kencang lantaran kedai itu sedang sepi – sepinya.

Bibi Kim menoleh, mendapati sumber suara barusan adalah Wooseok—pelanggan setianya, “Eung? Ramyeon, kimchi, dan juga kimbap? Dua—”

“Tidak,” buru – buru Wooseok menginterupsi, “satu porsi saja.”

Sedikit mengerjitkan alisnya terheran, meski demikian, Bibi Kim tidak ingin bertanya pun tahu.

Tanpa perlu menunggu lama, makanan yang baru dipesannya sudah tersaji di atas meja masih dengan asap yang mengepul dan aroma yang membuat air liurpun tak sanggup lagi tertahan. Dengan sekejap Wooseok membaham satu mangkuk ramyeon yang masih panas dan sesekali menyelipkan kimchi ataupun kimbap.

Tengah santapnya membaham ramyeon, suara lonceng pintu menginterupsi. “Ah kau May—” suara Bibi Kim memenuhi seisi kedai, bahkan merambat hingga ke gendang telinga Wooseok. Sontak saja lelaki yang tengah disibukkan dengan agenda mengisi perut itu tersedak bahkan hampir memuntahkan seisi mulutnya. Meski kejadian tersedak itu tidak berlangsung lama, Wooseok sejemang terdiam bahkan hingga meletakkan alat makannya. Sedikitpun lelaki itu enggan berbalik.

“Bibi seperti biasa, ya.” Suara seorang gadis yang  amat lembut menyambut keheningan. Sedikit menyisakan rasa sakit yang tidak dapat dijelaskan dalam asa.

Ah, dia masih suka makan hal yang sama.” Gumam Wooseok seraya memalingkan wajah ke arah jendela. Dirinya menghela napas lega kala May masih menyukai hal yang sama.

“Dua porsi ya, bi.”

Hah? Dua?” Atensi Wooseok sedikit tertarik lantaran May memesan sebanyak dua porsi untuk dirinya sendiri. ”Ah mungkin dia bersama temannya, wajar saja. Wajar.” Gumamnya kembali.

Wooseok sedikit kesal dengan posisinya yang membelakangi May saat ini. Dirinya tidak bisa berbohong kala hatinya kini tengah berdegup amat kencangnya, dirinya merindukan sosok May yang dua pekan ini sudah membuatnya sedikit tidak karuan. Wooseok rindu segalanya perihal May, surai hitamnya yang panjang, poninya yang tipis, lesung pipinya, segala hal kecil yang ada pada diri May. Sedikit gugup, Wooseok mendengar langkah kaki yang mengarah kepadanya. Berulang kali dirinya memantapkan hati, sedikitpun dirinya enggan menoleh pun perduli.

Meski detik berikutnya maniknya bersirobok dengan May.

Sorot mata May tidak pernah berubah, selalu menggambarkan kebahagiaan. Meski genggaman tangan May dengan seorang lelaki tak luput pula dari atensi manik Wooseok, amat erat hingga rasa gugup yang tadi singgah dalam asa Wooseok sejemang menghilang.

Tidak banyak berkomentar, Wooseok menepis senyum bahagia yang sempat singgah sepersekian detik. Maniknya fokus menangkap senyum bahagia dan genggaman tangan May dengan seorang lelaki yang—menurutnya tak kalah tampan dengannya. “Hei, May.” Memberanikan diri, Wooseok menyapa terlebih dahulu.

May menoleh, mendapati si sumber suara adalah kekasihnya—dua pekan lalu. “Eum, Hei Wooseok,” sedikit gugup May menjawab.

“Kekasih baru?” Ucap Wooseok sedikit jengkel.

May hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.

“Oke, selamat,” sedikit mengembangkan senyuman, Wooseok mengulurkan tangannya yang lantas disabut jabatan tangan oleh May.

Tersenyum, Wooseok bersua,

.

.

.

“Secepat itu hati manusia bisa berubah.”

Fin.

 

Note:

  • Ada yang kangen jihyeon tidak? Tidak ya? Oke.
  • Jadi gada yang kangen? Oke(2)
  • Btw ini ji lagi kesambet apa yah tiba – tiba back ke genre awal(?) yang ji tekuni.
  • BTW LAGI INI ENAK DIDENGER PAKE LAGUNYA DAY6 YANG CONGRATULATION BHAQQQQQS
  • ITU POSTERNYA LAGI KEKINIAN BANGET LOH GAES.
Advertisements

Author: jihyeonjee98

Ji Hyeon | 98L | Seokjin biased.

1 thought on “[FICLET] Congratulation”

  1. KakJi KakJi itu bukannya poster yg kemaren dikirim ya? terus KakJi sejak kapan banting stir (?) tiba2 saya mencium ada yg tidak beres disini (?)
    Terus itu Wooseok….. why dia ternistakann why… udah Wooseok sini jalan sama aku aja, biar si May juga tau kamu punya pacar BHAQ

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s